Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ini adalah hari-hari yang melelahkan bagi Joko Driyono. Dia harus pergi ke Kalimantan, Palembang, Solo, Surabaya, Jakarta, dan balik lagi ke Surabaya. Perjalanan lelaki kelahiran Ngawi itu memang tidak istimewa dan biasa-biasa saja. Namun, kepergian Mas Joko–begitu saya memanggil Direktur Kompetisi Badan Liga Indonesia–itu bisa menjadi istimewa karena dia harus memeras otak bertalian dengan keberlangsungan kompetisi.

“Tidak ada kata lelah untuk sepak bola,” kata Joko sebelum bertolak ke Surabaya kemarin pagi.

Joko boleh saja bilang tidak lelah dan tidak akan pernah merasa lelah. Dia harus tetap bugar karena sudah nyemplung di sana. Dia, yang sejak awal berani mengambil risiko mengurus sepak bola, juga tidak bisa berbohong. Kini hari-harinya sedang dihadapkan pada ketidakpastian ketika sepak bola kita (kompetisi) terancam dan terusir sepanjang berlangsungnya masa kampanye dan pemilihan umum legislatif, 16 Maret hingga 15 April mendatang.

Ini menjadi pilihan sulit. Joko harus memeras otaknya lebih cepat lagi. Kompetisi pun dipindahkan ke Jawa Timur ketika para penguasa di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah tidak memberi izin pertandingan sepak bola. Belakangan, Jawa Timur juga menolak. Kemudian Joko menawarkan pertandingan digelar pada malam hari tanpa penonton. Kalimantan juga menjadi alternatif.

Persoalan ini tak selesai di sini. Jumat lalu, Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan tidak ada pelarangan untuk sepak bola selama kampanye. Namun, dia menyerahkan sepenuhnya kepada daerah-daerah dalam pemberian izin. Bak menghadapi ular, ini bisa saja kita terjemahkan, kepala dipegang, ekor dibiarkan lepas.

Sungguh persoalan yang tidak mudah dan bisa diselesaikan hanya mengandalkan seorang Joko Driyono. Bukan meremehkan isi otak Joko, tapi dia harus menghadapi sebuah kebijakan yang tidak bisa diubah seketika. Kecerdasan yang dimiliki Joko tidak akan sanggup menghadapi semua ini. Tembok yang ia hadapi begitu kuat dan sulit dirobohkan.

Ini semua bukti semakin lemahnya sepak bola kita. Sepak bola seharusnya sudah menjadi suatu kekuatan. Sepak bola kita melemah lantaran kita tak lagi memiliki etika sepak bola, yang seharusnya terpelihara dengan baik. Sistem yang ada dalam mengelola sepak bola sudah menyimpang jauh. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, boleh saja kita katakan, semakin tidak berwibawa sehingga mudah diintervensi pihak luar. Kita seakan tidak peduli bahwa PSSI adalah anggota Badan Sepak Bola Dunia (FIFA), yang tidak bisa dijamah, sekalipun oleh pemerintah.

Saya ingin sekali membangunkan Nurdin Halid, juga para anggota Komite Eksekutif di tubuh organisasi tertinggi sepak bola di Tanah Air itu. Merekalah yang menghadapi ini semua. Mereka harus tampil ketika sepak bola kita (kompetisi) semakin melemah dan semakin dilemahkan. Mereka tidak boleh pula seenaknya mempersalahkan polisi ketika sepak bola kita terpasung di mana-mana. Sejatinya PSSI-lah yang harus melindungi klub-klub yang berada dalam posisi yang dirugikan, bukan Badan Liga Indonesia, yang hanya sebagai pemutar roda kompetisi.

Ini merupakan persoalan pelik dan tak akan terselesaikan hanya dengan solusi yang ditawarkan Joko Driyono. Jika persoalan ini berawal dari ketidakpercayaan, mari kita bangun kepercayaan itu. Mari kita bersama-sama menata diri dan membangun sepak bola yang dipercaya serta berwibawa, bukan memelihara sepak bola yang dipenuhi akal-akalan. Juga bukan sepak bola yang dipolitisasi, persis ketika PSSI–dengan gagah beraninya–mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Saya ingin sekali membangunkan Nurdin Halid, tapi saya tidak tahu apakah tadi malam dia tidur nyenyak.

(Koran Tempo, Minggu, 15 Maret 2009)