Yon Moeis
Wartawan Tempo

Andi Mallarangeng pandai benar menempatkan diri ketika menghadapi kondisi yang bakal melibatkannya. Dia terlihat tidak emosional, masih sanggup tersenyum, dan berusaha tenang karena Menteri Negara Pemuda dan Olahraga ini memang tidak dalam tekanan.

Rabu lalu, di kantornya, Andi menerima rombongan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, yang dipimpin Nurdin Halid. Kedatangan pemimpin organisasi olahraga yang pernah mendekam di penjara itu, tentu saja, sudah bisa ditebak. Nurdin pasti minta dukungan Andi seputar rencana PSSI menggelar Piala Dunia 2022 di Indonesia.

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup selama sekitar satu jam itu, Andi tidak mengeluarkan keputusan apa-apa sebagai wakil pemerintah. Namun, dia tak akan menghalangi PSSI mengembangkan program-program untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah pesta paling akbar di dunia itu. “Saya tunggu pemaparan program PSSI lebih lanjut, saat ini waktunya terlalu sempit untuk membahas hal seperti itu,” kata Andi.

Andi memang pandai menempatkan dirinya. Dia tidak gegabah menyikapi orang yang sedang bermimpi. Ibarat petinju, ia adalah petinju bertipe slugger. Sejatinya Andi masuk terlebih dulu mendekati lawan seperti yang sudah menjadi ciri petinju dengan tipe ini. Tapi, kali ini, dia menunggu untuk kemudian melayangkan upper cut. Sehingga para petinggi PSSI itu pulang tidak membawa apa-apa.

Nurdin, untuk mewujudkan mimpinya, sudah melangkah jauh. PSSI, katanya, sudah menganggarkan dana sekitar Rp 240 miliar untuk memuluskan langkah Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Dana itu akan digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan dalam proses bidding (penawaran) yang akan dilakukan PSSI, seperti kegiatan kampanye, promosi, lobi, dan pembayaran konsultan.

Persoalannya kini bukan lantaran mereka sudah melangkah jauh sehingga mengharuskan siapa pun mendukung rencana ini. Apakah Nurdin Halid, yang sudah “menjual” nama Indonesia, sudah mensosialisasi rencana itu kepada seluruh komponen sepak bola di negeri ini? Sehingga tidak memunculkan dugaan bahwa ini hanya proyek sesaat.

Pertanyaan ini bisa saja dianggap basi, tapi bisa menjadi penting. Siapa pun, termasuk Andi Mallarangeng, tidak boleh menolak jika komunitas sepak bola Indonesia–yang di dalamnya ada pemain, mantan pemain nasional, pelatih, mantan pelatih nasional, suporter, wasit, pemilik klub, dan tokoh sepak bola nasional–sudah memberikan dukungan. Atau, ada pilihan lain, hentikan saja mimpi ini karena keraguan sudah muncul di mana-mana.

Membawa Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2022–meski lewat bidding–merupakan proyek yang tidak bisa dikerjakan sambil jalan. Meski demikian, saya tidak akan pernah ragu atas kerja para petinggi PSSI. Tapi, mengkaji kemampuan yang kita miliki, dan melihat persiapan negara-negara lain yang berkeinginan serupa, bisa dijadikan pijakan untuk PSSI tidak meneruskan rencana ini.

Lantas bisakah kita dikatakan sebagai bangsa pengecut? Jika saja besok, lusa, atau minggu depan Nurdin Halid mengeluarkan pernyataan bahwa PSSI menarik diri dari bidding Piala Dunia 2022 dan akan berkonsentrasi pada pembentukan tim nasional yang tangguh, tentu saja tidak ada yang boleh mengatakan ini adalah tindakan pengecut. Siapa pun, juga Pak Menteri, pasti senang. “Saat ini prioritas kita adalah pembentukan tim nasional. Mari kita bangun sepak bola negeri ini,” kata Andi setelah rombongan Nurdin Halid meninggalkan kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Perjalanan tim nasional Indonesia dulu begitu fenomenal karena, di sepanjang 1970-an, kita sudah memiliki tim yang ditakuti. Di berbagai turnamen besar di Asia, President Cup Seoul, King’s Cup Bangkok, Merdeka Games Kuala Lumpur, Pesta Sukan Singapura, dan Piala Kemerdekaan Jakarta, kita sudah merasakan gelar juara. Waktu itu tim nasional Korea Selatan, Jepang, Cina, Arab Saudi, dan Iran adalah tim-tim yang belum bisa mengalahkan Indonesia. Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura pun belum ada apa-apanya.

Keindahan-keindahan ini diawali ketika tim nasional menjadi semifinalis Asian Games 1954 di Manila, Filipina; meraih perunggu di Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang; dan semifinalis Asian Games Seoul 1986. Indonesia nyaris menembus Olimpiade Montreal pada 1976 sebelum dihentikan Korea Selatan lewat drama adu penalti, yang kisah perjuangan Andjas Asmara dan kawan-kawan masih dikenang hingga kini. Tim nasional Indonesia, di bawah komando Sinyo Aliandoe, menempati juara Sub-Grup III Asia untuk Piala Dunia Meksiko 1986.

Begitu indah dan pantas dikenang. Tapi kini tim nasional kita bukan lagi tim yang ditakuti. Di Asia Tenggara, kita hanya punya modal dua kali gelar juara di SEA Games Jakarta 1987 dan SEA Games Manila 1991. Selebihnya kita sudah jadi pecundang. Kita sudah di belakang Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Dan, jangan-jangan di SEA Games Laos, Desember nanti, tuan rumah bisa mengalahkan kita.

Indonesia tidak lagi bisa bicara di tingkat mana pun. Dalam skala yang lebih kecil, di tingkat Asia Tenggara, dalam tujuh kali penyelenggaraan Piala AFF (sebelumnya Piala Tiger) sejak 1996, tim nasional belum pernah jadi juara.

Kini, ketika tim nasional masih berkutat di Asia Tenggara, masih pantaskah kita bicara tingkat dunia? Masih adakah mimpi itu di sana?

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 8 Nopember 2009, Ilustrasi Yuyun Nurachman)