Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Azis Fandila ternyata masih bertahan. Dia bertahan dan hanya ingin kehangatan sepak bola tetap terjaga di Bireuen dan PSSB Bireuen tetap hidup. Padahal dia sudah babak belur hanya untuk sebuah kehidupan sepak bola di tanah kelahirannya.

Kehangatan yang diinginkan Azis itu kembali saya rasakan ketika kami kembali bertemu pada Jumat lalu. Bang Azis, begitu saya memanggil lelaki berkulit legam itu, tidak hanya menanyakan kopi yang dia kirim dari Bireuen. Dia mengabarkan bahwa PSSB, klub yang bermarkas di Stadion Cot Gapu, masih ikut kompetisi. “Bireuen tak boleh mati,” katanya.

Semula, saya menduga PSSB sudah berakhir ketika dikabarkan tak bisa ikut Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008. Saya merasakan nama Bireuen bakal tamat ketika kami bertemu di Jakarta menjelang digelarnya Copa pada pertengahan Oktober tahun lalu. Kondisi PSSB sudah kritis. Azis tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan pulang ke Bireuen dengan hati yang tidak menentu.

Terus terang, waktu itu, saya tidak mampu mencarikan solusi baginya. Dia harus kembali ke kampung halamannya. Dia meninggalkan Jakarta ketika persoalan keuangan melilit timnya. Semua pemain belum mendapat gaji selama lima bulan. Sebagai manajer klub, dia harus menutup lubang untuk kemudian membuka lubang baru. Dia sudah menggadaikan sertifikat rumahnya.

Saya sempat menggoda Azis—yang lahir di Bireuen, 31 Desember 1965—dengan mengaitkan kesulitan timnya dengan Tengku Hasan Muhammad Di Tiro ketika Wali Nanggroe itu pulang ke Aceh. Azis hanya tersenyum. Dia terlihat sangat tidak ingin klub kesayangan masyarakat Bireuen itu dikaitkan dengan masa lalu Aceh. “Jangan nanti orang mengira-ngira sepak bola sudah saya politisir,” kata Azis.

Azis memang tidak mempolitisasi, apalagi mendramatisasi kelangsungan hidup PSSB. Dia hanya ingin PSSB tetap eksis di pelataran sepak bola nasional. Dan, dia tahu, hanya orang Bireuen yang bisa membantu PSSB. Azis kemudian menemui Irwandi Yusuf, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, juga Kepala Kepolisian Resor Bireuen Ajun Komisaris Besar T. Saldin. Dari dua orang asli Bireuen ini, tanda-tanda kehidupan PSSB mulai tampak.

Azis kemudian menggelar penggalangan dana untuk PSSB dan dari sini terkumpul 12 pengusaha Bireuen, yang masing-masing menyumbang Rp 10 juta setiap bulan selama satu tahun ke depan. Uang Rp 120 juta setiap bulan ini dia pakai untuk menggaji pemain, yang rata-rata menerima Rp 18 juta untuk setiap enam bulan.

Azis sudah melakukan hal yang benar. Dia tak ingin ikut-ikutan bermimpi Piala Dunia digelar di Indonesia, misalnya. Dari wajahnya saya melihat Azis yang mencintai sepak bola. Azis hanya ingin PSSB dikelola secara profesional sekalipun hal itu harus dimulai dengan meminta sumbangan para donatur. “Saya akan terbuka kepada mereka ke mana saja uang-uang itu mengalir,” kata Azis.

Yang menarik dari cerita Azis adalah PSSB saat ini diperkuat 18 pemain asli Bireuen. Dua pemain lama adalah Faisal Jalal, yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Bireuen, dan Eric Saputra, yang khusus menerima gaji dari Kepala Polres Bireuen karena dia adalah polisi. “Kami masih berutang sekitar Rp 1,2 miliar kepada pemain-pemain lama yang tak ikut lagi bersama PSSB sekarang,” kata Azis.

Ini memang cerita sedih dari seorang kawan bernama Azis Fandila. Di Bireuen dia dikenal dengan nama Azis Bengkel. Azis menjadi manajer ketika PSSB masih menyisakan delapan pertandingan pada musim kompetisi 2007. Dia menggantikan Bustami Hamid, waktu itu sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bireuen. Untuk musim 2008/2009, PSSB memperoleh Rp 7 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (di Aceh disebut anggaran pendapatan dan belanja Aceh). Tapi uang itu hanya sekejap berada di tangan Azis. Dia harus membayar utang manajemen lama sebesar Rp 6 miliar. Sisanya dia pakai untuk membeli pemain, yang tentu saja hanya untuk 25 persen dari nilai kontrak keseluruhan pemain.

Sebenarnya, saya ingin membisikkan dia agar berhenti saja mengurus sepak bola, tapi saya tidak tega merusak suasana hatinya. Kawan yang satu ini memang sulit untuk tersenyum, apalagi tertawa lebar. Tapi, setiap kali bertemu dia, saya merasakan kehangatan hatinya, seperti hangatnya kopi Bireuen yang khusus dia kirim untuk kawannya di Jakarta.

(Koran Tempo, Minggu, 8 Februari 2009, Ilustrasi Imam Yunni)