Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Lagu Persipura, yang dilantunkan Black Brothers, lama tak terdengar. Kelompok musik asal Jayapura itu pun telah lama bubar. Namun, entakan iramanya seolah masih mengiringi anak-anak Persipura Jayapura, yang tak henti-hentinya ingin mencetak gol. Setelah gelar juara Liga Super, skuad Jacksen F. Tiago itu juga ingin membawa pulang gelar juara Copa. “Saya masih ingin lebih lama berada di Jayapura,” kata Jacko, sapaan pelatih asal Brasil itu.

Jumat lalu, saya menemukan kaset asli The Best of Black Brothers–produksi PT Irama Tara tertanggal 14 Juni 1977–di Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru. Kaset itu berisi 14 lagu. Ketika mendengar lagu Persipura, saya membayangkan kaki-kaki emas, yang dianugerahkan Tuhan kepada anak-anak Papua, sedang menari-nari di lapangan hijau, mencetak gol, dan berlari kencang ke arah penonton. Saya membayangkan keindahan-keindahan dalam sepak bola di tanah Papua.

Orang telah tau, semua pun tau di lapangan hijau
kini tlah muncul di ufuk timur, mutiara hitam
Timo Kapisa, Johanis Auri, dan kawan-kawannya…
bermain gemilang, menerjang lawan dan selalu menang
Persipura, mutiara hitam…
Persipura, selalu gemilang

Persipura, yang diciptakan sekaligus dilantunkan Hengky Sumanti Miratoneng (dia meninggal di Belanda pada 19 April 2006), sarat dengan makna. Ada pengakuan, penyemangat, dan sentuhan ketika saya tidak hanya kembali mengingat Timo Kapisa, Johanis Auri, tapi juga Rully Rudolf Nere.

Rully–lahir di Jayapura, 13 Mei 1957–tak akan pernah lupa Kampung Harapan, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Danau Sentani. Setiap kali pulang ke kampung halamannya itu, setiap kali itu pula dia singgah ke sana dan mengingat-ingat masa kecilnya yang begitu indah. Di sana, di lapangan yang sudah ada sebelum dia lahir, Rully kecil melewatinya dengan bermain sepak bola.

Hari-hari Rully adalah bermain sepak bola. Namun, dia bisa bersedih ketika melihat rumput lapangan sepak bola Kampung Harapan di Papua tak lagi sehijau dulu. Tanahnya becek, berlubang, dan sudah dilintasi banyak sepeda motor ojek yang lalu lalang di atasnya. “Dulu, waktu kecil, saya main sepak bola di sini,” kata Rully.

Masa kecil mantan gelandang elegan tim nasional itu memang terasa indah. Rully–lahir dari keluarga yang datang dari Pulau Asei, Danau Sentani Timur–sangat menikmati keindahan di tanah Papua. Tapi Rully tak bisa berbuat apa-apa ketika keindahan itu harus tetap terjaga dan ketika kaki-kaki emas itu tak boleh berhenti mencetak gol. Dia hanya bisa berharap di Papua terdapat stadion megah dengan segala fasilitas internasional. Bukan Papua yang hanya berpuas diri dengan bakat alam, gelar juara Liga, juga Copa yang sedang diincar Persipura.

Sepak bola Persipura (Papua) sudah memperoleh segalanya. Sentuhan penyemangat tak hanya diberikan Black Brothers, juga Acub Zainal ketika menjadi Gubernur Irian Jaya (1973-1975). Jenderal–wartawan sepak bola memanggil Acub dengan sebutan ini–tak henti-hentinya memberikan sentuhan kepada Persipura, sekalipun dia sudah pergi dari Irian Jaya. Perjalanan Persipura, sepak bola di tanah Papua, juga Acub (meninggal pada 4 Oktober 2008) tidak bisa kita lupakan.

Satu hari menjelang grand final Piala Soeharto III antara Persipura dan Persija Jakarta di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno), pada 19 April 1976, Acub menulis surat untuk Hengky Haipon, kapten Persipura. Alinea terakhir surat yang dikirim dari Bandung itu berbunyi, “Hengky, sampaikan pertanyaan saya kepada seluruh pemain Persipura sebelum meninggalkan asrama menuju lapangan: siapa yang akan menang, Persija atau Persipura? Jawablah keras!”

Persipura akhirnya menggulung Persija 4-3. Surat Acub yang masih disimpan Benny Yensenem–gelandang Persipura pada 1970-an–seperti dilansir papuamania.com pada 10 November 2008 itu ternyata ikut menentukan kemenangan Persipura.

Kini, setelah gol-gol indah tercipta, ketika kemenangan sudah diraih, jangan sampai sepak bola Persipura, juga sepak bola Papua, kelak hanya tinggal nama seperti sepak bola Jakarta, yang kini sudah tenggelam.

(Koran Tempo, Minggu, 21 Juni 2006, Ilustrasi Imam Yunni)