Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tentara itu sudah kembali. Evert Ernest Mangindaan adalah tentara yang pernah kalah sebelum bertempur. Dia “dikalahkan” oleh peraturan sebelum maju sebagai calon Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia pada pemilihan 2003. Kini tentara itu sudah kembali dan menjadi menteri.

Lape–demikian E.E. Mangindaan disebut–tidak kembali ke komunitas sepak bola. Tapi darah sepak bola masih tetap mengalir di tubuhnya. Di hatinya juga masih tersimpan cinta seperti yang ditularkan ayahnya, Erents Alberth Mangindaan. E.A. Mangindaan–kami dulu memanggilnya opa–adalah pelatih tim nasional pada 1966-1970. Opa meninggal pada 3 Juni 2000 dalam usia 90 tahun.

Mangindaan–lahir di Solo, 5 Januari 1944–adalah orang sepak bola yang juga dikenal sebagai gila bola. Dia Gubernur Sulawesi Utara periode 1995-2000 dan kini menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Dia pernah bergabung bersama PSM Makassar, manajer tim nasional Garuda, dan tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan PSSI, organisasi tertinggi sepak bola nasional, yang pernah menolaknya untuk kembali.

Tentara yang pernah kalah perang itu kembali pada saat yang tepat. Dia kembali ketika segelintir orang di PSSI masih saja ngotot menuntaskan ambisi. Pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 masih terus diupayakan. Lape, juga Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, dikatakan sudah menyetujui rencana ini. Dan, tentu saja, ini merupakan upaya memasukkan ciri fait accompli ke dalam sepak bola.

Saya tidak akan menghalangi atau mempengaruhi Mangindaan untuk tidak merespons pencalonan itu. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia jauh lebih pintar dan saya tahu persis kemampuan yang dia miliki. Visi sepak bola Mangindaan jelas, cerdas, dan bertanggung jawab. Dia tak pernah mengkhianati sepak bola.

Saya pernah mengobrol dengan Lape seputar masa depan sepak bola Indonesia di Cibubur. Waktu itu, dia baru saja mengantar tim nasional tampil di final King’s Cup 1984 (Indonesia dikalahkan Thailand 3-0) sebagai manajer tim nasional Garuda. Ini merupakan prestasi ketiga setelah tim nasional menjuarai King’s Cup pertama pada 1968 setelah di final mengalahkan Burma 1-0 dan meraih gelar runner-up setelah dikalahkan Korea Selatan 1-0 dalam King’s Cup kedua pada 1969. Setelah itu, nama Indonesia tak lagi terdengar di Bangkok, kota turnamen tahunan memperingati ulang tahun raja itu digelar.

Obrolan seputar tim nasional berlanjut ketika Lape menggelar Piala Opa Mangindaan pada 1995. Di sela-sela pertandingan di Stadion Klabat Manado, saya ingat betul bagaimana dia begitu mendambakan tim nasional yang kuat seperti yang dia ungkapkan kembali ketika mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI periode 2003-2007.

Indonesia, kata Lape, membutuhkan tiga tim nasional yang terbagi dalam tiga wilayah yang disesuaikan dengan luas wilayah Indonesia. Setiap wilayah, ia melanjutkan, tim nasional dibagi pada tiga kategori, yaitu senior, junior, dan kelompok umur. Dengan demikian, Indonesia memiliki sembilan tim nasional yang siap diterjunkan ke berbagai event internasional. “Indonesia harus menjadi negara yang disegani dan ditakuti lawan,” katanya.

Obsesi membangun tim nasional impian ternyata tidak pernah kesampaian. Lape gagal menjadi Ketua Umum PSSI. Dia tidak cukup punya banyak uang untuk menjadi orang nomor satu di tubuh organisasi, yang selalu mengundang polemik dan disesaki kontroversi. Waktu itu Lape bukan lagi pejabat. Dia hanya bisa menutup mata ketika pemilihan yang diwarnai politik uang itu akhirnya memilih Nurdin Halid.

Mangindaan, tentara itu, telah kembali.

(Koran Tempo, Minggu, 1 Nopember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)