Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Nova Arianto belum sempat melepas sepatu. Keringat masih membasahi tubuhnya. Dalam hitungan menit, pilar Persib Bandung itu sudah dihujani berbagai komentar. Dalam hitungan menit pula, kalimat-kalimat pendek berdatangan setelah dia menulis status di akun Facebook-nya, “Thank’s for God, wife and bobotoh semua….”

Nova pandai benar menampung isi hati para penggemar Persib. Persib menyudahi perlawanan Sriwijaya FC di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Jumat malam lalu, dengan kemenangan 3-2. Pertandingan itu adalah partai yang menyenangkan. Nova seolah melihat hati para suporter fanatik Persib berbunga-bunga. Istri Brigitta Retno itu, sebelumnya, juga “memancing” para bobotoh dengan permintaan maaf setelah Persib dihentikan Sriwijaya dan dipastikan gagal maju ke delapan besar Copa, Minggu malam lalu. “Kami minta maaf sebesar-besarnya atas kegagalan ini,” tulis Vava.

Menyambut permintaan maaf itu, seseorang bernama Annebel Clarissa—tertulis dia pelajar SMA 3 Semarang—menulis, “Gpp, nmnya jg spbola, ad yg menang, ad yg kalah. persib teuteup number one-lah….”

Ya, Persib tetap nomor satu. Persib, dalam keadaan kalah, juga menang, masih pantas dicintai. Dan, Nova Arianto—lahir di Semarang, 4 November 1978—adalah tempat tumpahan perasaan para penggemar Maung Bandung, julukan Persib.

Saya adalah satu yang ikut mencemaskan Persib. Pada musim 2007/2008, misalnya, Persib terhenti di tengah jalan Copa dan tak mampu meloloskan diri ke babak delapan besar Liga. Masih untung pasukan Arcan Iurie Anatolievici (pelatih Persib sebelum Jaya Hartono) bertahan dan masuk Liga Super, yang sudah diberlakukan pada musim kompetisi 2008.

Setelah ditukangi Jaya Hartono, perjalanan Persib tak sebagus ketika ditangani Iurie. Persib kandas di Copa dan belum tentu meraih gelar juara Liga Super.

Tak ingin terseret-seret perasaan para bobotoh, saya membuat catatan-catatan kecil tentang Persib. Dengan jujur saya harus katakan Persib belum selesai. Jika saja tim yang dulu merajai sepak bola Perserikatan itu kini tenggelam, bukan berarti sudah habis. Dalam sepak bola, kalah dan menang tak lagi menjadi penting. Jauh lebih penting bagaimana para pengelola mampu menghidupi klub dan bisa memberikan kesejukan kepada penonton, termasuk di dalamnya menyuguhkan gol-gol indah ke gawang lawan.

Saya sudah sangat terhibur dengan kehadiran Persib. Saya telah ikut menikmati gol-gol indah yang diciptakan Sutiono, Adjat Sudradjat, Jajang Nurjaman, Yusuf Bachtiar, atau Sukowiyono ketika mereka bertarung untuk Persib di arena Perserikatan. Tanpa melupakan nama-nama lainnya, di belakang ada Robby Darwis, Adeng Hudaya, juga Sobur dan Boyke Adam di bawah gawang. Persib dulu adalah Persib yang enak ditonton. Persib yang benar-benar Persib.

Persib—lahir 14 Maret 1933—adalah gabungan Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (berdiri 1923) dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB). Klub ini memiliki sejarah panjang nan manis untuk dikenang. Di arena Perserikatan, Persib meraih gelar juara pada 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir 1994 sebelum Perserikatan dilebur dengan Galatama menjadi Liga Indonesia. Persib juga meraih runner-up pada 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Perjalanan Persib di Liga Indonesia memang tidak menyenangkan. Setelah meraih gelar juara di liga pertama pada 1995, prestasi Persib seperti jatuh-bangun—jika tak ingin dikatakan terus menukik tajam. Bermaterikan pemain juara Perserikatan 1990, Persib yang ditukangi Indra M. Thohir pada partai final di Stadion Utama Senayan, 30 Juli 1995, melibas klub Galatama, Petrokimia Gresik, yang saat itu sudah diperkuat tiga pemain asing, yaitu Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, dan kiper Darryl Sinerine.

Mengikuti perkembangan sepak bola (semi)-profesional, Persib juga melakukan apa yang dilakukan klub-klub lain. Persib pernah mendatangkan pelatih asing, sebut saja Marek Jonata, Juan Paez, dan Arcan Iurie Anatolievici. Juga sederet pemain asing. Tapi entah mengapa prestasi Persib tak juga terangkat dan nyaris terperosok ke jurang degradasi pada musim kompetisi 2003. Persib tak bersinar terang, seperti ketika masih diperkuat Robby Darwis dan kawan-kawan di arena Perserikatan.

Sekali lagi, Persib tidak akan pernah berakhir. Ini harus saya katakan jika memang masih ada kecintaan untuk Persib tanpa harus membuka lembaran-lembaran indah masa lalu itu. Persib teuteup number one-lah….

(Koran Tempo, Minggu, 19 April 2009)