Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Hidup Nurdin Halid terlihat begitu indah, setidak-tidaknya akhir-akhir ini. Sabtu pekan lalu, dia bersama Jusuf Kalla di lapangan tim nasional. Satu hari kemudian, di Hotel Mercure, dia duduk berdampingan dengan Aburizal Bakrie. Pada pertengahan Februari lalu, Nurdin bersama Mohammed bin Hammam, Presiden AFC. Dan, dua pekan sebelumnya, dia mengumbar senyum serta tawa di samping Adhyaksa Dault ketika meluncurkan pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002 di Hotel Ritz Carlton Pacific Place.

Tak cukup dengan keindahan-keindahan itu, Nurdin pun meraih keindahan lain, yang membuat kakinya semakin kukuh dan tidak bisa ada yang menggoyangnya. FIFA menyampaikan dukungan kepada lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, itu untuk memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia hingga 2011. Dengan demikian, berakhir sudah polemik seputar pasal kriminal yang menempel pada dirinya. Nurdin telah meraih kemenangan, yang membuat dia tersenyum.

Saya tidak mengenal dekat Nurdin meski pernah duduk bersebelahan ketika kami sama-sama transit di Bandar Udara Changi, Singapura, awal Desember 2003, atau satu bulan setelah dia menjadi Ketua Umum PSSI. Kemudian kami bertemu kembali di Stadion Thien Truong, Nam Dinh, Hanoi, ketika tim nasional dibantai Thailand 0-6 setelah pada pertandingan sebelumnya digebuk Vietnam 0-1. Itu adalah kegagalan pertama Nurdin di SEA Games dan tim nasional pulang lebih cepat dari pesta olahraga negara-negara se-Asia Tenggara itu.

Kegagalan itu tentu saja tidak membuat Nurdin goyah. Dia tetap berdiri dan melempar senyum. Bisa saja dia mengatakan itu bukan kegagalan, tapi merupakan keberhasilan yang tertunda. Dalam perjalanan memimpin PSSI, diam-diam saya memujinya. Dia saya sebut sebagai lelaki tangguh, setangguh ketika meraih kursi ketua umum dari para pesaingnya pada 2003. Untuk jabatan ini, konon, dia menghabiskan Rp 30 miliar.

Nurdin, harus diakui, adalah lelaki tangguh. Dua kali masuk penjara (Agustus 2004-Agustus 2006 dan September 2007-November 2008) tidak membuat dia terpuruk. Tim nasional tetap ada, kompetisi tetap jalan, dan dia memimpin PSSI dari balik tembok penjara. Sungguh luar biasa dan hanya Nurdin yang bisa begini. Bahkan Nurdin mampu memperpanjang jabatannya untuk yang kedua kali pada Munaslub PSSI di Makassar, April 2007. Dia terpilih secara aklamasi hingga 2011.

Nurdin akan duduk tenang hingga 2011 nanti. Dukungan FIFA begitu sangat berarti bagi dirinya. Tapi, buat saya, kemenangan yang dia raih tidak melalui pertarungan yang fair. Senyum yang dia lempar tidak lantas membuat banyak orang ikut tersenyum, tapi lebih banyak mencibir.

Saya tentu saja harus menerima kenyataan ini. Tidak ada satu kekuatan pun, termasuk pers, yang mampu menahan Nurdin untuk tetap memimpin PSSI. Pasal-pasal kriminal yang diperdebatkan itu tidak cukup ampuh menurunkan Nurdin sebagai orang nomor satu di organisasi sepak bola nasional. Dia tetap bertahan dan tidak ada pilihan bagi kita selain menanti aksi-aksi Nurdin berikutnya.

Tidak perlu kita berharap Piala Dunia akan bergulir di Indonesia pada 2022. Aksi yang kita tunggu adalah bagaimana dia bisa membawa tim nasional dalam perbaikan prestasi yang masuk akal, diterima, dan jujur dalam meraihnya. Juga membawa kompetisi ke arah yang lebih baik. Kompetisi yang benar-benar murni sebagai pangkal pembentukan tim nasional yang tangguh.

Dua tahun waktu yang cukup panjang bagi Nurdin memperbaiki ini semua. Dia sudah meraih keindahan-keindahan dalam sepak bola. Dia sudah meraih kemenangan, yang membuatnya tersenyum lebar. Layar sudah terkembang. Dia pergi dan pantang surut ke pantai. Mundur berarti kalah, juga berarti membawa malu. Dan, kita lihat saja nanti, apa yang dia bawa setelah pulang nanti, setidak-tidaknya dua tahun ke depan.

(Koran Tempo, Minggu, 26 April 2009)