Tag

, , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Pertarungan itu berakhir dengan manis. Aburizal Bakrie dan Yustedjo Tarik kemudian saling lempar tawa. Keduanya sepakat mengakhiri pertandingan ketika matahari mulai redup di atas lapangan tenis Klub Rasuna Kuningan, Kamis siang lalu. “Gue nggak ke mana-mana, masih di lapangan tenis,” kata Yustedjo.

Yustedjo yang tidak ke mana-mana itu adalah mantan petenis nasional. Dia adalah kawan main Aburizal. Selain dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu, Yustedjo menjadi teman main Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta, dan sejumlah pejabat serta pengusaha. Setelah bermain dengan Ical–sebutan Aburizal–dia langsung ke lapangan tenis Kompleks Menteri Widya Candra. Di sana sudah menunggu Rildo Ananda Anwar, Sekretaris Menteri-Sekretaris Negara.

Yustedjo memang tidak pergi ke mana-mana. Jika dia ke mana-mana, sudah pasti dia ke lapangan tenis. Mas Tedjo, begitu saya memanggilnya, Jumat nanti berjanji sudah berada di Solo. Dia akan memberikan dukungan kepada tim nasional Indonesia yang akan bertarung melawan Kuwait dalam putaran pertama Piala Davis Grup II Asia/Oseania di Stadion Manahan Solo.

Keberangkatan Tedjo ke Solo bukan tanpa alasan. Dia sangat mencemaskan Indonesia, yang sejak 2006 masih saja bercokol di Grup II. Padahal, sebelum tampil di Grup I tenis beregu putra itu, petenis-petenis Indonesia sempat berada pada musim bunga tenis dunia dan Yustedjo adalah salah satu saksinya. Pada 1982, Indonesia masuk 16 besar dunia setelah Yustedjo, Atet Wiyono, Tintus Arianto Wibowo, Hadiman, dan Wailan Walalangi menggasak Jepang 5-0 di Senayan.

Tedjo adalah peraih medali emas Asian Games Bangkok, Thailand, 1978. Dia juga ikut menyumbang emas tim putra bersama Atet, Hadiman, dan Gondokusumo. Satu emas lagi disumbangkan Tedjo bersama Atet pada nomor ganda putra. Namanya kemudian diabadikan di tembok luar Stadion Nasional Bangkok.

Di Asian Games New Delhi, India, 1982, Tedjo meraih emas tunggal putra dan beregu putra bersama Tintus, Hadiman, dan Wailan. Sebelum meraih emas di Bangkok, dia kabur dari pelatnas. Kaburnya Tedjo dari pelatnas mengundang kemarahan pejabat KONI dan PB Pelti. Dua pekan menjelang Asian Games Bangkok, ia pergi ke Singapura mengikuti Singapura Terbuka berhadiah US$ 2.000. Di final, Tedjo mengalahkan petenis Australia, Alvin Gardiner. Menurut Tedjo, ia ke Singapura untuk menjajal lapangan rumput karena di Bangkok pertandingan tenis digelar di lapangan rumput.

“Semua marah karena saya meninggalkan pelatnas dan semua diam ketika saya meraih emas di Bangkok,” katanya. “Setelah itu, di Jakarta, saya ikut mengantar Indonesia ke 16 besar dunia di Piala Davis.”

Kemudian nama Yustedjo menjadi ikon tenis Indonesia. Lahir di Jakarta, 30 Agustus 1953, Tedjo mengaku darah tenisnya mengalir dari ayahnya, Muhammad Yusuf Tarik, petenis yang pernah jaya pada 1930-an. Yustedjo mulai mengayun raket ketika berusia 6 tahun. Dia berlatih di lapangan tenis milik kakeknya yang terletak di samping rumah di Jalan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

Dulu, Tedjo dikenal sebagai petenis kontroversial. Dia pemarah, mudah memaki-maki, dan membanting raket. Dulu, sudah sekian ribu kata-kata kotor keluar dari mulutnya ketika beraksi di lapangan. Sudah lebih dari 30 raket yang remuk dia banting. Tapi semua itu, katanya, “Saya lakukan untuk menghibur penonton. Ada unsur entertain di dunia tenis. Lihat John McEnroe.”

Akhirnya, Tedjo menghentikan semua itu ketika pada 1985 ITF (Federasi Tenis Internasional) mengeluarkan peraturan denda bagi petenis yang mengeluarkan kata-kata kotor atau merusak barang-barang yang menyangkut pertandingan, termasuk raket yang dipergunakan.

Kini Tedjo sudah berubah. Dia semakin matang. Dia hanya ingin adik-adiknya: Christopher Rungkat, Nesa Arta, Sunu Wahyu Trijati, Prima Simpatiaji, yang akan melawan Kuwait di Solo, mengembalikan kejayaan tenis Indonesia di Piala Davis yang sangat dia rindukan. Kerinduan ketika dia mengakhiri pertandingan bersama Ical ketika matahari sudah mulai redup di atas lapangan.

(Koran Tempo, Minggu, 01 Maret 2009, Ilustrasi Imam Yunni)