Yon Moeis
Wartawan Tempo

Adhyaksa Dault tidak memperlihatkan tanda-tanda bakal berhenti menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Dia tetap bersemangat dan masih saja menyuarakan yang tidak pasti. Selasa lalu, di Stadion Tenis Tertutup Gelora Bung Karno, dalam acara peringatan Hari Olahraga Nasional 2009, menteri yang meledak-ledak itu kembali mengatakan Indonesia pasti menempati peringkat ketiga di SEA Games Laos, Desember nanti.

Pernyataan Pak Menteri ini tentu saja sangat tidak populer, biasa-biasa saja, dan tidak mengejutkan. Mungkin saja dia ingin membuat banyak orang menjadi senang jika target itu tercapai. Tapi menyuarakan pembangunan fondasi olahraga yang sudah roboh jauh lebih penting ketimbang berkutat dalam urusan peringkat di Asia Tenggara, karena kita pernah menjadi raja di kawasan ini.

Saya mencoba memahami semangat Adhyaksa–menjadi menteri pada 21 Oktober 2004–ketika dia akan mengakhiri tugasnya. Tapi bukan berarti saya harus memujinya dan mengatakan lelaki kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 7 Juni 1963, itu masih bisa dipercaya memegang jabatannya untuk empat tahun mendatang. Bukan berarti pula saya bisa seenaknya menanyakan apa yang sudah ia lakukan selama empat tahun sebagai menteri.

Saya tidak pandai membuat hitungan-hitungan politik dan mereka-reka nama yang bakal menggantikan Adhyaksa. Siapa pun penerusnya, dia harus bisa bangun pagi, mampu menjaga kehangatan, serta berbicara dan bertindak dalam bahasa olahraga. Menteri Pemuda dan Olahraga mendatang tidak harus banyak tahu tentang olahraga dan tidak merasa sok tahu. Dia adalah manajer yang berkualitas, mampu menahan diri, dan mau mendengar.

Sangat membanggakan ketika mendengar jabatan ini begitu diminati. Bahkan, menurut cerita seorang teman, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menerima curriculum vitae pelamar, yang mencapai 300 lembar. Saya tidak merasa tertipu dengan cerita yang mungkin saja dibesar-besarkan. Jika kenyataannya hanya sepuluh pelamar, misalnya, saya juga senang, ternyata masih ada orang yang mau mengurus olahraga di negeri ini.

Sebelum Adhyaksa, sudah ada tujuh nama yang menjabat menteri olahraga. Jauh sebelum Dr Abdul Gafur menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pertama (1983-1988) setelah menjabat Menteri Muda Urusan Pemuda (1978-1983), Maladi adalah Menteri Olahraga pertama dan kedua pada Kabinet Dwikora (Agustus 1964-Februari 1966 dan Februari 1966-Maret 1966). Setelah Gafur, ada Akbar Tandjung (1988-1993), Hayono Isman (1993-1998), Agung Laksono (1998-1999), dan Mahadi Sinambela (2001-2004). Pada periode 1999-2001, departemen ini ditiadakan.

Siapakah nama berikutnya? Tidak ada yang bisa menolak jika nama itu adalah Andi Mallarangeng. Saya tidak akan cepat-cepat berprasangka buruk jika jabatan menteri ini diberikan kepada Andi sebagai hadiah setelah empat tahun menjadi juru bicara presiden.

Andi Alifian Mallarangeng–lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Maret 1963–adalah pengamat politik yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dia tak asal omong dan baru bertindak setelah berpikir. Saya tidak tahu banyak tentang Anto, demikian teman-teman dekatnya memanggil lelaki dengan senyum khas ini.

Andi adalah petenis yang selalu kandas di babak penyisihan. Dia jago tenis meja kelas kampung ketika kuliah di Yogyakarta . Dia adalah perenang andal yang belajar berenang di pantai dekat Pelabuhan Pare-pare. Andi pernah bersepeda dari kediamannya di Ciracas ke Istana.

Selamat datang, Bang Andi.

(Koran Tempo, Minggu, 18 Oktober 2009, Ilustrasi Imam Yunni)