Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Nagabonar tidak sedang bermimpi. Dia juga tidak sedang mengajak orang untuk bermimpi. Dia, Nagabonar (Nagabonar Jadi 2), hanya berkehendak sebuah lapangan sepak bola ketika anaknya, Bonaga, berencana membangun proyek besar. Selebihnya, Nagabonar lebih banyak bicara dengan hatinya.

Saya, terus terang, terpaksa kembali membolak-balik kisah Nagabonar Jadi 2 itu ketika ada yang bermimpi Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, jika kesempatan pertama meleset.

Saya tidak akan ikut mengolok-olok gagasan ini, apalagi menjadi orang yang sangat pesimistis. Keputusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia mendaftar menjadi salah satu kandidat host pesta sepak bola dunia itu adalah keputusan cemerlang.
Ini bukan main-main, tindakan yang sangat berani, dan terdengar cerdas.

Indonesia akan tampil di Piala Dunia? Saya juga tidak akan bertanya siapa yang mencetuskan ide ini. Yang ada dalam otak saya saat ini adalah sejenak ikut bermimpi ke masa depan. Saya membayangkan Stadion Jakabaring di Palembang akan menjadi tuan rumah grup “neraka” yang ditempati Jerman, Belanda, Inggris, dan Brasil. Saya akan mengajak anak-anak saya pergi ke sana.

Saya juga membayangkan Stadion Jalak Harupat menjadi tempat grup lemah yang diisi Laos (Asia Tenggara), Kenya (Afrika Timur), Guatemala (Amerika Tengah), dan San Marino (Eropa). Ah, semua mungkin saja terjadi. Bukankah ada yang berani bilang mungkin saja Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia nanti?

Lantas, di mana tim nasional Indonesia bertanding? Masuk grup apa? Bersama tim-tim mana saja? Nah, yang ini tentu saja tidak begitu penting. Jauh lebih penting bagaimana kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan memiliki cermin sebanyak-banyaknya. Mulai hari ini, ketika kita sedang mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia, sembilan atau 13 tahun lagi, jangan lupa kita becermin.

Yang pertama kita lakukan adalah bertanya siapa kita sebenarnya. Sudah sehatkah kita sehingga kita harus memberanikan diri menjadi tuan rumah pesta paling akbar di dunia itu? Sudah benarkah mental kita sehingga kita berani mengatakan Indonesia juga pantas tampil di Piala Dunia?

Kita boleh-boleh saja bermimpi dan mengajak orang bermimpi. Juga boleh-boleh saja membuat sepak bola menjadi sebuah ilusi. Tapi, rasanya kita begitu naif ketika kita harus menjadi manusia yang rasional, dipaksa menjadi sangat ilusif. Kita benar-benar sudah menjadikan tahun ini menjadi tahun sepak bola kerbau, yang membuat kita semakin dungu saja. Kita seperti kehilangan arah dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat.

Saya terlalu bodoh untuk memahami keputusan para petinggi PSSI di Senayan sana. Saya sangat tidak percaya keputusan mendaftar menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah keputusan kolektif. Ini datang dari otak satu orang yang hanya ingin menjadikan PSSI sebagai rumahnya. Menjadikan PSSI sebagai komunitas orang baik-baik, yang tentu saja dengan sendirinya dia menjadi orang baik pula.

Oke, boleh saja ini dikatakan cita-cita. Ini boleh saja dikatakan rangkaian pencanangan kebangkitan gerakan sepak bola nasional menuju pentas dunia atau dalam rangka mendorong terciptanya industri sepak bola atau sosialisasi blueprint menyongsong 2020 dengan target sepak bola Indonesia tampil di Olimpiade dan Piala Dunia. Tapi, sekali lagi, beranikah kita mengatakan bahwa kita masih terlalu bodoh tampil di level dunia?

Sungguh sulit saya membayangkan, sekalipun sekadar menerapkan ilusi. Saya bukan tidak setuju Indonesia tampil di Piala Dunia, tapi mari kita benahi mental kita terlebih dulu. Mari kita mulai dari yang kecil-kecil. Sepak bola kita tidak boleh dipolitisasi, tidak boleh dikotori, dan tidak boleh dikhianati. Sepak bola kita harus sehat, bersih, dan tetap dicintai. Bukan sepak bola yang dipenuhi caci maki dan bukan sepak bola yang berada di tangan orang yang tangannya kotor.

Malam ini, jika saya tertidur, saya ingin bermimpi. Bermimpi bersama Nagabonar, yang sangat realistis dan lebih banyak bicara dengan hatinya.

(Koran Tempo, Minggu, 1 Februari 2009)