Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Johanis Auri menyesal tidak bisa menyaksikan dari dekat pesta Persipura Jayapura. Dia harus menyelesaikan pekerjaan dan meninggalkan televisi di ruang kerjanya. Namun, mantan pemain nasional itu masih sempat mengungkapkan kekaguman ketika adik-adiknya dinobatkan sebagai juara Liga Super pertama pada Rabu lalu. Getaran pesta di tanah Papua itu menyentuh hatinya. “Saya bangga, mereka telah berbuat untuk Papua,” katanya

Auri–lahir di Manokwari, 30 Oktober 1954–adalah salah satu anak didik Wiel Coerver, pelatih tim nasional. Dia juga bermain untuk Indonesia Muda dan Persija Jakarta. Sejak gantung sepatu pada 1987 akibat cedera kaki, dia bekerja di PT Pertamina dengan mengawali karier sebagai petugas pengisian bahan bakar pesawat di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma. Kini dia menjabat Kepala Depot Pengisian Pesawat Udara Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.

Bob–demikian panggilan Johanis Auri di tim nasional–sebelumnya adalah salah satu pilar Persipura Jayapura pada awal hingga pertengahan 1970-an. Bersama, antara lain, Timo Kapisa (meninggal dunia di Biak pada 9 Juli 2007), Hengky Heipon (kapten tim), Tinus Heipon, Nico Patipeme, dan Robby Binur, Auri membuat Persipura begitu sangat disegani di pelataran sepak bola nasional.

Puncak prestasi Persipura adalah ketika mempermalukan Persija Jakarta di final Piala Soeharto III pada 1976. Di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno), 19 April 1976, anak-anak Persipura menenggelamkan Persija 4-3. Empat gol Persipura dipersembahkan Niko Patipeme, Jakobus Mobilala, Pieter Atiamuna, dan Timo Kapisa. Sedangkan tiga gol Persija dicetak Iswadi Idris (dua gol) dan Risdianto.

Persipura Jayapura bermarkas di Jayapura, ibu kota Irian Jaya, sebelum berganti nama menjadi Papua. Sedangkan Irian Jaya sebelumnya bernama Irian Barat (1969-1973). Persipura–berdiri pada 1950–mulai dikenal ketika mewakili Indonesia ke turnamen sepak bola Quoch Khan (Piala Kemerdekaan) di Saigon (sekarang Ho Chi Minh City), Vietnam, pada 1974. Setelah membawa pulang Piala Soeharto pada 1976, Persipura (plus) dikirim ke Merdeka Games 1977 di Kuala Lumpur dan King’s Cup 1977 di Bangkok.

Menurut cerita Auri, pemain Persipura dulu datang dari berbagai pelosok tanah di Irian Jaya. Pemain-pemain Persipura adalah kumpulan pemain dari Manokwari, Biak, Sorong, Serui, dan Merauke. “Kami berkumpul untuk Persipura,” katanya. Sebelum bergabung bersama Persipura, Auri bermain untuk Perseman Manokwari.

Sepak bola Papua tumbuh dan berkembang pesat. Selain Persipura, kini ada Persiwa Wamena (peringkat kedua Liga Super), Persidafon Dafonsoro dengan pelatih Freddy Muli, dan Persiram Raja Ampat, yang ditukangi Raja Isa (mantan pelatih Persipura). Sebelumnya, tim Papua Barat (Teluk Wondama), yang dilatih Paul Cumming, menggebrak Pekan Olahraga Nasional 2008 di Kalimantan Timur.

Kekuatan yang menyebar itu juga dirasakan Auri. Meski Persipura diperkuat sejumlah pemain asing berkulit hitam, sebut saja Victor Chukwuekezie Igbonefo dan Ernest Jeremiah Chukwuma, dengan pelatih Jacksen F. Tiago, juga berkulit hitam dari Brasil, Auri tak melihat ada keragaman di sana. Bahkan dia menyebut semua pemain berasal dari Papua.

Papua tak hanya melahirkan Johanis Auri, Timo Kapisa, Hengky Rumere, Rully Nere, dan Adolf Kabo, tapi juga Eduard Ivakdalam, Ian Louis Kabes, Imanuel Wanggai, Riacardo Salampessy, dan Boaz Salossa. Dan, banyak nama yang bakal menghiasi sepak bola nasional kita.

Saya melihat kaki-kaki emas itu di kaki Johanis Auri, yang masih menyimpan sepatu sepak bola di lemari kerjanya.

(Koran Tempo, Minggu, 14 Juni 2009, Ilustrasi Imam Yunni)