Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

joko-driyono2

Malam sudah menjemput. Obrolan seputar sepak bola itu semakin hangat. Joko Driyono terlihat belum ingin beranjak dari kursinya. Alih-alih pulang lebih cepat, Direktur Kompetisi Badan Liga Indonesia tersebut tetap bertahan dalam diskusi kecil itu. Padahal malam sudah menjemput.

Akhir-akhir ini saya terlalu sering bertemu dengan Joko. Jodri–begitu dia disebut–sangat menyenangkan dan familiar, apalagi jika diajak ngomong soal sepak bola. Menjelang malam pertengahan Desember lalu, saya sengaja bertemu dengan lelaki yang berpenampilan sederhana itu di Peacock Hotel Sultan (dulu Hilton). Kami ngobrol dan Joko tidak memperlihatkan keletihan pada wajahnya. Saya khawatir dia mulai bosan. Tapi, katanya, “Saya tidak akan pernah berhenti bicara sepak bola. Saya punya impian-impian yang harus saya wujudkan.”

Joko tidak sedang bermimpi. Dia juga tidak dalam tidur. Dia terjaga dan sedang merajut obsesi: ingin sepak bola sudah menjadi industri di negeri ini pada 2018 atau 10 tahun lagi. Darah seperti cepat mengalir ke seluruh tubuhnya ketika saya katakan bahwa itu terlalu lama. Joko pun mulai menghitung. Pada 2009, katanya, adalah era baru bahwa sepak bola tak lagi memiliki beban psikologis. Ini artinya tidak ada lagi toleransi bagi klub-klub yang ingin benar-benar hidup profesional.

Pada 2012, kata Joko, anatomi semua klub akan diperbaiki. Perbaikan ini, tentu saja, bertalian dengan regulasi yang harus dipatuhi. Kemudian Joko melompat pada 2018. Pada tahun itu, katanya, sudah tercipta peluang bagi 30-40 persen klub yang mengalami keuntungan. “Ini baru menciptakan peluang karena sepak bola menjadi industri risikonya tidak untung,” kata Joko.

Oke, Mas Joko, semudah itukah seperti membalik telapak tangan? Bukankah sepak bola kita masih amburadul. Jadwal kompetisi yang masih saja bisa berubah-ubah, perkelahian antarpemain mudah meledak di mana-mana, suporter gampang marah dan merusak, banyak klub yang masih saja menjadikan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah sebagai satu-satunya sumber, pengelola yang menjadikan sepak bola sebagai kendaraan politik, serta tim nasional yang belum juga bisa memuaskan banyak orang.

Rabu lalu, saya kembali bertemu dengan Joko. Saya katakan bicara sepak bola (nasional)–dari mana pun pembicaraan dimulai–adalah masalah dan masalah itu bisa “terselesaikan” jika melihat wajah orang bernama Joko Driyono. Dia tersenyum.

Joko, yang akhir-akhir ini sering saya temui itu, seperti tempat curahan hati para pelaku sepak bola, juga wartawan. Dia menjawab pertanyaan dengan mudah dan seperti tidak ada masalah di sepak bola kita. Suaranya halus. Kalimatnya tertata rapi. Jika merasa tidak nyaman, seketika dia membelokkan omongan. Dia sedikit ngelantur, tapi masih dalam koridor sepak bola. “Kita hantam Oman 5-0 dan kita gebuk Australia 3-0 di sini,” katanya. Dia tersenyum dan kembali pada topik pembicaraan semula. Oman dan Australia adalah calon lawan tim nasional di kualifikasi Piala Asia 2011.

Siapakah Joko dan seberapa pentingkah dia dalam sepak bola kita? Joko lahir di Ngawi–dia tak menyebut tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya–kota kabupaten di Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro di utara.

Tidak banyak yang tahu persis di mana letak Ngawi. Dia lahir di sana dan mengenal sepak bola di tanah kelahirannya itu. Joko pernah memperkuat tim Suratin Ngawi, main bola ketika kuliah di Institut Teknologi Surabaya, pernah main di Putra Gelora, dan nyaris masuk Arseto Solo. Kemudian dia sekolah komputer di Jerman sebelum menjadi orang penting di Krakatau Steel, Cilegon.

Di Krakatau, urusannya juga komputer, bukan sepak bola. Pada 2000, ketika Pelita Jaya meninggalkan Solo dan bergabung dengan tim Krakatau Steel, darah sepak bola Joko kembali mengalir. “Saya melihat ada perputaran uang yang begitu besar dan sepak bola tidak bisa dikelola sambilan.”

Ngawi tak hanya melahirkan budayawan Umar Kayam (almarhum), peragawati Ratih Sanggarwati, dan komedian Kirun, tapi juga Joko. Dia kini sudah menjadi orang penting dalam sepak bola kita, yang bisa diajak ngobrol sepak bola kapan pun dan siap kehilangan–terutama waktunya–sebelum obsesinya terwujud 10 tahun mendatang.

(Koran Tempo, Minggu, 28 Desember 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)