Yon Moeis
Wartawan Tempo

Empat lelaki itu turun ke dance floor. Mereka menari seirama dengan entakan-entakan musik tekno yang mengalir lambat. Mereka meninggalkan botol bermerek Jack Daniel’s, minuman beralkohol 40 persen, di atas meja tempat duduk mereka semula. Satu dari empat lelaki yang sedang bersenang-senang itu adalah Redouane Barkaoui, yang tak lama kemudian menghilang ditelan kegelapan malam.

Barkaoui yang saya pergoki di X2, yang terletak di lantai 4 Plaza Senayan, itu adalah satu dari 70 pemain asing yang bermain di Liga Super. Dia kini striker Persiwa Wamena. Sebelumnya, dia pernah memperkuat Persib Bandung pada musim kompetisi 2007. Selanjutnya, pada musim 2008, Rido–begitu Barkaoui dipanggil–main di Pahang FC, klub Liga Malaysia.

Entah mengapa menjelang putaran kedua Liga Super pada akhir Januari lalu, tiba-tiba Barkaoui terlihat berada di Jakarta. Padahal, sebelumnya, dia dikabarkan akan bermain di salah satu klub di Qatar. Dia harus keluar dari Malaysia karena negeri jiran itu telah menutup pintu bagi pemain asing di liga domestik.

Saya tidak mengira lelaki kelahiran Casablanca, Maroko, 4 April 1979, itu ingin kembali bermain di sini. Ketika memperkuat Persib, dia sudah mencuri hati pendukung klub kesayangan masyarakat Bandung itu dan pandai menari jaipongan. Saya pernah melihat dia ketika Persib tampil di Piala Yusuf 2007 di Stadion Mattoangin, Makassar. Dia saya lihat sebagai seniman sepak bola. Menurut Eddy Syahputra, pemilik agen pemain Ligina Sportindo, Barkaoui tidak mampu menyembunyikan kerinduannya pada sepak bola Indonesia. Kepada Eddy, Barkaoui mengatakan, “Nuansa sepak bola di Indonesia sangat luar biasa.”

Lantaran banyak yang mengincar, Barkaoui seperti bebas memilih sesuai dengan hatinya ingin berlabuh di mana. Dia kini bermain untuk Persiwa, klub yang bermarkas di kaki Pegunungan Jayawijaya. Sesungguhnya, dia sangat beruntung karena belum terkena dampak format 3+2 yang akan diberlakukan pada musim kompetisi 2009/2010. Dua dari lima pemain asing yang dikontrak klub peserta Liga Super, nantinya, harus berasal dari negara-negara yang berada di kawasan Asia.

Format lima pemain asing–dua di antaranya dari negara-negara di Asia–memang tidak jauh dari ketentuan yang sudah diberlakukan. Meski Joko Driyono, Direktur Kompetisi Badan Liga Indonesia, sudah membeberkan pertimbangan perubahan regulasi pemain asing, saya tetap mengatakan bahwa ini kebanyakan. Kita boleh saja mengikuti ketentuan yang sudah diberlakukan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), tapi tidak bisa mengatakan bakal mendapat harga murah. Perhitungan bisnis yang dipadukan dengan kemampuan klub tidak bisa disandingkan dengan kualitas pemain (asing).

Jika ingin memodifikasi ketentuan pemain asing, lakukanlah dengan “menjerat” pemain yang benar-benar ingin bermain di Indonesia. Redouane Barkaoui, misalnya, dia ingin kembali ke Indonesia karena ingin menikmati nuansa sepak bola kita. Di sini, dia merasa enjoy dan nyaman. Pengagum Raul Gonzales dan Juan Riquelme itu memiliki kualitas di atas rata-rata pemain asing yang sudah bermain di Indonesia.

Sungguh beruntung Barkaoui bisa tinggal di Wamena. Di sana, dia tidak hanya menikmati keindahan-keindahan tanah Papua, tapi juga eksotisme budaya di timur Indonesia. Di sana pula dia bebas menikmati surga Lembah Baliem, tempat tinggal Suku Dani. Dia juga bebas mengambil semangat berbagai atraksi suku-suku yang ada di sana dalam Festival Lembah Baliem–festival yang pertama kali digelar pada 1989.

Bukan lantaran Barkaoui lantas saya mengatakan pemain asing yang datang ke Indonesia harus yang berkualitas. Lepas format 3+2 yang akan diberlakukan Badan Liga Indonesia, dia yang sudah berani datang ke Wamena harus bekerja sebagai profesional, karena dia sudah banyak mengambil apa yang kita punya.

(Koran Tempo, Minggu, 29 Maret 2009)