Yon Moeis
Wartawan Tempo

Seorang teman mencibir ketika saya menyebut nama Anda bakal menggantikan Adhyaksa Dault sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Dia cemas dan berterus terang bahwa Anda, yang lebih banyak ngomong politik, tidak bakal memberi apa-apa sebagai menteri, seperti kecemasan yang dia rasakan lima tahun terakhir ini ketika olahraga nasional hanya diisi polemik, amarah, dan ketidakpastian prestasi.

Saya, tentu saja, tak akan mencibir dan tidak punya alasan ikut cemas. Buat saya, Anda harus bisa bangun pagi dan setiap pagi menggelorakan semangat berolahraga sekaligus memberikan kesejukan kepada siapa pun.

Bang Andi, saya tak akan menanyakan konsep yang Anda punya ketika Anda menerima jabatan ini di Cikeas. Saya juga tidak akan menanyakan apa yang hendak Anda lakukan dalam seratus hari ke depan. Sebab, untuk meraih prestasi, tidak ada istilah instan, jalan pintas, dan tidak bisa langsung menjadi atlet andalan. Atlet harus dicetak, dipersiapkan, dan dipelihara. Sekali-sekali boleh juga Anda menengok Sekolah Atlet Ragunan, yang kini sudah memudar dan tak lagi “berpenghuni”.

Saya ingin mengajak Anda melihat kondisi dunia olahraga kita, yang sudah berada di titik nadir terendah. Kita sedang mengalami masa-masa suram. Ini sungguh menyedihkan. Kita sudah menjadi negara yang kalah.

Di Asia Tenggara, Indonesia berada di belakang Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Padahal, di kawasan ini, sejak SEA Games (Southeast Asian Games) pertama kali digelar di Kuala Lumpur pada 1977 (sebelumnya bernama Southeast Asian Peninsular Games dan pertama kali digelar di Bangkok, Thailand, pada 1959), kita adalah raja dan sudah sembilan kali tampil sebagai juara umum (Thailand merebut gelar ini di Bangkok pada 1985 dan Chiang Mai pada 1995). Setelah itu, di lima SEA Games terakhir, kita sudah menjadi pecundang.

Di tingkat Asia, Indonesia berada di peringkat ke-22 di Asian Games Doha, Qatar, pada 2006 setelah berada di peringkat ke-14 di Asian Games Busan, Korea Selatan, 2002 dan peringkat ke-11 di Asian Games Bangkok, Thailand, 1998. Sedangkan di arena Olimpiade, Indonesia berada di peringkat ke-42 di Olimpiade Beijing, Cina, 2008 setelah di peringkat ke-48 di Olimpiade Athena, Yunani, 2004. Di tingkat dunia ini, beruntung kita masih bisa mengandalkan cabang bulu tangkis (Susi Susanti dan Alan Budikusuma membuka tradisi medali emas di Olimpiade Barcelona, Spanyol, 1992).

Menghadapi kondisi ini, tentu saja, Anda tidak bisa sendiri. Pak Menteri harus membuka diri lebar-lebar dan berbicara dengan para pelaku olahraga di negeri ini. Pak Menteri harus berada di depan, tapi bukan berarti bisa membuat proyek sendiri. Soal pembinaan atlet, serahkan saja kepada klub atau pengurus olahraga cabang yang bersangkutan. Pak Menteri cukup menebarkan kemenangan di mana-mana. Dalam menjalankan peran sebagai menteri, jika saya ibaratkan sebagai petinju profesional, jadilah petinju bertipe slugger.

Bang Andi, petinju bertipe slugger senang bermain jarak dekat sebelum melayangkan pukulan-pukulan berkekuatan tinggi, seperti hook dan uppercut. Dia sangat disukai penonton karena pasti mengakhiri pertarungan dengan kemenangan KO. Petinju dengan gaya ini tidak banyak omong. Dia percaya diri dan sangat mengandalkan kekuatan pukulannya (Khaosai Galaxy, petinju Thailand bertipe slugger, menghentikan Ellyas Pical dalam partai Kejuaraan Dunia versi WBA kelas bantam junior di Jakarta, Februari 1987).

Bertinju dengan gaya slugger bisa Anda pakai dalam menyikapi masalah-masalah yang muncul di arena sepak bola nasional. Mulai baku hantam antarpemain, keributan antarsuporter, wasit yang dinilai tidak becus memimpin pertandingan, pemain asing yang bertingkah, hingga keputusan-keputusan yang kontroversial. Ini semua bakal menjadi sarapan pagi Anda sebagai menteri. Anda juga harus menyikapi mimpi-mimpi indah pengurus teras Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, yang ingin menggelar Piala Dunia 2022 di Indonesia. Padahal menyempurnakan kompetisi dan memperbaiki prestasi tim nasional jauh lebih penting ketimbang mengajak orang bermimpi.

Pak Menteri, jadilah petinju bertipe slugger, saya akan menjadi sparring partner Anda.

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 25 Oktober 2009)