Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ternyata Taufik Hidayat tidak bisa jauh dari Cipayung. Dia masih berlatih di sana sekaligus mempersiapkan diri untuk tampil di All England 2009, awal Maret mendatang. Setelah memutuskan keluar dari pemusatan latihan nasional—dia sudah 12 tahun di sana—Taufik sangat berambisi meraih gelar juara, yang belum pernah dia raih. Hanya, menantu Agum Gumelar itu berlatih bukan lagi bersama teman-temannya. “Masih di kawasan Cipayung, yang pasti bukan di pelatnas,” kata Taufik.

Sangat beralasan Taufik ingin meraih gelar juara All England. Di arena bergengsi itu, dia selalu gagal. Dia baru sampai final pada 1999 dan 2000. Selebihnya kandas. Bahkan, lebih buruk lagi, pada 2003 dia tersingkir pada putaran pertama. Dua gelar juara yang sudah dia raih, Olimpiade Athena 2004 dan Kejuaraan Dunia Amerika Serikat 2005, akan menjadi lengkap jika dia menjuarai All England.

All England, agaknya, sulit ditaklukkan, khususnya di tunggal putra. Sejak kejuaraan dunia tidak resmi itu digelar pada 1899, hanya lima pebulu tangkis Indonesia yang juara di sini. Mereka adalah Tan Joe Hok (1959), Rudy Hartono (1968 sampai 1974 dan 1976), Lie Swie King (1978, 1979, dan 1981), Ardy B. Wiranata (1991), serta Heryanto Arbi (1993 dan 1994). Empat belas dari 15 gelar juara itu diraih di Wembley Arena, Wembley, London.

All England kemudian dipindahkan ke Birmingham pada 1994. Asosiasi Bulu Tangkis Inggris meninggalkan Wembley Arena karena Birmingham lebih megah, lebih modern, dan fasilitasnya jauh lebih lengkap. Heryanto Arbi meneruskan tradisi juara di sini. Selanjutnya, tak satu pun atlet tunggal putra Indonesia membawa pulang gelar juara. Bahkan sejak lima tahun terakhir, Birmingham—dua jam perjalanan naik kereta api dari London dengan ongkos sekitar 40 pound sterling—sudah dikuasai atlet-atlet Cina. Birmingham hanya menyisakan satu gelar juara tunggal putra kepada Joko Suprianto ketika dia meraih gelar juara dunia 1993, yang digelar di sana.

Taufik ingin sekali mewujudkan mimpi di All England. Taufik tak akan pernah malu mengatakan bahwa dia tak pernah juara di sini. Juga, dia tak akan pernah malu mengatakan ingin menjadi juara. Ketika Taufik “tersiksa” dengan mimpi-mimpinya, dengan harapan-harapannya, Rudy Hartono sudah terlebih dulu melangkah jauh. Rudy Hartono Kurniawan—lahir dengan nama Nio Hap Liang pada 18 Agustus 1949 di Surabaya—adalah juara All England delapan kali, tujuh di antaranya berturut-turut.

Prestasi yang dicatat Rudy tak akan terkejar, sekalipun lewat sebuah mimpi. Pebulu tangkis Inggris, George Alan Thomas (namanya kemudian diabadikan sebagai piala beregu putra, Piala Thomas), mencatat gelar juara All England 21 kali, tapi itu ditambah dengan 9 ganda putra dan 8 ganda campuran. Erland Kop (Denmark) juara 11 kali, tapi ditambah dengan 4 ganda putra. Rudy hanya tampil di tunggal putra.

Saya sudah lama tak jumpa Rudy Hartono. Mas Rudy, begitu saya menyapa maestro bulu tangkis itu, selalu saja saya ingat setiap kali menjelang All England, yang digelar setiap Maret. Dia, agaknya, tahu apa yang saya inginkan ketika saya menghubunginya Kamis lalu. “Nostalgia All England sudah habis,” katanya. “Saya hanya ingin ada atlet kita yang juara di sana.”

Tak bermaksud membetot kembali emosinya, saya merasakan getar hatinya ketika saya menyebut Wembley Arena (kini lebih banyak dipakai untuk konser musik). Di sana, di Wembley, Rudy menabur cinta untuk sebuah kebanggaan, yang kelak dikenang dan tak akan pernah terhapuskan. Dia meraih gelar juara pertama untuk kembali meraih gelar kedua, dan seterusnya. Dia datang ke London hanya untuk menghentikan lawan-lawannya. Ini, katanya, “Saya tak ingin kalah karena kalah itu sangat tidak enak dan mengecewakan.”

Rudy sudah menjadi manusia yang tidak kalah. Sejak menjalani operasi jantung pada 1988, dia hanya ingin tetap sehat dan menjaga kesehatannya. Bermain golf dan tetap berusaha, yang dia sebut sebagai usaha kecil-kecilan. Tidak menjadi manusia kalah ini pula dia harapkan kepada para adik-adiknya, juga kepada Taufik Hidayat, yang akan bertarung di Birmingham, bukan di Wembley Arena.

“Jika ada kesempatan ke Eropa, saya akan singgah ke London,” kata Rudy, sang maestro itu.

(Koran Tempo, Minggu, 22 Februari 2009)