Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bom di Mega Kuningan yang meledak pada Jumat pekan lalu tidak serta-merta menciutkan hati Agum Gumelar. Mantan komandan Kopassus, satuan elite TNI Angkatan Darat, itu berusaha tegar dan tetap tersenyum. Jika dadanya terasa sesak, itu lantaran Manchester United batal berkunjung ke Jakarta. Tapi, katanya, “Saya tidak kapok.”

Bisa dipahami jika Agum tidak kapok. Dia sudah mengalami banyak kegagalan dari banyak sukses yang dia raih. Agum, yang saya kenal ketika dia menjabat asisten intelijen I Kasdam Jaya pada 1992 (waktu itu Pangdam Jaya dijabat Kentot Harseno), adalah lelaki yang bekerja dengan total, tidak setengah-setengah, dan melibatkan cinta di dalamnya. Ini semua kembali saya lihat setelah dia menerima tawaran Julian Kam, bos ProEvent– match agent Manchester United untuk kawasan Asia–menjadi penyelenggara kedatangan Michael Owen dan kawan-kawan di Jakarta.

Jumat siang, beberapa jam setelah bom itu meledak, saya bertemu dengan Agum di Senayan. Dan seperti biasa, kami berjabat tangan komando. Tidak satu kata pun yang keluar dari mulut Agum. Dia terlihat bersedih. Namun, dia tidak boleh diam. Agum harus menjawab banyak pertanyaan akan kegagalan ini, yang sejatinya bukan dia seorang yang bertanggung jawab. Soal tenaga dan pikiran, tentu saja, dia tak akan mempersoalkan. Apalagi yang sudah dia kerjakan ini hanya untuk sepak bola Indonesia.

Manchester United tidak singgah di Jakarta. Padahal perjalanan pasukan Alex Ferguson itu tinggal dua jam lagi dari Kuala Lumpur. Dan kita tak akan pernah tahu kapan lagi mereka berencana tampil di Stadion Gelora Bung Karno seperti ketika mereka datang pada 1975.

Saya tidak melihat pembatalan kedatangan klub raksasa Eropa ini sebagai sebuah kegagalan dan juga kesalahan, yang dibebankan kepada satu orang. Pendukung MU–diperkirakan jumlahnya hampir 30 juta–harus bisa menerima kenyataan ini. Bom yang diledakkan di dua hotel mewah itu bukan semata-mata untuk menunda kedatangan para “seniman” sepak bola tersebut. Mungkin saja pelaku peledakan itu merupakan pendukung Manchester United dan bersama kita sebagai pencinta sepak bola.

Pembatalan kedatangan MU ke Jakarta hendaknya dijadikan pelajaran. Bukan dijadikan sebagai arena lempar tanggung jawab. Untuk mendatangkan MU ke Jakarta, dibutuhkan dana sekitar US$ 2 juta (untuk tim). Angka ini bisa membengkak untuk biaya penyelenggaraan dan keamanan, yang bisa mencapai US$ 2,5 juta. Sedangkan untuk tiket diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.

Angka-angka ini tidak ada artinya jika saja Manchester United datang ke Jakarta. Bahkan bisa memberikan keuntungan. Dan keuntungan-keuntungan itu, menurut seorang rekan, sudah dinikmati oleh orang yang merasa telah mendatangkan MU. Saya tak hendak mereka-reka sumber uang itu dari mana. Yang pasti–jika benar dana yang dipinjamkan tersebut dari seorang pengusaha–uang ini harus dikembalikan, termasuk keuntungan yang sudah dinikmati.

Pembatalan kedatangan MU ke Jakarta sejatinya tidak juga dijadikan kambing hitam dan pengalihan isu. Bom di Mega Kuningan itu disebut bakal membatalkan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Peristiwa peledakan bom di Mega Kuningan dijadikan saat yang tepat untuk melakukan reshuffle di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Dua fakta terakhir ini telah menggambarkan bagaimana sesungguhnya wajah sepak bola kita, sepak bola yang dikendalikan tidak dengan cinta dan hati nurani.

Saya sangat ingin segera bertemu dengan Agum lagi, dan mengobrol tentang sepak bola.

(Koran Tempo, Minggu, 26 Juli 2009, Ilustrasi Imam Yunni)