Tag

Yon Moeis
Wartawan Tempo

“Kemewahan” itu telah didapat Kurniawan Dwi Yulianto. Dia sudah terbiasa membasahi muka dengan air wudu. Dia semakin khusyuk, dan sajadah tak pernah jauh darinya. Dia kini sedang melewati Ramadan di Lamongan, yang merupakan kemewahan yang tak tertandingi bagi mantan pemain nasional itu, bersama Nur Ratqana Dewi, wanita Sarawak, yang dia nikahi Mei lalu.

Kurniawan kini sudah banyak berubah. Dia meraih kemewahan lain setelah banyak kemewahan yang dia tinggalkan. Dia pernah meraih puncak sebagai pemain sepak bola. Dia pernah gagal dalam berumah tangga (dengan Kartika Dewi, istri pertamanya, dia dikaruniai dua putri: Tazkia Aulia dan Anissa Azzahra). Dia pernah menikmati dunia malam. Dia pernah bergaul dengan ekstasi, juga sabu, yang menenggelamkan kariernya.

Kurniawan yang telah berubah itu beruntung masih bertahan sebagai pemain sepak bola. Tali sepatunya masih terikat kencang. Dia kini tercatat sebagai pemain Persela Lamongan–sebelumnya bermain di Persisam Samarinda–yang bermain di Liga Super untuk musim kompetisi mendatang (Widodo C. Putro, pelatih Persela, pernah satu tim dengan Kurniawan di SEA Games Chiang Mai 1995). Dia belum ingin gantung sepatu. Padahal usianya sudah 33 tahun. Dia bertahan ketika bintang tim Primavera itu dikatakan sudah habis.

Kurniawan Dwi Yulianto–lahir di Magelang, 13 Juli 1976–tentu saja tak ingin dikatakan sudah habis. Dulu, Ade, nama panggilan Kurniawan, disebut sebagai pemain masa depan ketika Nirwan D. Bakrie memberangkatkan 20 anak muda berlatih ke kota kecil bernama Tavarone di Genoa, Italia, awal Juli 1993. Ade tumbuh dan matang sebagai pemain sepak bola. Pujian pun berhamburan datang setelah dia berlatih dan berkompetisi selama satu tahun di negeri spaghetti itu.

Danurwindo, pelatih yang mendampingi tim Primavera berkompetisi di Sampdoria junior, menyebut Ade seperti Marco van Basten. Cekatan, punya naluri mencetak gol, dan meledak-ledak. Sven-Goran Eriksson, pelatih Sampdoria waktu itu, memuji bakat yang dimiliki Ade. “Bakatnya luar luar biasa. Dia sedang mengembangkan diri menjadi pemain profesional,” kata Eriksson. “Dia cepat, pandai, dan mentalnya baik,” kata Enrico Ercolani, manajer Sampdoria.

Semua pujian itu semakin nyata ketika Kurniawan memperkuat Sampdoria melawan Liga Selection di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno) pada 8 Mei 1994. Blucerchiati, waktu itu, dalam tur pertamanya ke Asia, membawa pemain-pemain kelas satu, di antaranya, David Platt, Roberto Mancini, dan Attilio Lombardo. Sebelumnya, Ade berlatih bersama Sampdoria sebagai pemain tamu. Setelah itu, dia memperkuat FC Lucern di Liga Swiss sebelum akhirnya bergabung bersama Pelita Jaya pada 1996.

Saya ikut bangga atas kehadiran Kurniawan di kompetisi nasional. Tapi diam-diam saya mulai menarik simpati terhadapnya ketika saya bersama Zulkarnain Lubis (mantan pemain nasional) memergoki Ade berada di sebuah diskotek di kawasan Hayam Wuruk. Saya tak lagi bisa membedakan antara bau parfum Bvlgari dan bau keringat dari tubuhnya. Ade, yang pernah saya banggakan itu, telah berada di dunia gemerlap. Dan tak seorang pun bisa menolong dia selain dirinya sendiri.

Saya tidak lagi mengikuti Ade ketika dia pindah ke PSM Makassar (1999-2001). Kemudian dia hijrah ke PSPS Pekanbaru (bermain dua musim dan pada 2002 menjadi pemain termahal dengan nilai kontrak Rp 500 juta ditambah gaji Rp 10 juta per bulan) sebelum berlabuh di Persebaya Surabaya (2004). Dia bermain untuk Persija Jakarta (2005), Sarawak FC (2006), dan PSS Sleman (2006).

Nama Kurniawan Dwi Yulianto kembali hadir ketika memperkuat Persitara Jakarta Utara pada musim 2007 dan meloloskan Laskar Si Pitung ke Liga Super 2008. Di sini, dia memperlihatkan perubahan-perubahan, yang membuat siapa pun bisa tidak percaya . Hary “Gendhar” Ruswanto, Manajer Persitara, dan Abdul Rahman Gurning, pelatih Persitara, adalah orang-orang yang ikut mengarahkan jalan hidup Kurniawan. Hary mengembalikan citra Kurniawan. Sedangkan Gurning sering terlihat salat asar berjemaah bersama Kurniawan saat jeda pertandingan Persitara melawan tim tamu di Stadion Kamal Muara, Jakarta Utara.

Kurniawan kini menetap di Lamongan. Dia sedang menikmati kemewahan Ramadan di sana.

(Koran Tempo, Minggu, 6 September 2009, Ilustrasi Imam Yunni)