Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Benny DolloSeteguk air putih tak cukup membasahi kerongkongan Benny Dolo. Dia kembali mengangkat gelas dan menenggak seluruh isinya. Dia tersenyum, meski senyumnya itu sedikit tertahan. Arsitek tim nasional tersebut terlihat lega ketika tak ada lagi wartawan yang mengajukan pertanyaan.

Benny Dolo–lahir dengan nama Benny Selvianus Dolo di Manado, Sulawesi Utara, 22 September 1950–boleh lega untuk sementara lantaran tak ada lagi pertanyaan untuknya. Apa pun yang terjadi, dia masih dan akan menjadi “target operasi” pers.

Tim nasional boleh melibas Burma di hari pertama AFF Suzuki Cup 2008 pada Jumat malam lalu. Tim nasional boleh saja di atas kertas mampu menyikat Kamboja pada partai kedua di Stadion Gelora Bung Karno malam ini. Tapi kemenangan, juga kekalahan, tim nasional tak bisa lepas dari kinerjanya. Dia tak hanya otak, tapi juga orang yang bertanggung jawab atas sukses, juga terpuruknya, tim nasional.

Dalam acara jumpa pers beberapa hari menjelang pertarungan Indonesia melawan Burma, 24 November lalu, Benny tidak mampu menuntaskan pertanyaan Ian Siregar, rekan dari Pos Kota. Ian bertanya kepada Benny apa yang dia janjikan untuk negeri ini. Alih-alih menjawab, Benny malah balik bertanya. “Saya tidak janji apa-apa, tapi kalau Anda tanya saya ingin apa, saya ingin juara,” kata Benny. Kemudian tak ada lagi pertanyaan. Benny mengangkat gelas dan menenggak sedikit isinya. Dia membasahi kerongkongannya sebelum menuntaskan seluruh isi gelas.

Saya tidak mengenal Benny secara dekat. Kata orang, dia keras, meledak-ledak, dan temperamental. Gaya melatihnya keras. Tidak pandang bulu. Dia menetapkan standar disiplin yang tinggi terhadap semua anak didiknya. Dia tidak ingin melihat pasukannya main-main, tapi harus serius dalam berlatih. Ada pula yang mengatakan Benny agak arogan. Tapi saya tidak setuju karena arogansi seorang Benny Dolo sangat dibutuhkan ketika dia menghadapi pemain-pemain kita, yang tipikalnya berbeda-beda.

Benny–juga disebut Bendol–mengawali karier kepelatihan di UMS 80 pada 1984 sebelum menukangi UMS Amatir. Setelah itu, lelaki bertubuh gempal ini diboyong Rahim Soekasah ke Pelita Jaya. Dari sini nama Benny mulai moncer. Kemudian dia melatih Persita Tangerang, Persma Manado Manado, balik lagi ke Tangerang, kemudian ke Malang (dua kali membawa Arema juara Copa musim 2005/2006 dan 2006/2007). Sebelum kembali menukangi tim nasional, Bendol sempat singgah ke Persita, “rumah” lamanya di Tangerang.

Benny Dolo sudah menjadi sorotan ketika digadang-gadang menggantikan Ivan Venkov Kolev. Dia membetot perhatian, juga mengundang polemik, karena Rahmad Darmawan, pelatih Sriwijaya FC, dinilai juga pantas menduduki kursi pelatih tim nasional. Spekulasi pun bermunculan. Benny atau Rahmadkah yang menjadi arsitek tim nasional?

Tanda-tanda Benny yang bakal terpilih terlihat ketika dia “terpilih” menukangi tim nasional yang beruji coba dengan Borussia Dortmund di Stadion Gelora Bung Karno pada 19 Desember tahun lalu. Dari sini, Rahmad sudah merasakan dirinya tak akan terpilih dan “merelakan” kursi panas itu diduduki Benny Dolo, seniornya. Sebelumnya, Benny Dolo pernah menjadi asisten pelatih Ivan Toplak ke SEA Games Singapura 1993 dan pelatih kepala SEA Games 2001 serta Pra-Piala Dunia 2002.

Kini Benny Dolo kembali menjadi orang nomor satu dalam tim nasional. Ini merupakan tikungan terakhir perjalanan lelaki yang suka berteriak keras di lapangan itu. Dia tak perlu menunggu ada wartawan yang bertanya. Dia harus menjawab kecemasan banyak orang terhadap tim nasional, kecemasan yang persis dia ungkapkan ketika Ivan Kolev menghadapi Piala Asia 2007.

Bung Benny, tim nasional boleh menyikat Burma, melibas Kamboja, juga melumat Singapura (pada pertandingan terakhir Rabu nanti), tapi bukan ini yang kami minta. Tim nasional harus juara AFF Cup 2008. Jika tidak, Tuan Benny Dolo, beranikah Anda menyatakan mundur sebelum ada yang memaksa dan menurunkan Anda?

(Koran Tempo, Minggu, 7 Desember 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)