Yon Moeis
Wartawan Tempo

Dua lelaki ini terakhir kali bertemu di Stadion Jati Diri Semarang, Sabtu sore, 14 Maret lalu. Keduanya duduk tak berjauhan dan masing-masing asyik dengan dunianya. Yoyok Sukawi sibuk mengajukan protes, sedangkan Hary Ruswanto lebih banyak berdiam diri. Namun, dua manajer tim ini sesekali terlihat saling mencuri pandang.

Saya tidak berani mereka-reka suasana hati dua lelaki ini. Yoyok masih sempat tersenyum ketika PSIS Semarang mengalahkan Persitara Jakarta Utara, tamunya. Padahal, siapa pun tahu, hatinya sedang gundah. Adapun Hary, Manajer Persitara, langsung keluar stadion untuk segera pulang ke Jakarta. Dia sangat kecewa dan masih sempat membanting communicator-nya sehingga remuk. “Saya kecewa dan ingin marah,” kata Hary.

Yoyok dan Hary adalah bagian dari sepak bola kita lantaran keduanya telanjur nyemplung di sana. Keduanya pula—suka atau tidak suka—telah memberi warna kompetisi kita. Saya tak malu menyebut keduanya sebagai orang “gila” dalam sepak bola. Namun, Yoyok dan Hary ternyata tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Keduanya harus ditarik keluar dari hutan belantara dan jika tidak akan semakin tersesat.

Yoyok, misalnya, meski masih sempat tersenyum, sudah memperlihatkan tanda-tanda ingin menyerah. Apalagi setelah Gubernur Jawa Tengah membatalkan dana penyertaan modal yang diberikan Pemerintah Kota Semarang kepada PT Mahesa Jenar sebesar Rp 20 miliar. PT Mahesa Jenar adalah badan usaha yang didirikan sebagai payung keberadaan Mahesa Jenar, julukan PSIS.

Kegundahan Yoyok juga terlihat ketika dia gagal mendapatkan dana hibah yang dititipkan lewat anggaran Komite Olahraga Kota—dulu bernama KONI Semarang. Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip (orang tua Yoyok) yang juga Ketua Umum PSIS mengusulkan dana sebesar Rp 12,5 miliar untuk bantuan hibah ke PSIS. Namun, lagi-lagi harapan hanya tinggal harapan.

Yoyok memang tidak bisa berkutik lagi. Yoyok yang menjadi petinggi PSIS sejak berusia 22 tahun itu—dia lahir di Semarang, 1 Maret 1978, dengan nama Alamsyah Satyanegara Sukawijaya—kini sedang dihadapkan pada pilihan sulit: berhenti mengurus sepak bola atau tetap berjalan dengan kaki yang terikat.

Yoyok memang telah menaruh hati dan cintanya di Jati Diri, markas pasukannya. Namun, dia tidak bisa lagi mengulang masa-masa indah ketika masih menikmati dana APBD: Rp 3,1 miliar untuk musim 2004, Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), dan Rp 12,2 miliar untuk musim 2007. Untuk musim Liga Super 2008, Yoyok hanya mengantongi Rp 3 miliar dan itu bukan dari APBD.

Saya sudah lama tak bertemu dengan Hary. Jumat malam lalu, dia menghubungi saya setelah sebelumnya menerima pesan pendek yang saya kirim. Saya belum melihat persoalan yang sedang dia hadapi. Namun, saya sempat cemas ketika mendengar dia akan meninggalkan Persitara.

Hary adalah juga bagian dari sepak bola kita. Dia juga pernah merasakan masa-masa indah bersama anggaran pendapatan dan belanja daerah. Ketika tampil di divisi utama, Persitara sudah tiga kali mendapat “siraman”: Rp 450 juta pada musim kompetisi 2005, Rp 3 miliar untuk musim 2006, dan Rp 14 miliar untuk musim 2007. Namun, persoalannya bukan di sini. Persitara sangat memerlukan seseorang yang punya power, bukan membiarkan Hary berjalan sendiri.

Menjelang Liga Super yang sudah diberlakukan pada 2008 dan menjalani setengah musim kompetisi, Hary sempat dibuat babak belur. Tapi beruntung Persitara punya Hary yang bermental baja. Bukan mental seperti nama panggilannya, Gendhar, yang bagi orang Jawa Timur berarti kerupuk.

Saya tidak pernah membayangkan jika Hary, juga Yoyok, berhenti mengurus sepak bola. Jika ini terjadi, yang pasti, cinta tak akan lagi bersemi di Stadion Jati Diri, seperti keduanya bertemu di sana pada Sabtu sore, 14 Maret lalu.

(Koran Tempo, Minggu, 22 Maret 2009, Ilustrasi Imam Yunni)