Yon Moeis
Wartawan Tempo

Muhammad Basri tak mampu menahan emosi. Dia terlihat meneteskan air mata. Dadanya terasa sesak ketika harus meninggalkan Persela Lamongan, klub yang dia tangani sejak 2007. Sejatinya, Basri tidak pergi dan tidak pula meninggalkan Persela. Namun, jika dia harus pergi, kelak dia pasti dikenang sebagai manusia yang mencintai pekerjaan, profesional, dan totalitas yang terpelihara dengan baik.

Basri memang tak meninggalkan Lamongan. Upacara kecil di Sekretariat Persela, Jalan Lamongrejo Nomor 1, Lamongan, Senin lalu, itu adalah penyerahan kursi pelatih Joko Tingkir, julukan Persela, kepada Widodo C. Putra. Dia tidak dipecat. Dia hanya digeser menjadi penasihat teknis dan ini merupakan peristiwa biasa dalam sepak bola. Pelatih, siapa pun dia, harus siap kehilangan pekerjaan. Namun, kata Basri, “Bukan berarti karier saya berhenti di sini.”

Langkah M. Basri—lahir dengan nama Muhammad Basri, di Makassar, 5 Oktober 1944—memang tidak berhenti di Lamongan. Serah terima kursi panas itu tak lantas dia harus mengkhianati pekerjaannya. Apalagi meninggalkan sepak bola, dunia yang sudah memberikan segala-galanya—sukses sebagai pemain dan pelatih—juga yang melambungkan namanya.

Basri tidak terpisahkan dengan sepak bola. Sejak memutuskan gantung sepatu pada 1973, dia telah membulatkan tekad untuk tidak meninggalkan sepak bola. Ini terbukti ketika Basri kini tercatat sebagai pelatih paling senior di Liga Super. Dia tak merasa malu ketika Widodo, juniornya, sudah menjadi pelatih. Juga Aji Santoso dan Fandi Ahmad, dua dari sekian banyak anak didiknya, kini menyamai bahkan melewati dirinya.

Saya tidak setahun sekali bertemu dengan Om Basri, begitu saya memanggil lelaki berperawakan tinggi itu. Namun, saya bisa merasakan setiap langkahnya. Dia adalah manusia yang biasa menghargai waktu. Jarak antara Surabaya—dia tinggal di Perumahan Lembah Harapan—dan Lamongan hanya butuh waktu sekitar setengah jam, yang dia tempuh dengan mobil Toyota keluaran 1990-an. Namun, Basri selalu berangkat lebih awal. Dia harus lebih cepat daripada anak-anak didiknya.

Perjalanan sepak bola Basri begitu panjang. Dan, saya mengaguminya. Sebelas tahun menjadi pemain (bersama tim nasional) dan 31 tahun menjadi pelatih. Sungguh perjalanan yang tidak bisa diraih selain oleh orang bernama Basri. Dia mengenal sepak bola di kampung halamannya sejak masa kanak-kanak. Basri kecil sering meninggalkan bangku sekolah hanya untuk bermain sepak bola. Dia mulai menjadi pemain di PSM Ujungpandang (kini PSM Makassar). Dia salah satu pemain yang ditemukan Toni Pogacnik dan bergabung, di antaranya, bersama Fatah Hidayat, L.H. Tanoto, dan Djamiat Dalhar.

Lantaran namanya begitu moncer di lapangan sepak bola, pemerintah pernah menawari Basri serta teman-temannya mengikuti pendidikan sebagai calon anggota polisi. Basri mendapat prioritas langsung menjadi calon perwira. Namun, pendidikan itu hanya dijalani selama enam bulan dan ia kembali ke lapangan. “Saya merasa menjadi polisi bukan dunia saya,” kata Basri.

Basri benar-benar berhenti menjadi pemain setelah memperkuat Pardedetex Medan dan Persebaya Surabaya. Kemudian dia membawa Persebaya menjadi juara nasional pada 1978. Waktu itu Bajul Ijo—sebutan Persebaya—sudah dihuni pemain-pemain hebat, sebut saja Waskito, Abdul Kadir, Rusdi Bahalwan, Subodro, Djoko Malis, Hadi Ismanto, dan Johni Fahamsa.

Pada 1979, bersamaan dengan dimulainya kompetisi Galatama, Basri diminta A. Wenas, bos klub Niac Mitra, menangani klub tersebut. Pada 1982, ia membawa Niac Mitra, yang diperkuat pemain Singapura, Fandi Ahmad dan David Lee, menjuarai kompetisi Galatama. Di Niac Mitra, Basri bertahan hingga 10 tahun dan memberikan tiga gelar juara. Kemudian Basri melatih sejumlah klub, yakni Arema Malang, Mitra Surabaya, PSM Makassar, Persita Tangerang.

Kekaguman saya terhadap Basri tidak berhenti tatkala dia mendapat tugas menghadang Pele ketika tim nasional menjamu Santos, klub asal Brasil, dalam pertandingan persahabatan di Stadion Utama Senayan pada 1970. Atau ketika Basiska (Basri, Iswadi, dan Abdul Kadir) menjadi trio pelatih tim nasional (1984-1990). Saya mengagumi Basri ketika dia memilih sepak bola sebagai gantungan hidupnya, gantungan yang cepat atau lambat bakal dia tinggalkan di Lamongan.

(Koran Tempo, Minggu, 5 April 2009)