Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bambang Nurdiansyah pandai benar menyembunyikan perasaannya. Dia tersenyum dan seperti tidak sedang mengalami apa-apa. Padahal mantan pemain nasional itu baru saja menanggalkan pekerjaan sebagai pelatih. Dia harus meninggalkan Semarang sekaligus meninggalkan setumpuk kenangan bersama Mahesa Jenar, klub yang sudah dibubarkan pengelolanya. “Sangat ironis dan saya sedih,” kata Bambang.

Bambang bukan lagi pelatih PSIS, klub yang dia pegang pada pertengahan putaran kedua Liga Super 2008, setelah sebelumnya meninggalkan Arema Malang. Kepergian Bambang dari Kota Lumpia itu dipastikan pada Selasa lalu setelah dia diterima Yoyok Sukawi, Direktur PT Mahesa Jenar, nama perusahaan pengelola PSIS, di sebuah ruangan di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Semarang.

Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Yoyok harus mengatakan apa yang sedang dia hadapi. Dia tidak mampu menghadang keputusan Sukawi Sutarip–Ketua Umum PSIS sekaligus Wali Kota Semarang yang juga ayahnya–membubarkan PSIS. Kemudian Yoyok memeluk Bambang dan membisikkan kata maaf di telinga sahabatnya itu. Esok harinya, Rabu sore, sebelum Lion Air membawanya ke Jakarta, Bambang masih sempat menoleh ke belakang. Untuk kedua kalinya–pernah menukangi PSIS pada musim 2005–dia harus meninggalkan Semarang membawa hati yang remuk.

Perpisahan Yoyok dan Bambang memang tak sampai menumpahkan air mata. Tapi di sana tetap saja ada pemecatan, sekalipun saya melihatnya sebagai pemecatan tak berdarah. PSIS dimatikan dan Bambang harus pergi.

PSIS, juara Liga Indonesia 1998/1999 sebelum degradasi pada musim berikutnya, buat saya sudah mati. Klub yang pernah meraih gelar juara Perserikatan 1987 (di final mengalahkan Persebaya Surabaya lewat gol tunggal Ribut Waidi) itu tak bisa lagi menjadi peserta Liga Super, kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tim U-21 yang disebut bakal meneruskan PSIS senior, yang sudah dimatikan itu, hanya cerita kosong. PSIS dibubarkan, tidak lantas kita seenaknya menabrak aturan-aturan yang sudah ditetapkan.

Jika saya menjadi Yoyok, saya akan lawan keputusan bapaknya itu. PSIS tidak bisa dimatikan. Ada pilihan menjual klub ini dan tentu saja dengan harga yang tidak terlalu tinggi (konon, harga yang ditawarkan mencapai Rp 25 miliar), dan tidak ada embel-embel harus ber-home-base di Semarang. Jika sudah dijual, siapa pun pengelolanya harus berganti nama, PSIS tetap dikenang dan kelak tidak akan dikatakan klub yang mati. Persijatim Jakarta Timur (dijual senilai Rp 6
miliar), misalnya, tetap dikenang meski sudah berganti nama menjadi Sriwijaya FC.

Pembubaran PSIS tidak bisa dipisahkan dari sosok Yoyok Sukawi. Dia–lahir di Semarang, 1 Maret 1978, dengan nama Alamsyah Satyanegara Sukawijaya–sudah mendominasi PSIS sejak berusia 22 tahun. Di tangan dia pula PSIS menikmati kucuran dana APBD: Rp 3,1 miliar untuk musim 2004, Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), dan Rp 12,2 miliar untuk musim 2007.

Yoyok pula yang menentukan nasib pelatih PSIS. Dia sudah memecat Sutan Harhara, Bonggo Pribadi, Sartono Anwar, Eddy Paryono, termasuk memanggil kembali Bambang Nurdiansyah dan menukar nilai kontrak temannya itu dengan sebuah mobil Kijang Innova dan sebidang tanah di Ungaran-daerah berudara sejuk yang letaknya 15 kilometer dari Kota Semarang.

Bambang tidak punya pilihan ketika harus meninggalkan Semarang untuk kedua kalinya. Anak kolong ini–ayahnya, Moch. Sidik, dulu adalah tentara yang membesarkan Bambang di Malang (Bambang sendiri lahir di Banjarmasin, 28 Desember 1959) dengan penuh aturan-aturan, keras, dan disiplin–terpaksa memahami apa yang sedang dihadapi Yoyok.

Boleh-boleh saja ada yang mengatakan Yoyok sangat mencintai sepak bola, mau berkorban, cerdas, dan berani mengelola PSIS ketika klub tak lagi dibantu dana APBD. Tapi, dengan berat hati, saya harus katakan bahwa dia telah gagal ketika PSIS harus dibubarkan, termasuk di dalamnya gagal mempertahankan Bambang Nurdiansyah, sahabatnya.

Bambang kini sudah berada di Jakarta. Dia, bisa jadi, tak sempat singgah ke Ungaran, daerah yang berudara sejuk itu.

(Koran Tempo, Minggu, 10 Mei 2009, Ilustrasi Imam Yunni)