Tag

, , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Kecemasan Javier Leopoldo Rocha adalah kegelisahan Christian Gerald Alfaro Gonzalez, yang sudah menjadi kegalauan Emile Bertrand Mbamba. Tiga pemain asing itu bisa menjadi tak berdaya ketika sepak bola bukan lagi urusan menang-kalah. Perasaan yang berbeda di dalam hati yang berbeda itu merupakan buah dari kelakuan buruk mereka di dalam sepak bola kita. Mereka memang pantas dihukum.

Rocha, yang pernah disebut si anak hilang oleh Persija Jakarta, tak mampu melawan manajemen Persebaya. Dia diusir dari Surabaya lantaran mangkir latihan. Gelandang berdarah Cile yang pernah membela Persegi Gianyar dan Persitara Jakarta Utara itu juga harus membayar Rp 1,2 miliar, dua kali dari nilai kontraknya dengan Bajul Ijo. Gonzalez, pemain Persik kelahiran Montevideo, Uruguay, harus istirahat satu tahun lantaran terlibat pemukulan terhadap pemain PSMS Medan. Sedangkan Mbamba terpaksa “dipulangkan” ke Kamerun. Pemain Arema Malang itu kedapatan memukul wasit Suprihatin ketika Singo Edan menjamu PKT Bontang di Stadion Kanjuruhan, 13 September lalu. Dia diskors lima tahun.

Saya tidak bisa memahami ketika para pemain asing itu berkelakuan buruk. Mereka merusak romantisme sepak bola kita. Mereka tidak bisa lagi disebut seniman. Mereka sudah mengotori piring sendiri yang dipakai untuk makan. Ya, mereka harus pergi karena mereka telah menginjak-injak indahnya rumput-rumput kita.

Saya teringat ketika Fandi Ahmad harus keluar dari Indonesia. Dia harus meninggalkan NIAC (New International Amusement Centre) Mitra setelah bermain satu musim kompetisi di sana. Padahal dia tidak sedang bermusuhan dengan A. Wenas–pemilik NIAC Mitra–dia tidak terlibat perkelahian, Fandi juga tidak dalam keadaan terhukum. Hubungannya dengan Wenas baik-baik saja. Hubungannya dengan Djoko Malis atau Rudy W. Keltjes begitu mesra. Tapi dia harus meninggalkan sepak bola Indonesia.

Bersama David Lee, rekan senegaranya, Fandi pergi meninggalkan Surabaya dengan hati berkeping-keping. Dia begitu terpukul. Dia tidak kuasa memprotes keputusan kontroversial Syarnubi Said, waktu itu Ketua Umum PSSI, yang melarang pemain asing bermain di seluruh Indonesia sejak 7 Juni 1983.

Fandi (kini pelatih Pelita Jaya dengan nilai kontrak hampir Rp 2 miliar) paling perih merasakan pengusiran itu. Dia sudah telanjur dicintai dan sudah menjadi warga kehormatan Surabaya. Fandi seperti menjadi urat nadi Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Dia menghibur, dan orang terhibur dibuatnya.

Fandi tak sanggup lagi mengingat masa-masa indahnya bersama NIAC Mitra ketika dia kembali lagi ke Indonesia. “Saya hanya ingin memikirkan sepak bola dan keluarga di sini,” katanya. Waktu itu, Syarnubi juga mengusir Jairo Matos, Wendel Eugene (Pardedetex), Mozes Isaac, dan Hanz Manuputty (Tunas Inti). Mereka bermain di Indonesia setelah keran pemain asing dibuka pertama kali pada 28 Agustus 1982 seiring dengan bergulirnya tahun ketiga Galatama.

Keputusan melarang pemain asing itu tidak mengundang polemik berkepanjangan. Yang muncul waktu itu adalah persoalan periuk nasi pemain-pemain lokal. Kondisi ini berbeda ketika saat ini sekitar 70 pemain asing (bermain di Liga Super) dan 110 (bermain di Divisi Utama) begitu menikmati rupiah. Nilai kontrak mereka rata-rata Rp 300-400 juta. Banyak dari mereka pernah mendapat nilai di atas Rp 1 miliar, sebut saja Gonzalez Rp 1,7 miliar di Persik Kediri, Julio Lopez Rp 1,1 miliar di PSIS Semarang, dan Ronald Fagundez Rp 1,2 miliar di Persik. Abanda Herman (Persija Jakarta) pada musim ini tercatat sebagai pemain asing termahal dengan nilai kontrak Rp 1,3 miliar. Namun, angka-angka ini bisa jadi tidak berarti ketika ada pemain asing yang membuat keributan di lapangan.

Kampung Bencongan telah menjadi tempat penampungan pemain-pemain asing. Jules Denis Onana, pemilik agen pemain Mutiara Hitam, “menjajakan” barang dagangannya di sini. Onana mengatur kedatangan pemain ke Indonesia, salah satunya, setelah ada pemesanan. “Langsung kami kirim pemain setelah ada pemesanan,” kata Onana.

Fandi adalah pengecualian ketika banyak pemain asing bertingkah. Dia tidak bisa disamakan dengan Rocha, Gonzalez, juga Mbamba. Jika aksi-aksi tidak terpuji dari para pemain asing itu tidak bisa dihentikan, masyarakat sepak bola kita bisa marah. Jika ini terjadi, para agen pemain (asing)-lah yang bertanggung jawab dan mereka tidak bisa seperti pedagang sapi. Mengumpulkan pemain-pemain (berkulit hitam) dan menjualnya, seperti yang pernah kita lihat di Kampung Bencongan di pinggir Kota Tangerang.

(Koran Tempo, Minggu, 18 Januari 2009)