Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Jacksen Ferreira Tiago tak akan pernah lupa Barata Jaya. Di salah satu kampung di Kota Surabaya itu, dia pernah tinggal. Di sebuah rumah kontrakan, Jacko–begitu dia biasa disapa–merajut cita-cita menjadi pelatih ketika tak lagi menyisakan kekuatan sebagai pemain. Waktu itu, lelaki berkulit hitam tersebut sudah tak punya apa-apa selain tekad bangkit dari reruntuhan. “Tidak ada pilihan, saya harus bangun,” katanya.

Jacko, yang dulu pernah merasakan keterpurukan, kini menjelma menjadi Jacko yang perkasa. Dia berhasil menyatukan kembali hatinya yang berkeping-keping. Dia membawa Persipura Jayapura meraih gelar juara Liga Super 2008 ketika kompetisi belum berakhir. Dia menjadi pelatih asing pertama yang membawa tim Mutiara Hitam, julukan Persipura, menjuarai kompetisi tertinggi di Tanah Air. Namun, keberhasilan ini tentu saja tidak dengan mudah dia peroleh. Dia harus melewati jalan panjang, berliku, bahkan sepak bola Indonesia tak begitu saja menerima lelaki kelahiran Rio de Janeiro, Brasil, pada 28 Mei 1968, itu. Dia sempat digugat ketika menangani Persiter Ternate karena dikatakan tak memiliki sertifikat kepelatihan. Dia menangani Persitara Jakarta Utara tanpa kontrak bayaran.

Jacko mengawali semua itu di Terminal Udara Changi, Singapura, pada Desember 1994, atau 15 tahun lalu. Waktu itu dia harus melewati malam Natal dalam suasana hati tak menentu. Dadanya terasa sesak dan dia harus segera memastikan, melanjutkan perjalanan ke Indonesia atau pulang ke Brasil. Namun, keputusan yang dia ambil pada malam Natal itu telah menentukan arah hidupnya, yang dia sebut sebagai jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Dia tidak akan pernah menyangka dihadapkan pada pilihan sulit. Semula Jacko, bersama enam pemain dari Brasil, oleh agen pemain dijanjikan bisa bermain di Liga Singapura. Tapi dia sangat terkejut ketika diberi tahu akan dibawa ke Indonesia. Ketika itu, Liga Indonesia sebagai babak baru kompetisi profesional di Indonesia akan segera digulirkan. Bersama empat rekannya, Jacko mengikuti kemauan sang agen. Sedangkan dua rekannya memutuskan kembali ke Brasil. “Setelah terbang jauh-jauh dari Brasil, saya harus membuat keputusan melanjutkan perjalanan ke Indonesia,” katanya.

Semula dia tak pernah membayangkan Indonesia seperti apa. Juga ketika bergabung bersama Petrokimia Putra Gresik, klub pertamanya di Liga Indonesia musim kompetisi 1994/1995. Bersama Carlos de Mello (Brasil), Darryl Sinnerine (Trinidad dan Tobago), serta Widodo C. Putra, Jacko membawa Petro menjadi runner-up setelah digebuk Persib Bandung di partai final liga musim pertama itu. Partai ini kemudian disebut sebagai final yang dramatis. Ada dugaan tim Petro dikalahkan wasit yang menganulir gol Jacko.

Dari Gresik dia merambah ke berbagai klub di Indonesia. Mulai PSM Makassar (1995/1996), Persebaya Surabaya (1996-1998), sempat bermain di Geylang United (1998/1999) sebelum kembali ke Persebaya (1999/2000), hingga terakhir mengusung Petrokimia (2001) ketika tak lagi punya tenaga sebagai pemain. Pada musim kompetisi 1996/1997, Jacko ikut mengantar Persebaya meraih gelar juara dan tampil sebagai pencetak gol terbanyak dengan mengemas 26 gol.

Tujuh tahun kemudian, pada musim kompetisi 2004/2005, Jacko membawa Persebaya menjadi juara. Tapi sebelum dia menangani Bajul Ijo–julukan Persebaya–perjalanan hidupnya begitu sulit dan dia mulai merajut masa depannya di sebuah rumah kontrakan di kampung Barata Jaya. “Tentu saja saya tidak bisa melupakan kampung itu,” kata Jacko. Waktu itu Jacko adalah pelatih Asyaabaab, klub anggota utama Persebaya. Waktu itu pula dia menampung pemain-pemain asal Brasil dan membawa rekan-rekannya itu pada pertandingan antarkampung ke berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Jumat malam lalu, saya mengontak Jacko. Dia sedang berada di Medan untuk mempersiapkan pasukannya menghadapi PSMS Medan di babak delapan besar Copa Indonesia, yang berlangsung kemarin sore di Stadion Teladan Medan. Tidak banyak yang dia katakan selain bersyukur atas apa yang sudah dia peroleh di sepak bola Indonesia. Dia sangat ingin membawa Persipura menjadi juara Copa dan membagi suka kepada istri dan dua anak lelakinya–Mateus dan Ayub–yang tinggal di Brasil.

“Saya sedih dan terkadang meneteskan air mata jika teringat mereka. Kebahagiaan yang saya peroleh saat ini adalah bagian dari rencana Tuhan, yang saya tahu rencana itu belum selesai,” katanya.

(Koran Tempo, Minggu, 24 Mei 2009, Ilustrasi Imam Yunni)