Yon Moeis
Wartawan Tempo

Wahyu dan Budhi Tanoto adalah orang-orang yang tahu berterima kasih. Mereka lahir dan besar menjadi pemain nasional. Namun, dua anak L.H. Tanoto ini tidak akan pernah lupa dari mana mereka berasal dan kakak-adik itu sesekali datang ke Lapangan Banteng, melihat tempat awal mereka dulu berkembang menjadi pemain sepak bola. “Sekalian bertemu dengan kawan-kawan lama,” kata Budhi.

Wahyu dan Budhi, waktu keduanya masih bocah, sudah bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA), yang didirikan pada 8 Mei 1950. Awalnya, kepanjangan MBFA, yang didirikan oleh Joel F. Lambert (almarhum) di Lapangan Banteng itu, adalah Mollucas Boys Football Association. Tapi, lantaran terkesan kesukuan, kata Mollucas diganti menjadi Merdeka.

MBFA tak hanya melahirkan Wahyu dan Budhi Tanoto. MBFA, yang mengambil tempat latihan di lapangan yang dulu bersebelahan dengan terminal bus Lapangan Banteng, telah mencetak banyak pemain nasional, di antaranya Iswadi Idris, Bob Hippy, Ristomoyo, Berty Tutuarima. Dan orang yang paling berjasa itu adalah Bung Joel atau yang lebih dikenal dengan panggilan Si Bung. Lelaki berkulit gelap ini bahkan sering mengibaratkan dirinya sebagai “jin” Lapangan Banteng.

Nama MBFA tidak bisa dilepaskan dalam sejarah sepak bola nasional. MBFA merupakan embrio sekolah sepak bola, yang kini bertaburan di berbagai kota. MBFA juga tak bisa dipisahkan dari sistem pembinaan usia dini. Joel Lambert–lahir di Makassar, 8 Mei 1928–pendirinya, menampung anak-anak di sekitar Lapangan Banteng dan mendidik mereka bersepak bola yang benar. Mereka, yang kebanyakan datang dari kalangan bawah, dulu dikenal sebagai anak gawang.

Dulu saya sering bertemu dengan Si Bung di Senayan. Sebelum pergi–dia meninggal pada 22 Maret 1997–Si Bung adalah pegawai honorer Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia ketika induk organisasi sepak bola nasional itu dipimpin Kardono (1983-1987, 1987-1991). Dia sering terlihat bersandal kulit hitam dan tas yang dikempit. Menjelang sore, dia meninggalkan kantor PSSI berjalan kaki menuju halte bus dekat Komdak (kini Polda) untuk kembali ke kediamannya di Jalan Kwini di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Si Bung tak kuasa membesarkan MBFA. Dia juga tak akan pernah tahu nasib MBFA kelak setelah dia tak lagi di sana. Si Bung menghidupkan MBFA dengan hanya bermodalkan idealisme, tanpa komersialisasi, dan apa adanya. Bahkan dia dengan senang hati tidak memungut bayaran bagi anak tak mampu.

Setelah berusia 59 tahun, hampir tidak ada yang berubah dari klub gawang tertua di Jakarta itu. Markasnya tetap berada di Lapangan Banteng. Iuran anggotanya tetap murah (dulu Rp 2.500), kini sekitar Rp 10 ribu. Bandingkan dengan iuran di ASIOP, yang mencapai Rp 200 ribu. MBFA kini seperti tidak memiliki bapak. Tidak ada yang mengorganisasi dan mengontrol jalannya latihan, juga tidak ada yang mengelola sumber pemasukan. MBFA berjalan sendiri dan apa adanya. Beruntung, MBFA masih punya Berty Tutuarima, yang menjadi pelatih tamu di sana.

MBFA masih bertahan di Lapangan Banteng. Imang Taryana, yang menggantikan Joel Lambert (almarhum), juga tidak bisa berbuat banyak. Dengan iuran siswa apa adanya, dia harus “menghidupi” MBFA.

Kamis lalu, saya sempat melintas di Lapangan Banteng. Saya tidak lagi mencium aroma sepak bola yang dahulu dihadirkan Si Bung. Hiruk pikuk terminal pada pertengahan 1970-an seperti membangkitkan semangat anak-anak–terutama kalangan bawah–untuk berlatih sepak bola di sana. Saya tidak lagi melihat anak-anak menenteng sepatu bola turun dari bus. Lapangan Banteng terlihat sempit dan seolah tertutup oleh kemegahan Hotel Borobudur dan tak lagi mampu melahirkan pemain-pemain besar.

“Jin” Lapangan Banteng itu telah lama pergi dan matahari hampir tenggelam di sana.

(Koran Tempo, Minggu, 17 Mei 2009, Ilustrasi Imam Yunni)