Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Subangkit tak akan pernah bisa melupakan Pandaan. Dia ingin selalu pulang ke sana. Kemarin, setelah mengikuti prosesi arak-arakan Persema Malang di Kota Malang, dia mengungkapkan keinginan itu. “Saya ingin pulang ke Pandaan,” katanya.

Pandaan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Di sana, 49 tahun lalu, di kota kecil yang menjadi sumbu berbagai obyek pariwisata–salah satunya Tretes–Subangkit dilahirkan. Di mana pun dia berada, setiap ada kesempatan, dia ingin selalu pulang. Misalnya dia harus bolak-balik Surabaya-Pandaan dengan sepeda motor bututnya ketika memperkuat Persebaya Surabaya 20 tahun silam.

Pandaan tak akan pernah dia lupakan. Juga ketika Subangkit membawa Persema Malang ke Liga Super, kasta tertinggi sepak bola di Tanah Air, pada musim kompetisi mendatang. Ini merupakan raihan prestasi yang sangat membanggakan.

Sebelumnya, Subangkit membawa Persekabpas Pasuruan ke Divisi Utama (2004/2005-2006/2007) setelah berjuang dari Divisi II dan Divisi I. Pada musim 2007, dia juga berhasil membawa Persiku Kudus ke Divisi Utama. Musim 2008, dia menukangi Persema Malang dan membawanya ke Liga Super.

Subangkit kini pahlawan bagi masyarakat Malang. Dari tangan lelaki berpenampilan dingin ini, Malang kini tak hanya Arema Malang, tapi juga Persema. Sebelumnya, peristiwa serupa pernah ia alami ketika masyarakat Kudus menyebutnya sebagai pahlawan.

Nama Subangkit tak hanya berkibar ketika dia membawa Persekabpas menembus delapan besar Divisi Utama. Namanya sudah muncul ketika menjadi pemain. Dia adalah stopper tangguh Persekap Kota Pasuruan (1978), Assyabaab Surabaya dan Jaka Utama (1979), tim nasional (1979-1982), Niac Mitra (1984), Suryanaga (1985), serta Persebaya Surabaya (1986-1992).

Saya mengenal Subangkit dari Bambang Nurdiansyah. Subangkit, menurut Bambang, adalah fighter, memiliki standar disiplin yang tinggi, dan tak banyak menuntut. “Dia petarung, yang sudah dia perlihatkan ketika masih menjadi pemain, dingin, cerdas, dan sangat menyenangkan,” kata Bambang. Bangkit–begitu Subangkit biasa dipanggil–pernah menjadi asisten Bambang selama tiga tahun di tim nasional U-16 dan U-19.

Pertemanan keduanya begitu erat dan kental. Dan saya melihat kedekatan itu dari pesan-pesan pendek yang berseliweran di ponsel keduanya. Ketika Bangkit dipastikan membawa Persema ke Liga Super, Bambang mengirim SMS, “Hebat lo.” Kemudian Bangkit membalasnya dengan satu kata, “Jancuk.”
Saya tak ingin tergesa-gesa ikut mengatakan Subangkit hebat. Ini merupakan awal dari kebangkitannya. Dia boleh membawa Persema ke Liga Super dan menerima sebutan pahlawan dari masyarakat “Ngalam”. Tapi Bangkit masih harus membuktikan bahwa Persema tak hanya menembus liga tertinggi kita itu, tapi juga menyejajarkan diri dengan klub-klub elite, sebut saja Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, juga Arema Malang, klub sekota.

Tampilnya Persema di Liga Super pada musim kompetisi nanti bukan hanya faktor Subangkit. Saya melihat keseriusan Pemerintah Kota Malang membesarkan Persema meski masih memakai dana anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dalam APBD Kota Malang 2008, disebutkan bahwa dana Persema, yang diberikan melalui KONI Malang, sebesar Rp 15 miliar.

Selama ini Persema telah menggantungkan keuangannya kepada APBD Pemerintah Kota Malang. Pada 2003, Persema mendapatkan dana Rp 3,524 miliar, 2004 sebanyak Rp 8,324 miliar, 2005 sebesar Rp 14,5 miliar, 2006 mendapat bantuan Rp 17,250 miliar, dan musim kompetisi 2007 sebesar Rp 20 miliar. Melihat angka-angka ini, pastinya Persema tak bakal mengalami kesulitan di masa-masa mendatang dan angka ini bisa saja bertambah.

Angka-angka ini juga ikut menentukan nasib Subangkit, yang kini sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya di Pandaan. Saya tidak tahu kapan dia akan kembali ke Malang–Subangkit dikontrak Persema hanya untuk satu musim–dan kembali bersama pasukannya. Dan, tentu saja, saya tidak boleh cemas, jangan-jangan sudah ada klub lain yang sudah mengincarnya.

(Koran Tempo, Minggu, 31 Mei 2009, Ilustrasi Imam Yunni)