Yon Moeis
Wartawan Tempo

Lucky Acub Zainal masih menyimpan Arema Malang di hatinya. Virus CMV (cytomegalovirus), yang menyerang mata kanannya sejak Maret 2006 dan membuat dia buta, tidak lantas membutakan mata hatinya. Lucky masih melihat dan peduli terhadap masalah-masalah Arema. Dia masih sanggup tersenyum dan menyuarakan kedamaian untuk Arema. “Karena saya mencintai Arema,” kata Lucky.

Arema yang ada di hati Lucky itu adalah Arema yang kini masih dalam pembicaraan. Ini semua berawal setelah British American Tobacco Plc mengakuisisi 85 persen saham Bentoel–pemilik Arema–senilai US$ 494 juta atau hampir Rp 5 triliun pada pertengahan Juli lalu. Arema pun diupayakan merger dengan Persema Malang dan, tentu saja, langkah ini mendorong Arema ke arah kematian.

Mendengar ini, Lucky pun menyebut nama Eddy Rumpoko, rekannya yang kini menjabat Wali Kota Batu. ER–demikian Eddy disebut–kemudian bersiap menjadi pengelola Arema dan berjanji tidak menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah. Eddy, yang disebut sang penyelamat, segera mengumpulkan para pengusaha untuk menghidupkan Arema. Namun, pembicaraan yang berlangsung alot, tarik-menarik, dan ujungnya bisa tidak memuaskan itu hanya menempatkan Eddy sebagai Presiden Komisaris PT Arema Indonesia, yang didominasi orang-orang Bentoel. Cerita selanjutnya, Lucky tidak pernah tahu.

Lucky–kelahiran Malang, 9 Desember 1960, dengan nama Lucky Adrianda Zainal–adalah salah satu pendiri Arema pada 11 Agustus 1987. Dia mengelola Singo Edan–julukan Arema–dengan cinta dan hatinya. Dia pula yang membawa Arema meraih gelar juara Galatama 1992. Pada 29 Januari 2003, Lucky terpaksa menjual Arema kepada PT Bentoel Prima. Ini dia lakukan agar Arema tidak mati dan tetap berada di Malang.

Jika Lucky masih bicara seputar Arema, bukan berarti ia ingin kembali, tapi memang dirinya tak bisa dipisahkan dengan sejarah berdirinya Singo Edan. Meski secara fisik tak bisa mendekat, di hatinya masih ada Arema. Arema yang ia cintai itu adalah Arema yang tak hanya sebagai klub sepak bola, tapi juga Arema yang membuat orang Malang menjadi bangga, senang, bergembira, dan bersatu dalam satu jiwa.

Rabu lalu, saya menghubungi Lucky. Dia dalam perjalanan pulang ke Malang dari Tulungagung, kota kecamatan yang telah memberinya kedamaian ketika menjadi petani tebu dan kelapa. Lucky terdengar begitu bersemangat ketika saya mengajaknya kembali membicarakan situasi terakhir Arema. Dia tetap optimistis dan tidak cemas terhadap masa depan Arema, sesulit apa pun masalah yang menghadang. Gonjang-ganjing kepemilikan Arema akhir-akhir ini dia sebut sebagai sebuah proses, yang kelak bakal membesarkan nama Arema, yang telah melibatkan Eddy Rumpoko.

Lebih dari sepuluh tahun saya tidak bertemu dengan Eddy. Mas Eddy, demikian saya memanggil wali kota yang menjabat sejak Desember 2007 itu, juga memiliki hubungan emosional dengan Arema. Dia ikut menjembatani proses takeover Arema dari pemilik lama, Lucky Acub Zainal, ke Bentoel pada Januari 2003. Selain itu, Arema didirikan oleh Sugiyono (almarhum), ayah kandung Eddy, yang waktu itu menjadi Wali Kota Malang, bersama Acub Zainal (almarhum)–ayah kandung Lucky. Acub adalah Panglima Komando Daerah Militer Cenderawasih (1969-1973), Gubernur Irian Jaya (1973-1975), dan pendiri sekaligus Ketua Galatama (Liga Sepak Bola Utama), pengelola sepak bola semiprofesional.

Eddy Rumpoko telah ikut menyelamatkan Arema dan dipastikan batal menjadi pengelola. Ini sangat menggembirakan karena, terus terang, saya cemas terhadap dia. Saya lebih senang ER mengutamakan pembangunan di Batu ketimbang mengurus Arema, yang saya tahu–seperti Lucky–klub kesayangan masyarakat Malang ini juga tersimpan di hatinya.

(Koran Tempo, Minggu, 16 Agustus 2009, Ilustrasi Machfoed Gembong)