Tag

, , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Aji Santoso tak singgah di Surabaya. Dia langsung ke Malang. Mantan pemain tim nasional itu baru saja mempertaruhkan namanya sebagai pelatih dengan menyelamatkan Persebaya Surabaya dari keterpurukan. “Itu perjudian besar bagi saya,” kata Aji di Bandara Juanda, Surabaya, Rabu lalu.

Aji baru saja berjudi. Jika gagal, namanya pasti ikut tercoreng. Tapi nasib lelaki yang rajin salat ini berkata lain. Dia baru saja mengantar Persebaya ke Liga Super musim mendatang setelah Bajul Ijo, julukan Persebaya, menghentikan PSMS Medan lewat drama adu penalti di Stadion Siliwangi, Bandung, Selasa lalu.

Setelah itu, Aji tak tinggal bersama Persebaya. Dia dikontrak Green Force, julukan lain Persebaya, hanya untuk satu pertandingan playoff dengan bayaran Rp 160 juta. Aji bekerja tidak lebih dari satu bulan setelah menggantikan Arcan Iurie Anatolievici, yang kontraknya diputus manajemen.

Tak lama di Surabaya, Aji kemudian pamit pulang ke Malang. Dari sini, setelah menemui istri dan anak-anaknya, Aji segera berangkat ke Samarinda. Dia sudah pasti menukangi Persisam Putra Samarinda, yang baru promosi ke Liga Super, dengan nilai kontrak mencapai Rp 1 miliar.

Perjalanan Aji sudah jelas dan langkahnya pasti. Sebelum membawa Persebaya ke Liga Super, Aji adalah pelatih Persik Kediri. Dia mengisi posisi Arcan Iurie, yang kabur dari Kediri lantaran klub di tepi Kali Brantas itu sedang dilanda krisis keuangan. Aji melanjutkan kerja Iurie yang tinggal setengah musim. Iurie sendiri kemudian bergabung ke Persebaya. Ketika masih di Persik inilah Aji sudah dilirik manajemen Elang Borneo, julukan Persisam.

Aji Santoso–lahir di Kepanjen, Kabupaten Malang, 6 April 1970–adalah pekerja keras, seperti posisi bek sayap yang dia tempati ketika masih menjadi pemain. Dia lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Masa kecilnya tidak begitu indah. Setiap hari, sepulang sekolah dan sebelum main bola, Aji harus membantu orang tuanya, yang bekerja di pabrik kerupuk. Dia juga menjual jasa sebagai pengangkut terasi dan ikan asin di pasar. “Masa lalu turut membentuk saya seperti sekarang,” katanya.

Nama Aji Santoso–dia gantung sepatu pada 2004 setelah 19 tahun jadi pemain–selalu terdengar ketika memperkuat tim nasional selama sembilan tahun (1990-1999). Dia ikut mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di SEA Games Manila 1991. Dia juga ikut membawa gelar juara Galatama untuk Arema Malang (1993) serta Liga Indonesia untuk Persebaya Surabaya (1998) dan PSM Makassar (2000).

Persebaya bukan klub asing bagi Aji. Pada 1995, dia pindah dari Arema ke Persebaya. Kepindahan ini kemudian mengundang protes Aremania dan menyebut Aji sebagai pengkhianat. Pada 2001, Aji kembali ke Arema hingga klub berjulukan Singo Edan itu terdegradasi ke Divisi I pada 2003.

Kini Aji tak lagi bersama Persebaya. Dia tidak akan pernah tahu nasib selanjutnya klub kesayangan masyarakat Surabaya yang selalu bergejolak dan disesaki polemik itu. Persebaya, yang dulu melahirkan nama-nama besar, mulai generasi Abdul Kadir, Rusdy Bahalwan, Rudy W. Keltjes, Soebodro, Subangkit, Mustaqim, hingga generasi Eri Irianto (almarhum) dan Bejo Sugiantoro, tak henti-henti diterjang masalah.

Perjalanan Persebaya penuh liku, tajam, dan mencemaskan. Keputusan kontroversial para pengelolanya sungguh sulit dimengerti. Kita masih ingat bagaimana Persebaya memainkan sepak bola gajah (mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12 di arena Perserikatan 1988) hanya untuk menyingkirkan PSIS Semarang. Mereka menelanjangi diri, mencederai sportivitas, dan membunuh keindahan sepak bola yang mengalir, hanya untuk balas dendam terhadap PSIS, yang mengalahkan Persebaya di final Perserikatan 1987.

Aji datang pada saat yang tepat ketika Persebaya membutuhkan seorang “pengkhianat”. Tapi, kini, setelah Aji tidak lagi di sana, Persebaya harus berada di tangan orang yang tak hanya mencintai sepak bola, tapi juga yang bisa mendinginkan tim ini ketika mulai bergejolak.

(Koran Tempo, Minggu, 5 Juli 2009, Ilustrasi Imam Yunni)