Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Patung itu telah lama roboh dan puingnya tak lagi tersisa. Namun, kenangan terhadap Ribut Waidi, yang patungnya berdiri tegak sejak 2003 di kawasan Jatingaleh, Semarang, tak akan pernah hilang. Dia adalah pahlawan sepak bola Indonesia. Tak seorang pun boleh melupakannya.

Ribut Waidi pantas dikenang, sekalipun dalam bentuk patung. Patung yang menggambarkan dirinya sedang menggiring bola di Jalan Karang Rejo, jalur utama menuju Stadion Jatidiri, Semarang, itu telah hilang ditelan angin dan tak lagi tersisa. Patung Ribut Waidi dibangun untuk mengingat jasanya sebagai pemain PSIS Semarang dan tim nasional. Tapi, katanya, “Masa lalu biarlah berlalu.”

Ribut–lahir di Pati, 5 Desember 1962–adalah bagian dari masa lalu. Namun, masa lalunya terukir dengan manis. Dia adalah penentu kemenangan Indonesia ketika untuk pertama kali meraih medali emas cabang sepak bola di SEA Games Jakarta 1987. Gol tunggal yang dia buat ke gawang Malaysia di final begitu fenomenal, indah, dan membuat sekitar 120 ribu penonton Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno) pantas mengenangnya.

Saya tidak akan pernah lupa Ribut Waidi dan selalu mengingat dia setiap kali Indonesia mempersiapkan tim sepak bola ke SEA Games. Juga ketika tim cabang sepak bola masih saja dibicarakan pantas atau tidak diberangkatkan ke SEA Games Laos, Desember mendatang.

Komite Olahraga Nasional Indonesia, sebagai induk organisasi tertinggi di Indonesia, tentu saja hanya memberangkatkan cabang yang pasti membawa pulang medali emas. Sedangkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia tidak pernah menjamin tim sepak bola Indonesia pasti tampil di final dan meraih emas.

Sementara tim nasional 1987 sudah memulai lewat kaki Ribut Waidi, hendaknya prestasi ini berlanjut. Persis ketika pelatih berdarah Rusia, Anatoly F. Polosin, melanjutkan tradisi emas itu di SEA Games 1991. Di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, tim nasional yang diperkuat, antara lain, Eddy Harto, Robby Darwis, Ferril Raymond Hattu, Maman Suryaman, dan Widodo C Putro menggilas Thailand di final. Namun, setelah itu, dalam delapan kali penyelenggaraan SEA Games berikutnya, tim nasional sangat mengecewakan, babak-belur, dan hanya sekali tampil di final ketika Indonesia menjadi tuan rumah pada 1997 di Jakarta.

Kini, pantaskah tim sepak bola Indonesia berangkat ke Laos? Saya terus terang tidak ingin mendengar pertanyaan ini. Tim sepak bola Indonesia harus tetap berangkat dan diberangkatkan dalam kondisi apa pun. Tapi, jika pertanyaan ini masih saja muncul, bahkan menjadi polemik yang berkepanjangan, tidak salah jika kita mempertanyakan kinerja para petinggi di PSSI. Ini semua bisa berkembang ketika mereka terbiasa mengabaikan target dan mengaburkannya dengan sasaran antara. Jika ada kegagalan, hal itu dianggap biasa.

SEA Games 2009 di Laos adalah SEA Games keempat bagi Nurdin Halid dan pasukannya, yang masih berkuasa hingga 2011. Seharusnya–setelah tim nasional gagal di SEA Games Nakhon Ratchasima, Thailand, Desember 2007–para petinggi di PSSI sudah bisa memberikan jaminan medali emas di SEA Games berikutnya di Laos. Namun, mereka malah sibuk memperpanjang masa kekuasaan.

Patung Ribut Waidi, yang dulu berdiri gagah di depan kantor PLN Jatingaleh, tak lagi tersisa. Dan, kelak, kita tak akan pernah melihat monumen bersejarah lantaran prestasi sepak bola Indonesia masih jalan di tempat.

(Koran Tempo, Minggu, 30 Agustus 2009, Ilustrasi Imam Yunni)