Tag

, , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

nurdinhalid-s1
Ternyata Nurdin Halid belum juga bisa tidur nyenyak ketika tidak lagi berada di penjara. Ada yang menduga dia merasa ada yang mengganggu, sedang marah, dan pantas kecewa. Suasana hati itu terlihat dalam pesan pendek yang dia kirim kepada seorang teman. Dia seperti tidak nyaman.

Saya tidak mungkin membendung Nurdin jika harus marah dan kecewa. Dia boleh tidak suka kepada wartawan, yang menulis keburukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, organisasi sepak bola tertinggi yang lama dia tinggalkan (pada 27 November 2008 dia bebas bersyarat setelah mendekam di Rumah Tahanan Salemba untuk yang kedua kalinya sejak 18 September 2007). Dia boleh protes dan mempertanyakan kualitas wartawan yang dia tuding itu tidak lagi bisa diajak “berteman”.

Semua boleh dilakukan NH, demikian Nurdin disebut. Sepak bola nasional (PSSI tentunya) adalah Nurdin Halid. Nurdin Halid adalah sepak bola nasional. Keduanya bertalian dan dia tidak bisa melepaskan diri jika memang tidak ada lagi yang pantas menjadi Ketua Umum PSSI selain dia. Dan apa yang dia lakukan—sempat-sempatnya mengirim pesan pendek—sungguh pekerjaan yang tidak bisa saya pahami. Bukankah lebih baik dia mengurai benang kusut di tubuh organisasi yang dia pimpin ketimbang mengurus secuil berita, yang pasti ditulis berdasarkan fakta itu?

Benang kusut itu memang harus diurai Nurdin. Besok dia harus keluar rumah dan berkantor kembali. Dia boleh membeberkan impian-impiannya. Dia boleh mengatakan tim nasional kita—setelah sepuluh tahun mendatang—tampil di Piala Dunia dan Olimpiade. Nurdin bebas mengatakan apa saja jika memang masih merasa sebagai orang nomor satu di PSSI.

***
Menyambut 2009, banyak media infotainment menanyakan resolusi kepada setiap artis, pemain sinetron, juga pemusik. Jawabannya standar dan rata-rata mereka ingin lebih baik pada tahun kerbau ini: banyak job manggung atau main sinetron.

Sejatinya, orang-orang bola juga punya pencapaian yang harus diraih. Mereka tidak boleh diam. Jika bola nasional—ini selalu saya katakan—tak lepas dari masalah, mari kita urai dan selesaikan masalah itu. Jika masalah itu terletak dalam kompetisi, mari kita ciptakan kompetisi yang sehat, bersih, tidak bertele-tele. Kompetisi yang benar-benar bisa diterima dan tidak membingungkan.

Sulit? Tentu kita harus berani mengatakan tidak. Kompetisi yang sehat bisa berjalan jika para pengelolanya tidak pergi jauh-jauh dari jadwal yang dikeluarkan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan induk organisasi sepak bola Asia Tenggara (AFF). Kompetisi yang sehat bisa berjalan jika pengelolanya tidak menerima tekanan dari siapa pun.

Kompetisi yang sehat tentu saja akan berdampak pada perjalanan tim nasional. Jangan lantaran tim nasional dinilai jeblok di AFF Suzuki Cup 2008, Benny Dolo seperti punya “kuasa” menunda jadwal kompetisi yang sudah disepakati. Untuk memenuhi keinginan dan mencari kambing hitam, menekan orang lain semudah mengembuskan asap rokok. Ini jelas tidak benar. Benny boleh mendapat dukungan Nurdin Halid, namun dalam mengelola tim nasional dia tak hanya punya program, tapi juga mampu mendeteksi berbagai kesulitan sejak dini.

2009 sudah bergulir. Mari kita berbenah. Jangan lagi kita saling menyalahkan. Suasana yang sejuk harus tercipta dalam iklim sepak bola kita. Sepak bola harus dicintai. Sepak bola tidak boleh dikhianati dan bukan tempat pelampiasan amarah. Masalah-masalah yang ada harus dibenahi. Benang kusut yang terlihat harus segera diurai.

Saya, juga teman-teman, termasuk teman yang dikirimi pesan pendek oleh Nurdin Halid, hanya bisa mengingatkan. Jangan jadikan 2009 sebagai tahun sepak bola kerbau, tahun sepak bola yang membuat kita semakin dungu.

(Koran Tempo, Minggu, 4 Januari 2009, Ilustrasi Gaus Surahman)