Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Harum rumput Stadion Bunga telah mengobati kerinduan Zulkarnain Lubis. Namun, kerinduan mantan pemain nasional, yang tersimpan lama, itu berbarengan dengan runtuhnya kebesaran PSMS Medan. Di sana, dia tak lagi melihat fanatisme anak-anak Medan di lapangan, yang telah banyak melahirkan pemain berbakat. “Di sini kami dulu berlatih dan menumbuhkan fanatisme itu,” katanya.

Jumat lalu, Zul, begitu saya memanggilnya, terlihat di stadion yang sudah bertahun-tahun dia tinggalkan itu. Malam sebelum melanjutkan perjalanan ke tanah kelahirannya di Binjai, yang letaknya sekitar 22 kilometer sebelah barat Medan, Sumatera Utara, kami masih sempat mengobrol seputar stadion, tempat dulu dia bersama PSMS berlatih. Tapi Zul tak mampu menyembunyikan perasaannya ketika melihat bangunan stadion tidak terawat, kotor, dan penuh debu.

Zul, PSMS, dan Stadion Bunga memang tidak bisa dipisahkan. Dia sedih dan darahnya seketika seperti bergejolak ketika saya menyinggung PSMS, yang sudah terlempar dari Liga Super sebagai kasta tertinggi sepak bola kita. PSMS, yang dulu membuat dia bangga, sudah menjadi tim kelas dua. Ayam Kinantan–julukan PSMS–yang dulu menjadi pemasok pemain ke tim nasional, sudah tidak berada dalam daftar tim-tim elite. Zul tak bisa memahami ketika PSMS harus degradasi ke Divisi Utama pada musim kompetisi mendatang.

PSMS adalah salah satu tim raksasa Perserikatan dengan tiga gelar juara, yakni pada 1967, 1971, dan 1975 (juara kembar bersama Persija Jakarta). Setelah meraih gelar juara Aga Khan Cup 1967 di Dakka, Pakistan, PSMS mewakili Indonesia ke Kejuaraan Antarklub Asia di Teheran, Iran, pada 1970. Pada 1974, PSMS, yang di dalamnya dipenuhi pemain nasional, tampil di final–sayang dihentikan oleh tim tuan rumah–Presiden Cup 1974 di Seoul, Korea Selatan. Pada 1977, PSMS mewakili Indonesia ke Queens Cup di Bangkok, Thailand.

PSMS adalah tim raksasa dan ini tak boleh ada yang membantah. Tim yang bermarkas di Stadion Teladan Medan itu tak hanya melahirkan Ipong Silalahi, Wibisono, Sarman Panggabean, Tumsila, Tumpak Uli Sihite, Nobon Kayamuddin, Ismail Ruslan, Parlin Siagian, Sunardi A, Zulkarnain Lubis, Abdul Rahman Gurning, dan Ponirin Mekka, tapi juga tumbuh sebagai tim yang menakutkan.

PSMS yang menakutkan itu adalah PSMS yang tampil dengan rap-rap, yang dikenal sebagai gaya bermain anak-anak Medan. Gaya yang sudah menjadi ciri khas ini adalah permainan yang bertenaga, keras, dan bisa menakutkan lawan. Rap-rap Medan selalu dinanti dan penonton fanatiknya bisa sangat terhibur. Menurut Fachri Husaini, mantan pemain nasional, rap-rap Medan hanya bisa dihadapi dengan kematangan pemain, juga tim secara keseluruhan.

Semua yang menakutkan itu kini telah hilang. Zul kini lebih kerap bungkam manakala PSMS tak lagi bisa membuat dia bangga. Meski demikian, Zul–lahir di Binjai, 21 Desember 1958–tidak begitu saja melupakan Stadion Bunga, juga PSMS, yang telah membesarkan namanya.

Zul kini tinggal di Cimahi, Jawa Barat. Dia adalah pemain PSMS (1979-1980) dan Mercu Buana Medan (1981-1982) sebelum memperkuat klub-klub elite di Pulau Jawa, di antaranya Krama Yudha Tiga Berlian dan Yanita Utama Bogor. Ketika memperkuat PSMS, Zul adalah pemain junior bersama Badiaraja Manurung. Di bawah komando pelatih Yuswardi, di sana sudah bercokol pemain-pemain dengan nama besar, sebut saja Nobon, Tumsila, Taufik Lubis, Suharno, dan Sunardi A.

Zul juga salah satu pilar tim nasional. Dia, yang pernah mendapat julukan sebagai Maradona Indonesia, adalah pemain gelandang yang memiliki akurasi umpan sangat baik. Dia ikut membawa tim nasional menjuarai Subgrup III Asia di penyisihan Piala Dunia Meksiko 1986 dan ikut menempatkan Indonesia ke semifinal Asian Games 1986 di Korea Selatan. Dia juga ikut mengantar Krama Yudha Tiga Berlian meraih dua gelar juara Galatama, pada 1987 dan 1988.

Kini Zul masih berada di Binjai dan Rabu nanti kembali ke Cimahi. Dia baru saja melepas rindu kepada kampung halaman, juga ibunya yang tinggal di sana. Kerinduan-kerinduan ini menjadi satu persis ketika dia juga merindukan fanatisme PSMS yang dulu tumbuh di Stadion Bunga.

(Koran Tempo, Minggu, 12 Juli 2009, Ilustrasi Imam Yunni)