Yon Moeis
Wartawan Tempo

Adhyaksa Dault dipastikan tidak sedang mengejek Nurdin Halid. Dia menyanyikan lagu grup band Slank, Ku Tak Bisa, dengan sempurna. Sebelum Pak Menteri bersenandung, Nurdin memang terlihat jatuh-bangun ketika memperkuat tim sepak bola PSSI eksekutif melawan tim wartawan olahraga dalam acara sepak bola Hari Pers Nasional, Selasa lalu.

Bak pemain profesional, Nurdin jatuh-bangun, seperti dia bakal jatuh-bangun pada hari-hari mendatang untuk menjelaskan ide menjadi tuan rumah di Piala Dunia 2022 bukan mimpi di siang bolong, melainkan sebuah gagasan yang terencana dan terukur.

Pernah berpikir ‘tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri
Sempat ingin sudahi sampai di sini
Coba lari dari kenyataan
Tapi ku tak bisa jauh.. jauh darimu
Ku tak bisa jauh.. jauh darimu

Adhyaksa memang tidak sedang mengejek Nurdin. Sehari sebelum bernyanyi di lapangan tim nasional–atas nama pemerintah–dia mendukung habis-habisan Nurdin. Dalam peluncuran pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Senin lalu, seperti hendak runtuh ketika tepuk tangan terus menggema di sela pidato Nurdin. Dali Tahir, Ketua Badan Hubungan Luar Negeri PSSI, beberapa kali berdiri sambil bertepuk tangan. Saya menduga dia memancing hadirin untuk juga berdiri.

Saya tidak merasa sendirian di hotel berbintang lima itu. Sesekali saya ikut bertepuk tangan. Saya harus bisa menerima ide cerdas dan berani ini. Saya tidak boleh lagi mengatakan ini adalah proyek mimpi. Lewat facebook, banyak teman yang protes: “Jangan pernah melarang orang bermimpi.” Saya juga tidak lantas bereaksi ketika ada orang dalam PSSI mengatakan, “Kita diajak bermimpi terlalu jauh.”

Pemaparan ide menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sungguh sangat menarik. Apalagi misi yang diusung untuk Piala Dunia kita itu adalah penyelamatan lingkungan dan ini terlihat dalam judul proposal–saya menerima ini sebagai undangan VIP–yang tertulis Road to Green World Cup Indonesia 2022. Misi ini kembali dikatakan Nurdin dalam acara kabar pagi TVOne esok paginya. “Indonesia sebagai paru-paru dunia,” katanya.

Saya berharap Nurdin tidak hanya mensosialisasi ide ini di hotel berbintang. Bagus pula dia membuat acara-acara temu muka dengan para penggemar sepak bola, di terminal-terminal, di pasar-pasar tradisional, misalnya. Sehingga, isi pernyataan dari ide yang terencana dan terukur ini juga sampai ke masyarakat umum.
Tidak bermaksud menghalang-halangi, apalagi mematahkan ide yang saya sebut cemerlang ini, salahkah jika saya bertanya adakah yang lebih penting ketimbang mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022?

Pertanyaan ini bisa jadi terlambat dan sangat tidak populer atau malah menjadi kontraproduktif. Namun, pertanyaan ini bisa cepat terjawab ketika ada ide lain untuk menyempurnakan kompetisi kita yang masih karut-marut. Atau membenahi tim nasional yang belum juga kunjung berprestasi. Menahan Oman tanpa gol–juga menahan Australia tanpa gol–dalam babak kualifikasi Piala Asia 2011, menurut saya, belum bisa menjadi ukuran untuk kita bisa mengatakan Indonesia pantas tampil di Piala Dunia, sekalipun lewat penunjukan.

Saya percaya Nurdin sangat cerdas dan punya keberanian untuk melakukan pembenahan di dua sektor ini. Jika dia melakukan ini, saat ini juga, dia akan dikenang ketika dia harus meninggalkan Senayan pada 2011 nanti.

Sekali lagi, saya tidak kuasa menahan ini semua. Piala Dunia Hijau yang ditawarkan PSSI dalam proposal setebal ibu jari itu sangat menarik, sempurna, dan tim yang membuatnya pasti adalah orang-orang jenius. Namun, setelah membolak-balik kertas kerja itu, saya tidak menemukan logo atau maskot Piala Dunia, yang bakal kita gelar 13 tahun lagi itu.

Tidak ingin dikatakan tidak mendukung, saya harus ikut menyumbangkan buah pikiran, sekalipun hanya mengusulkan kerbau sebagai maskot Piala Dunia 2022, piala dunia kita. Dia dungu, tapi pekerja keras…

(Koran Tempo, Minggu, 15 Februari 2009, Ilustrasi Imam Yunni)