Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Perang dingin tidak sedang berlangsung ketika Rita Subowo dan Adhyaksa Dault berada dalam satu ruangan. Keduanya saling melempar senyum dan terlibat pembicaraan serius. Pertemuan di Hotel Century, Jakarta, 7 Januari lalu, itu tidak menghasilkan apa-apa. Perang dingin antara kedua petinggi olahraga kita itu, yang sejatinya diakhiri, berlanjut ketika keduanya berada di luar dan juga ketika kembali bertemu pada 15 Januari lalu di Wisma Menpora.

Hubungan Rita dan Adhyaksa sudah terlihat tidak harmonis ketika kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga meluncurkan Program Atlet Andalan (PAL) pada November tahun lalu. Setelah itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)/Komite Olimpiade Indonesia (KOI) meluncurkan pelatnas (pemusatan latihan nasional) bagi para atlet yang akan dikirim ke SEA Games Laos 2009. Perang dingin pun meledak seperti tak terkendali. Keduanya, kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga dan KONI/KOI seperti tak bisa dipersatukan.

Saya tidak pernah mendapatkan penjelasan yang memuaskan ketika bertanya ke mana-mana soal PAL. Ada yang mengatakan PAL adalah proyek ambisius Adhyaksa. Ada yang mengatakan PAL dalam rangka “mengebiri” KONI/KOI. Ada pula yang mengatakan PAL tidak bisa diganggu gugat karena sudah sesuai dan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Perang dingin, jika ini tidak dikatakan perseteruan, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dan Rita Subowo sebagai Ketua KONI/KOI sangat tidak elok jika terus bergulir dan hanya menjadi polemik yang melelahkan. Ini harus dihentikan. Api permusuhan ini harus dipadamkan jika tidak akan menjadi permusuhan abadi antara KONI dan kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dua lembaga ini seharusnya bergandengan. Jika ini bisa terjadi, yang saya lihat adalah olahraga tidak lagi dibina dalam suasana pertemanan.

Jika tidak ada lagi rasa pertemanan di sana, saya akan tinggalkan semua itu. Dan seandainya saya boleh berandai-andai, saya menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, akan saya lupakan PAL. Program andalan yang menghimpun 20 cabang olahraga dan 240 atlet itu begitu menyusahkan dan mengundang polemik yang tidak sehat. Saya akan tinggalkan proyek senilai Rp 858 miliar—untuk 2009 sudah disiapkan Rp 100 miliar—itu dan menjauh dari kecurigaan banyak orang.

Saya akan beralih ke sepak bola. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan sejumlah mantan pemain nasional, sebut saja Andjas Asmara, Sinyo Aliandoe, Risdianto, Rully Nere, atau generasi yang jauh sebelumnya: Thio Him Tjiang (dia adalah satu dari empat pemain tim Olimpiade Melbourne 1956 yang masih hidup).

Pemanggilan para veteran sepak bola itu sangat penting karena di hati dan cinta mereka terlihat sepak bola kita seperti apa. Di sana tergambar jelas sepak bola yang cerdas, bergembira, dan tidak menakutkan. Bukan sepak bola yang penuh intrik, politisasi, penuh dendam, apalagi amarah. Di sana pula terlihat sepak bola yang tidak tahu diri.

Kemudian saya bangun lima tim nasional yang berjenjang, yakni tim U-16 dan U-19 untuk tingkat Asia (Konfederasi Sepak Bola Asia), tim U-17 dan U-20 untuk tingkat dunia (Federasi Sepak Bola Dunia), tim yang arahnya untuk Olimpiade, serta tim nasional senior yang arahnya juga sudah jelas, Piala Asia dan kejuaraan dunia.

Seandainya saya Pak Menteri, saya terlalu lelah pergi ke mana-mana hanya untuk meyakinkan banyak orang akan pelaksanaan dan tujuan PAL. Alih-alih menjelaskan, saya diserang balik. Saya dikatakan melakukan intervensi. Saya dicurigai mencaplok periuk nasi orang.

Saya akan tinggalkan itu semua. Saya akan bermain di sepak bola saja. Cabang ini, sepak bola, lebih prestisius dan proyek, yang akan saya bangun ini bernama PALAD (Program Atlet Andalan Adhyaksa Dault). Jelas ini adalah proyek raksasa. Ini adalah megaproyek buatan Adhyaksa, bukan orang lain. Lantas bagaimana dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia sebagai pemegang otoritas sepak bola nasional? Nanti dulu, PSSI boleh lihat, tapi pegang jangan.

Seandainya saya Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, akan saya lupakan PAL. Saya akan besarkan PALAD. Persoalannya sekarang adalah jika saya tidak lagi menjadi menteri pada periode mendatang….

(Koran Tempo, Minggu, 25 Januari 2009)