Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Sandow Weldemar Nasution ternyata bisa juga menjadi manusia biasa. Hangat, bersahabat, dan santun. Dia tidak sedang marah, tidak meledak-ledak, dan tidak pula dada yang disesaki dendam seperti yang dia perlihatkan ketika berada di arena angkat besi. “Saya duduk dan makan di sana,” katanya.

Kehangatan itu terlihat ketika lelaki bertato itu singgah di kantin di belakang gedung KONI di Senayan menjelang siang akhir Februari lalu. Dia hendak menikmati makan siangnya bersama dua rekannya, satu di antaranya wanita tinggi berkulit putih. Meja tempat dia makan terlihat bersih. Sesekali, anak lelaki Bang Ucok–begitu saya memanggil Sori Enda Nasution–ayah Sandow, itu melempar canda.

Sandow yang ramah itu adalah satu dari sebelas lifter nasional yang sedang dipersiapkan ke SEA Games Laos, Desember mendatang. Dia adalah anggota Program Atlet Andalan (PAL), program bentukan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, yang tak henti diterjang kritik serta terus mengundang polemik. Ada yang mengatakan program ini adalah proyek eksklusif, gagah, cerdas, dan mengumbar janji.

Sangat beruntung Sandow berada di sana. Apalagi cabang angkat besi sudah dikatakan–oleh orang-orang yang berkepentingan di PAL, tentunya–sebagai cabang pasukan khusus. Sedangkan atletik sebagai cabang paling elite. Saya begitu bodoh tidak mampu memahami pengelompokan-pengelompokan ini. Yang bisa saya pahami adalah kelompok kecil di mana Sandow berada di sana menikmati makan siangnya.

Tidak seperti meja di sebelahnya. Tulang-tulang sup iga teronggok berantakan di sebuah piring. Sisa gado-gado masih terlihat. Potongan-potongan buah masih tersisa di dua piring rujak. Tisu bekas bertebaran di kolong meja. Ini adalah meja para wartawan yang biasa mangkal di gedung KONI. Mereka baru saja selesai makan siang dan berdiskusi seputar keberadaan PAL, juga Pelatnas Terpadu 2009–diresmikan 12 Februari lalu–yang tak kunjung digelar. Diskusi kecil itu seperti yang terlihat di atas meja tersebut.

Saya tak ingin terjebak dalam diskusi yang sudah melebar ke mana-mana itu. Apalagi sasaran tembaknya adalah PAL, proyek yang dikatakan berlindung di balik Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Proyek yang sudah menghentikan aliran darah di tubuh KONI, yang selama ini dikenal lebih berwenang dalam soal pembinaan atlet. Sungguh diskusi yang ruwet dan pasti tidak enak didengar oleh Adhyaksa Dault, Pak Menteri, sebagai pemilik PAL.

Saya tak mampu mereka-reka ending dari semua ini. PAL yang perkasa dan semakin berkuasa karena ada uang di sana (sudah tersedia Rp 100 miliar dan tambahan Rp 20 miliar) atau Pelatnas Terpadu yang tidak semakin terpadu saja (tidak jelas berapa dana yang tersedia). Padahal orang-orang PAL, termasuk Adhyaksa, dan pengurus KONI pusat sudah bertemu dalam beberapa kali kesempatan.

Sejenak saya meninggalkan keruwetan itu. Saya membayangkan Vientiane, Vang Vieng, Luang Prabong, juga Sungai Mekong. Keindahan-keindahan yang terbungkus di Laos, negara yang terkurung daratan Asia Tenggara, berbatasan dengan Burma dan Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Desember mendatang, duta-duta olahraga kita–juga Sandow yang bertarung di arena angkat besi–berada di sana.

Saya berharap bertemu dengan Sandow seperti kami bertemu di ruang utama College Assembly Hall, Nakhon Ratchasima, Thailand, Desember 2007. Di sana, Sandow–25 Maret nanti berusia 28 tahun–begitu perkasa meraih medali emas. Dua tahun sebelumnya, di Manila, dia juga mempersembahkan emas. Sandow adalah peraih perak Asia 2007, ranking ke-17 Kejuaraan Dunia 2007, dan peringkat ke-11 di Olimpiade Beijing 2008.

Di Vientiane, Desember nanti, saya ingin melihat Sandow yang sedang marah dan meledak-ledak serta dadanya yang disesaki dendam untuk sebuah medali emas. Bukan sebagai pecundang, juga korban, dari ambisi proyek besar bernama Program Atlet Andalan.

(Koran Tempo, Minggu, 8 Maret 2009, Ilustrasi Imam Yunni)