Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tak ada lagi yang membuat Andjas Asmara bangga setiap kali dia melintasi Jalan H.O.S. Cokroaminoto. Stadion Menteng, yang dulu ikut membesarkan namanya, telah lama roboh dan berganti menjadi sebuah taman (Taman Menteng, yang diresmikan Gubernur Sutiyoso pada 28 April 2007). “Tak ada lagi cerita di sana,” katanya.

Mengendarai Harley Davidson tipe Fat Boy pada Sabtu pekan lalu, Andjas menjelajah kawasan Menteng. Tapi dia tak hendak berhenti di halaman, tempat di mana dulu stadion itu berdiri. Lelaki kelahiran Medan, 30 April 1950, itu merasa Stadion Menteng tak lagi menyisakan cerita. Apalagi jika dikaitkan dengan prestasi Persija Jakarta, yang semakin tidak menentu.

Persija kini sudah tenggelam dan tidak membanggakan lagi. Klub Perserikatan, yang dulu mengantar Andjas Asmara ke tim nasional, itu tak pantas lagi disebut sebagai tim elite. Setelah meraih gelar juara pada Liga Indonesia musim 2001, tim Ibu Kota itu terus mengalami penurunan prestasi. Ini terlihat ketika pasukan Danurwindo itu tidak mendapatkan apa-apa pada musim kompetisi tahun ini.

Persija memang masih berada di papan atas Liga Super. Tapi ini belum cukup membuat bangga siapa pun. Persija, yang bertaburan bintang dengan nilai kontrak gila-gilaan, bisa dipecundangi tim sekelas Persitara Jakarta Utara. Pada putaran kedua Liga Super, misalnya, Persija hanya memetik tiga kali kemenangan. Di arena Copa, Persija “jeblok abis”.

Saya tak hendak membangkitkan emosi Andjas. Dia terlihat sedih ketika kami ngobrol seputar kondisi Persija saat ini. Dia tidak bisa memahami penurunan prestasi Persija, klub sepak bola yang sudah memiliki segala-galanya. Dukungan dana yang memadai, punya materi pemain kelas satu, dan cinta yang diberikan suporternya.

Kondisi ini jauh berbeda ketika Andjas, bersama antara lain Oyong Liza,
Andi Lala (almarhum), Iswadi Idris (almarhum), Salmon Nasution (almarhum), Yudo Hadianto, Sutan Harhara, dan Risdianto mengacak-acak arena Perserikatan sepanjang 1970 hingga 1980. Persija tercatat sebagai pengumpul gelar juara terbanyak, lima kali, termasuk juara bersama PSMS Medan pada 1975. “Tidak ada yang bisa membantah prestasi ini,” kata Andjas.

Persija adalah Andjas. Anak kesayangan Wiel Coerver – pelatih tim nasional pra-Olimpiade 1976 asal Belanda – itu adalah ikon Persija. Dia bangga bermain bersama Persija. Dan, dia bisa sombong dengan menyebut sebelas pemain Persija adalah sebelas pemain yang bermain di tim nasional.

Terkesan tolol jika saya membandingkan Persija dulu dengan Persija kini. Tapi, jika ukurannya prestasi, jika ukurannya adalah gelar juara,
pasti ada sesuatu yang salah dalam tubuh Persija. Namun saya tidak menemukan sesuatu yang salah ini. Jika penyebabnya adalah materi pemain, sungguh saya tidak mengerti. Dan, saya semakin tidak mengerti jika benar Bambang Pamungkas bisa menjadi penentu pemain-pemain mana saja yang bisa bergabung masuk ke Persija, yang sebenarnya ini adalah urusan pelatih. Sesuatu yang salah ini juga tidak ditemukan Andjas ketika dia menanyakan hal ini kepada Ponaryo Astaman.

Stadion Menteng–dulu Persija bermarkas di sini–tidak meninggalkan
cerita bagi Andjas. Jika masih ada cerita yang harus dikenang, tentu
cerita ketika dia mendapatkan seorang gadis, yang kini menjadi pendamping hidupnya. Dari balik jendela mes Persija yang menghadap Jalan Sidoarjo, Menteng, hampir setiap pagi Andjas mengintip gadis pujaannya itu yang hendak pergi ke sekolah.

Selain mendapatkan cinta Denti Lusiana pada 1976 – dua tahun kemudian mereka sepakat berumah tangga – Andjas juga tak akan pernah lupa dengan Djafar Sidik, pedagang gorengan yang dulu mangkal di halaman stadion, yang menyiapkan tahu kosong, yang selalu dia pesan setiap kali ke Stadion Menteng.

Andjas agaknya tak ingin berlama-lama membalik kisah di balik Stadion Menteng, yang tak lagi berbekas. Di wajahnya, saya melihat Persija yang dulu perkasa, bukan Persija kini yang seperti tahu kosong.

(Koran Tempo, Minggu, 28 Juni 2009, Ilustrasi Imam Yunni)