Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bambang Pamungkas (BP) tidak bisa menghalangi Ponaryo Astaman bermain di Sriwijaya FC pada musim kompetisi mendatang. BP juga harus menghargai pilihan rekannya itu. Keputusan yang diambil Popon–panggilan Ponaryo–adalah keputusan yang cerdas dan tak satu pun bisa menghalanginya. Dia tak hanya meninggalkan Persija Jakarta, tapi juga telah menempatkan dirinya sebagai seorang pemain profesional.

“Dia (Ponaryo) bakal menjadi ikon Sriwijaya,” kata Eddy Syahputra, pemilik Ligina Sportindo, agen pemain yang membantu kepindahan gelandang tim nasional itu.

Ponaryo sejak 25 Juli lalu sudah berada di Palembang. Dia melakukan sesuatu yang benar dan keringatnya sudah menetes di Stadion Jakabaring, kandang Sriwijaya. Ponaryo, agaknya, tak ingin berlama-lama membiarkan dirinya berada dalam ketidakpastian. Dia harus cepat mengambil keputusan dan segera pergi ke lapangan.

Jika kepindahan Ponaryo ke Sriwijaya terkesan alot, itu bisa dipahami lantaran ada angka-angka yang harus disepakati. Ponaryo, yang sesekali terlihat dengan berewok, tahu persis berapa harga kakinya. Dia memasang harga dan tidak salah jika manajemen Sriwijaya–sudah menetapkan kisaran Rp 750-900 juta untuk pemain lokal–mengajukan penawaran. Sedangkan nilai kontrak Ponaryo di Persija di atas Rp 1 miliar.

Perjalanan Ponaryo, yang diyakini bakal menjadi ikon Sriwijaya, biasa-biasa saja dan tidak terlalu istimewa. Namun, dia memiliki banyak kelebihan dibanding pemain-pemain lain. Dia berkelakuan baik, tidak emosional, bersahabat, dan bisa menyenangkan banyak orang. Kesempatan membesarkan Sriwijaya, tentu saja, tidak akan dia lepas. Ponaryo kini sudah menjadi wong kito.

Ponaryo–lahir di Balikpapan, 25 September 1979–mengawali karier di PKT Bontang pada 2002. Namanya mulai terangkat ketika memperkuat PSM Makassar pada musim berikutnya. Kemudian, berkat jasa Sodikin Aksa, tokoh otomotif Makassar, Ponaryo bermain untuk Telekom Malaka, klub anggota Liga Malaysia. Setelah satu musim bermain di negeri jiran, dia pulang ke Tanah Air dan bergabung bersama Arema Malang sebelum bermain untuk Persija Jakarta di Liga Super musim pertama pada 2008-2009.

Ponaryo, yang digadang-gadang menjadi pemain besar, kini sudah menjadi warga Palembang. Adapun Bambang belum juga mengikat tali sepatu bolanya. BP kini sedang berada dalam ketidakpastian. Dia belum memiliki klub setelah pembicaraan dengan manajemen Sriwijaya tidak berlanjut, padahal klub juara Copa Indonesia 2008-2009 itu begitu ngebet memilikinya.

Bambang adalah pemain mahal dan ini tidak bisa dipungkiri. Harga kakinya Rp 1,3 miliar atau setara dengan dana yang dipakai PSIS Semarang untuk satu musim kompetisi. Namun dia terlihat lamban dalam “menjajakan” dirinya. Bambang tidak melanjutkan pembicaraan dengan Sriwijaya FC. Ia kemudian melakukan pembicaraan dengan Persib Bandung dan jelas menolak tawaran Persikad Depok, yang bermain di arena Divisi Utama.

Saya menduga pangkal ini semua adalah ketika Persija kedatangan investor bernama Edy Joenardy, yang siap menggelontorkan Rp 50 miliar untuk klub elite Ibu Kota itu. Kehadiran pengusaha alat berat pertambangan dan sekuritas dalam bendera EJ Group Holding Company ini kemudian memunculkan kekisruhan. Tiga puluh klub anggota Persija keberatan ketika ada tanda-tanda mereka bakal ditinggalkan Edy dan pasukannya.

Saya tidak mengenal Edy dan ikut bertanya-tanya siapakah gerangan orang ini. Dia, katanya, orang kaya. Banyak uang dan siap merugi untuk sepak bola. Dia tak ingin ada polemik dalam sepak bola. Karena itu, dia cepat berpaling ke Persikad Depok dan sudah melakukan pembicaraan dengan empat pemain Persija, termasuk Bambang, yang belakangan dikabarkan batal berlabuh di Depok.

Saya mencoba memahami keberanian Edy, yang menceburkan dirinya dalam dunia sepak bola nasional, yang saya sebut sebagai hutan belantara. Edy boleh kaya, tapi jika tidak memiliki tim yang solid, dia bakal tersesat. Apalagi jika sepak bola dikelola mirip hitung-hitungan dalam manajemen restoran Padang di pinggir jalan.

Rabu lalu, bersama rekan, Kesit B. Handoyo, wartawan Topskor, dan Eddy Syahputra, agen pemain, saya berkesempatan makan siang di rumah makan masakan Padang, Kasihan Ombak. Rumah makan yang sudah ada sejak 1983 di Jalan Asia-Afrika di kawasan Senayan itu menjadikan rendang sebagai menu andalan dan siap menyajikan teh telur.

Setelah hampir satu jam bergunjing seputar nasib Persija, kami pun bubar. Hitungan-hitungannya pun jelas. Nasi sekian, rendang sekian, ikan asam padeh sekian, dan kemudian dijumlah. Sangat sederhana, tidak njelimet, dan tentu saja hitungan-hitungan ini tidak bisa dipakai dalam mengelola klub sepak bola, persis ketika Edy Joenardy, pengusaha kaya raya, bakal mengelola Persikad Depok.

(Koran Tempo, Minggu, 9 Agustus 2009, Ilustrasi Imam Yunni)