Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tidak satu pun bisa mematahkan semangat Mangombar Ferdinand Siregar atau yang lebih dikenal M.F. Siregar. Dia tak terlihat lelah. Dia ingin terus mengabdi. Jika dia gelisah, kegelisahan itu tak jauh dari kondisi olahraga kita, yang tak kunjung membaik. “Saya selalu gelisah karena saya mengikuti olahraga di negeri ini sejak nol,” katanya.

Selasa lalu, saya menemui Opung–demikian kami memanggil bapak lima anak, empat putri dan satu putra, dengan sembilan cucu itu–di kantornya di Senayan. Dia terlihat gagah. Tawa dan candanya sangat menyenangkan. Dia bertutur dengan kalimat-kalimat yang sederhana, tidak jelimet, dan berbobot. Siregar selalu menambah “dan lain sebagainya dan lain sebagainya”, sebagai penekanan setiap kalimat yang dia ucapkan.

Siregar–lahir di Jakarta, 11 November 1928–adalah teknokrat olahraga yang tak tertandingi. Jika omong soal olahraga, Siregarlah orangnya. Dia sangat cerdas, dan kecerdasan itu sudah dia perlihatkan sejak masa kanak-kanak di Jalan Malabar di kawasan Menteng Pulo. Siregar kecil adalah jagoan. Dia belajar renang di banjir kanal. Dia main sepak bola di lapangan Tangkubanperahu, dekat rumahnya. Dia punya anak buah dan biasa di sebut “Sinyo Malabar”.

Siregar adalah pembuka lembaran-lembaran sejarah olahraga nasional. Dia memulainya di SEA Games 1977 Kuala Lumpur (sebelumnya bernama Southeast Asian Peninsular Games dan sudah digelar delapan kali sejak 1959 di Bangkok, Thailand). Di pesta olahraga Asia Tenggara pertama itu, Indonesia mendominasi dan berpesta di kolam renang (21 emas, 9 perak, dan 5 perunggu). Ini tentu saja mengejutkan. Siregar pun dicari banyak orang. Dia adalah otak semua ini.

Karya femomenal Siregar adalah dua medali emas Olimpiade Barcelona 1992, yang dipersembahkan Susy Susanti dan Alan Budikusuma (kemudian keduanya menikah pada 1997). Ini merupakan obsesi Siregar yang sudah tertanam sejak dia menerima penghargaan emas L’ Ordre Olympique dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang ditandatangani Presiden Juan Antonio Samaranch pada 29 Januari 1986. Olympic Order yang dikalungkan ke leher Siregar itu berbentuk dua tangkai daun zaitun, yang bunganya berbentuk lonceng. Dan, tangkai zaitun berbunga ini kerap dipakai sebagai lambang perdamaian.

Indonesia Raya berkumandang di Barcelona (sebelumnya trio srikandi Indonesia, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani, meraih perak di Olimpiade Seoul 1988). Air mata Susy membasahi Pavello de la Mar Bella. Tapi Siregar tidak ada di sana. Dia sedang terbaring di San Francisco Heart Institute, San Francisco, Amerika Serikat. Siregar mengalami serangan jantung saat hadir dalam latihan menjelang keberangkatan tim bulu tangkis ke Barcelona.

Raihan dua medali emas ini berawal ketika Try Soetrisno, waktu itu Ketua Umum PB PBSI, meminta Siregar menjadi pemimpin proyek Olimpiade Barcelona. Siregar menyanggupi. “Padahal gue nggak ngerti apa-apa. Gue tanya cara penghitungan skor bulu tangkis sama Verawaty (Fajrin),” kata Siregar.

Siregar tak pernah lelah dan tak ingin segera berhenti. Dia sudah bertahun-tahun memberikan cinta dan hatinya untuk olahraga Indonesia. Pergaulannya di dunia internasional begitu luas. Dia sangat leluasa bicara soal pembinaan olahraga dengan Soekarno. Dia sering memberikan masukan-masukan seputar penyemangat olahraga kepada Soeharto (kita masih ingat Soeharto bersepeda tandem dengan Ibu Tien dari Cendana ke Istana pada peringatan Hari Olahraga Nasional 1988).

Siregar tidak berharap balasan jika dia harus tetap berpikir untuk olahraga nasional. Juga ketika dia memberikan masukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membentuk Dewan Keolahragaan Nasional. Ini dia lakukan setelah melihat kondisi olahraga nasional yang semakin memburuk. “Saya berdosa jika tidak menyampaikan ini kepada Presiden,” katanya. “Buat apa gue punya otak kalau bukan untuk olahraga Indonesia.”

Siregar tak terlihat lelah. Dia ingin terus mengabdi. Dia tetap tenang mengendalikan kegelisahannya, persis seperti ketenangan yang saya lihat di wajahnya ketika untuk pertama kalinya Indonesia diruntuhkan Thailand di SEA Games Bangkok 1985.

(Koran Tempo, Minggu, 13 September 2009, Ilustrasi Imam Yunni)