Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Suasana hati Arcan Iurie Anatolievici terlihat jelas pada wajahnya. Kusut dan tidak menentu. Dia berusaha tersenyum. Namun, semua itu tak mengubah keputusan manajemen Persebaya, yang tidak memperpanjang kontraknya sebagai pelatih, yang berakhir pada 31 Mei lalu. Iurie harus meninggalkan Surabaya dan ambisinya untuk meloloskan Bajul Ijo–julukan Persebaya–ke Liga Super pun kandas. “Tidak mengapa, saya tidak marah, ini biasa dalam sepak bola,” katanya.

Tidak ada alasan Iurie–lahir di Chisinau, Moldova, 15 November 1964–untuk marah. Ini adalah bagian dari sepak bola. Iurie harus bisa memahami bahwa dia sedang dan sudah berurusan dengan sepak bola Surabaya (Persebaya), yang penuh dengan polemik, intrik, dan ketidakpastian. Sepak bola Surabaya, yang disesaki kontroversi, selalu membetot perhatian banyak orang dan tetap dicintai.

Saya tidak akan mengatakan Iurie–pelatih Persija Jakarta (2005), Persib Bandung (2006 dan 2007), serta Persik Kediri (2008)–adalah korban arogansi pengelola Persebaya. Raihan prestasi The Green Force–julukan lain Persebaya–bisa menjadi tak penting ketika urusan internal tak bisa terselesaikan dan pergantian pelatih diyakini sebagai satu-satunya jalan keluar. Dan Iurie–dia hanya setengah musim di Persebaya–bisa menjadi tidak berarti.

Manajemen tidak peduli dengan ambisi Iurie, yang ingin meloloskan Persebaya ke Liga Super (Persebaya masih menyisakan satu pertandingan playoff pada 21 Juni nanti melawan Persitara Jakarta Utara atau PSMS Medan, dua klub Liga Super yang masih berjuang menjauhi zona merah). Kontrak dengan Iurie tidak diperpanjang dan Persebaya memanggil Aji Santoso, yang sebelumnya menukangi Persik Kediri.

Memutus kontrak atau memecat pelatih sudah biasa di Persebaya. Sebelum Iurie datang, manajemen mempersilakan Freddy Muli pergi. Freddy (kemudian dia melatih Persidafon Dafonsoro, yang sudah promosi ke divisi utama) pergi lantaran tak bisa menerima rasionalisasi yang dilakukan pengurus dengan alasan krisis keuangan. Padahal Freddy bekerja dengan loyalitas penuh sebagai mantan pemain Persebaya.

Freddy membawa Persebaya promosi ke divisi utama pada musim 2006. Memasuki musim 2007, Freddy ditendang (kemudian dia ke PSMS Medan) dan Persebaya ditangani Gildo Rodriquez. Namun, pelatih asal Brasil itu tak lama di Surabaya dan digantikan Ibnu Grahan. Grahan juga menjadi “korban” sebelum posisinya digantikan Suhatman Iman, yang ditarik dari PSP Padang.

Mengikuti (sebagian) perjalanan Persebaya sungguh mengasyikkan. Kompleks dan penuh liku. Namun, keputusan kontroversial para pengelolanya tak lantas membuat Persebaya dibenci. Persebaya bahkan semakin dicintai. Kita masih ingat bagaimana Persebaya memainkan sepak bola gajah (mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12 di arena Perserikatan 1988) hanya untuk menyingkirkan PSIS Semarang. Mereka menelanjangi diri, mencederai sportivitas, dan membunuh keindahan sepak bola Persebaya yang mengalir, hanya untuk balas dendam kepada PSIS (di final Perserikatan 1987, PSIS melibas Persebaya 1-0).

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya menolak bertanding dengan PKT Bontang, yang kemudian melempar Bajul Ijo ke divisi I. Pada 2005, Persebaya mundur dari babak delapan besar. Padahal status Persebaya adalah juara bertahan. PSSI kemudian menjatuhkan sanksi larangan tampil selama dua tahun. Namun, setelah pengurus melobi pejabat teras PSSI, hukuman Persebaya menjadi 16 bulan. Hukuman ini kemudian tak berlaku dan Persebaya tampil kembali meski ke divisi I.

Hukuman ini kemudian berlanjut ketika Persebaya dilarang bertanding di seluruh stadion di Jawa Timur dan Bonekmania–suporter Persebaya–dibekukan. Sanksi ini akibat ulah Bonek yang menyulut kerusuhan di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari ketika Persebaya menjamu Arema Malang. Tapi lagi-lagi hukuman ini kembali mentah setelah pengelola Persebaya kembali melobi pengurus teras PSSI.

Peristiwa-peristiwa ini tak serta-merta membuat citra Persebaya luntur. Persebaya kian dicintai, seperti cinta yang diberikan ketika para pendukungnya menanti Bajul Ijo meloloskan diri ke Liga Super setelah “memecat” Arcan Iurie Anatolievici.

(Koran Tempo, Minggu, 7 Juni 2009, Ilustrasi Imam Yunni)