Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

sean-gelael2Gerimis yang membasahi Desa Bukit Raya di Penajam Paser Utara, kota kabupaten di Kalimantan Timur, yang berdekatan dengan Selat Makassar, tak menghalangi Ricardo Gelael untuk menemui Sean Gelael, anaknya. Dia mempercepat langkah dengan berlari kecil dan seketika mendekap Sean dalam pelukannya. Ricardo mencium kedua pipi anaknya itu dan terlihat dia menahan air mata.

Ricardo seolah tak terpisahkan dengan Sean. Ricardo sangat menyayangi Sean dan kedekatan keduanya tak terhalangi. Hubungan bapak-anak itu terjalin begitu harmonis, sejuk, dan tak setetes gerimis pun mampu menghalangi pertemuan mereka. “Dia begitu membanggakan,” kata Ricardo.

Pertengahan November lalu, saya berada dekat dengan Ricardo, juga Sean, ketika keduanya menyelesaikan seri terakhir Reli Indonesia 2008 di tanah Kalimantan. Ricardo bisa jadi bangga karena Sean–setelah mengarungi lomba sepanjang 419,22 kilometer–dipastikan meraih gelar juara navigator 2008. Prestasi yang diraih anak berusia 12 tahun–Sean lahir dengan nama Muhamad Sean Ricardo, di Jakarta, 1 November 1996.

Dari sini, pada musim lomba 2009 mendatang, Ricardo sudah membuat berbagai rancangan untuk Sean. Rancangan, yang tentu saja, mengharuskan Sean berlomba dan meraih prestasi tak sekadar gelar navigator terbaik. Sean akan didampingi Bill Hayess dan Tony Sircombe, juara dunia navigator 2006. Bill akan menjadi manajer dan Tony sebagai penasihat teknis. Sedangkan Cody Crocker, juara Asia Pasifik 2006, 2007, dan 2008, yang berada di balik kemudi di sebelah Sean di Reli Kalimantan itu, akan kembali mendampingi Sean dalam dua seri.

“Dia harus meraih sesuatu yang dia raih tidak dengan terlalu mudah,” kata Ricardo ketika kami menghabiskan makan malam di Blue Sky, restoran di Balikpapan.

Jauh sebelum meraih gelar itu, saya sempat merasa cemas ketika Ricardo memperkenalkan Sean dan akan “menceburkan” anak lelakinya itu ke dunia reli, dunia yang keras, kejam, dan emosional. Ricardo, menurut saya, telah tega “merampas” masa kanak-kanak Sean, yang masih ingin bermain dengan teman-teman sebayanya. Saya menduga Ricardo hanya menuntaskan ambisi kepada anaknya. Tapi Kadok–begitu Ricardo biasa disebut–menjamin kecemasan yang saya ungkap bahwa Sean, anaknya tercinta, masih bisa menikmati masa-masa indahnya.

Hubungan bapak-anak dan ambisi orang tua itu pernah saya lihat dan rasakan ketika singgah ke rumah Tinton Soeprapto di kawasan Pulo Mas pada 1985. Tinton menggadang-gadang Ananda Mikola, anaknya, yang waktu itu baru berusia 5 tahun, kelak menjadi pembalap ternama. Mikola di belakang nama Ananda diadopsi dari nama pereli veteran dan mantan juara dunia, Hannu Mikola. Tinton sangat terkesan dengan pereli Finlandia itu sehingga menamakan putranya dengan Ananda Mikola.

Ananda Mikola Soeprapto–lahir di Jakarta, 27 April 1980–pertama kali mengikuti lomba balap pada 1993 ketika usianya baru 13 tahun. Selanjutnya, saya tidak melihat langsung proses Nanda, begitu Ananda biasa disapa, tumbuh dan besar menjadi pembalap. Saya hanya melihat dari kejauhan bahwa Tinton, ayahnya, sangat berperan dengan membesarkan Ananda di dunia olahraga otomotif.

Kini Ananda sudah besar. Dia sudah meraih semua yang ingin dia raih. Gelar juara, uang, juga wanita di sekelilingnya. Dia tak hanya dikenal sebagai pembalap ternama, tapi juga sudah bisa disebut selebritas karena sudah “mencampakkan” diri ke sana. Di mana-mana Nanda tampil keren, wangi, dan sebenarnya saya begitu muak mendengar hari-hari buruk anak kesayangan Mas Tinton itu pada akhir-akhir ini.

Malam ini, di Bug’s Cafe di Jalan Metro Pondok Indah, Pondok Golf, Sean Ricardo menjadi salah satu pereli yang akan menerima penghargaan. Sean–buah hati Ricardo dan Rini S. Bono–akan dinobatkan sebagai navigator terbaik 2008, penghargaan yang dia raih dalam suasana yang berbunga-bunga. Tidak seperti ketika saat ini Ananda menerima “penghargaan” yang diberikan dengan berbagai hujatan.

Saya tak akan melupakan Ricardo jika harus menyebut Tinton sebagai orang hebat. Mas Tinton, begitu saya memanggil Tinton–lahir di Blitar, 21 Mei 1945–telah membuka pintu dunia balap Indonesia di Sirkuit Ancol pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Dia juga ikut berperan dalam pembangunan Sirkuit Sentul (diresmikan pada 22 Agustus 1993 oleh Presiden Soeharto). Tinton juga ikut mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Bersama Richard Hendarmo dan Dali Sofari, Tinton ikut reli Paris Dakar pada 1989.

Tapi, kini, Tinton, orang hebat itu, sudah menjadi “pecundang”.

(Koran Tempo, Minggu, 14 Desember 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)