Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Taufik Hidayat mengakhiri latihan pagi itu dengan membiarkan keringat membasahi tubuhnya. Dia kembali berlatih setelah sejak awal Maret lalu berada di luar negeri. Selepas All England di Birmingham, dia menuju Hyderabad, India, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kanada.

Taufik kembali ke Tanah Air setelah PB PBSI mengumumkan nama-nama atlet ke Piala Sudirman 2009 yang bakal digelar di Guangzhou, Cina, 10-17 Mei mendatang. Peraih medali emas Olimpiade 2004 dan juara dunia 2005 itu tak masuk daftar. Taufik, yang kini menjadi atlet non-pelatnas, tentu saja tidak bisa protes. “Kami atlet-atlet di luar pelatnas adalah pemain kelas dua,” katanya.

Rabu pagi lalu, pemain “kelas dua” itu sudah terlihat berlatih bersama sejumlah pebulu tangkis muda, salah satunya Alamsyah Yunus, di GOR Bantong, Cijantung, di bawah pengawasan pelatih Mulyo Handoyo. Dia berlatih di sana sejak menyatakan mundur dari Cipayung pada awal Januari lalu. Taufik berlatih dengan jadwal yang ketat, Senin hingga Jumat, setiap pagi dan sore. Sesekali menantu Agum Gumelar itu singgah ke rumah kerabatnya, yang tak jauh dari tempat dia berlatih. Ini dia lakukan untuk menyambung latihan sore.

Bantong memiliki lima lapangan, dua di antaranya disewa Taufik. Satu lapangan ditinggikan dengan papan yang ditopang kaki-kaki kayu. Ruang kosong di bawah lapangan akan memberikan kenyamanan telapak kaki Taufik dalam berlatih. Lapangan yang ditinggalkan ini mirip dengan yang ada di Pelatnas Cipayung, yang memiliki 15 lapangan.

Di sana, Taufik menyewa sebuah ruangan untuk tempat istirahat. Ruangan itu cukup luas untuk menampung atlet-atlet lainnya yang juga ingin beristirahat setelah latihan. Meski demikian, di Bantong dia tak akan merasakan tempe bacem, salah satu menu makanan siang di Cipayung.

Taufik tidak akan pernah berkecil hati tak masuk tim Piala Sudirman tahun ini. Taufik dan sejumlah atlet non-pelatnas, semula, akan dimasukkan dalam tim. Namun, PB PBSI sebagai pemegang otoritas bulu tangkis nasional kemudian hanya mengandalkan pemain pelatnas, yang sebagian besar pebulu tangkis muda.

Piala Sudirman adalah kejuaraan internasional untuk nomor beregu campuran. Kejuaraan ini digelar dua tahun sekali. Indonesia yang memprakarsai kejuaraan ini baru satu kali tampil sebagai juara, yakni dalam penyelenggaraan pertama di Jakarta pada 1989. Cina enam kali meraih gelar juara dan Korea Selatan tiga kali. Nama Sudirman diambil dari tokoh bulu tangkis Indonesia, almarhum Dick Sudirman.

Taufik sudah memperkuat tim nasional lima kali berturut-turut sejak 1999. Memang tak ada yang bisa menjamin kita bakal merebut kembali piala itu dari Cina jika Taufik masuk tim. Namun, nama Taufik tidak bisa dipisahkan dalam perjuangan membawa pulang piala itu. Pada Piala Sudirman 2007, misalnya, Taufik tampil sebagai pembuka peluang Indonesia ke final setelah tertinggal 0-2 saat menghadapi Inggris. Taufik mempersembahkan satu angka setelah menghentikan Andrew Smith. Selanjutnya, ganda putri dan ganda putra Indonesia menambah dua angka.

Di final, Indonesia bertemu dengan Cina. Namun, partai puncak yang berlangsung di Scotstoun International Sports Arena, Glasgow, Skotlandia, itu tidak menampilkan partai Taufik versus Lin Dan. Partai kelas dunia yang ditunggu-tunggu dan diyakini bakal dimenangi Taufik itu tidak dipertandingkan karena Indonesia sudah tertinggal 0-3.

Tekanan yang ada pada Piala Sudirman berbeda dengan Piala Thomas dan Uber. Piala Sudirman lebih mengarah pada strategi tim dan kematangan pemain. Ini dibutuhkan karena urutan-urutan pertandingan ditentukan dari hasil undian. Saya tidak lantas merasa pesimistis dengan kondisi tim yang ada saat ini. Juga tidak akan bersikap optimistis manakala Taufik jadi disertakan. Bagaimanapun PB PBSI pasti sudah punya program dan raihan prestasi yang dibebankan kepada para atlet.

Menjelang Piala Sudirman nanti, saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita pernah memiliki Taufik. Taufik yang kontroversial, cerdas, dan mampu mengaduk-aduk perasaan lawan sekaligus penonton yang menikmati aksinya di lapangan. Sebagai pemain non-pelatnas—saya lebih suka menyebut dia sebagai pemain profesional—Taufik sudah membuka lembaran baru. Dia juara India Terbuka, bahkan sempat-sempatnya pembawa acara kejuaraan memanggil Taufik dengan sebutan The Golden Boy. Sebelum kembali terlihat di Cijantung, Rabu pagi lalu, Taufik meraih gelar juara Racket Rally di Richmond, Kanada, sekalipun hanya sebuah pertandingan ekshibisi.

(Koran Tempo, Minggu, 12 April 2009)