Yon Moeis
Wartawan Tempo

Wanita separuh baya itu terlihat cemas ketika mendengar kabar tak sedap dari Asuncion, ibu kota Paraguay. Dia cemas serta ketakutan akan nasib Andri Muliadi–juga 29 anak-anak Aceh yang lain–dan cita-cita anaknya menjadi pemain sepak bola nasional kandas lantaran mengalami trauma yang berkepanjangan.

“Kami khawatir setelah mereka pulang dari Paraguay, saat melihat bola, malah tertawa karena stres,” kata Dewi, ibu Andri, kepada The Globe Journal di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, awal November lalu.

Kecemasan Dewi sangat beralasan. Andri bersama kawan-kawannya yang rata-rata belum berusia 15 tahun harus dideportasi lantaran tersangkut izin tinggal dan pada akhir Oktober lalu. Mereka dikabarkan terlibat insiden pemukulan oleh kepolisian setempat.

Akibat semua ini, obsesi Gubernur Aceh Irwandi Yusuf membentuk tim nasional dari Aceh terancam berantakan. Proyek tiga tahun yang dimulai pada 9 Agustus 2008 dan bekerja sama dengan Nelson Leon Sanchez, pemilik Management Sanchez Goal, itu bisa terhenti.

Saya tidak mencurigai proyek ini sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Membentuk tim nasional–orang Aceh menyebutnya tim nasional Aceh–dari negara yang bermakna “air yang mengalir ke samudra” itu mengalir tak menentu, dan tidak ada yang salah dalam proyek ini. Proyek yang menelan biaya Rp 9 miliar setiap tahun ini lebih tepat disebut sebagai bentuk kerinduan terhadap tim nasional kita, yang belum juga memberikan kesejukan.

Kerinduan itu terlihat ketika anak-anak Indonesia, setelah dua tahun berlatih di Uruguay, yang kini tampil di babak penyisihan grup Piala Asia U-19 di Stadion Jalak Harupat, Soreang. Kabupaten Bandung, tidak memberikan kesejukan seperti kerinduan yang belum terjawab itu.

Bukan lantaran kekalahan 0-1 oleh Singapura dan digunduli Jepang 0-7 sebelum meraih kemenangan 6-0 atas Taiwan, yang memunculkan polemik. Namun, proyek pengiriman pemain berlatih ke luar negeri kembali dipertanyakan. Bukankah kompetisi sebagai satu-satunya jalan yang harus dilalui dan pas dalam membentuk tim nasional yang tangguh?

Perjalanan sepak bola Indonesia tidak menjadi berwarna ketika melihat kembali proyek pengiriman pemain ke luar negeri. Saya pernah menanyakan hal ini kepada Nirwan D. Bakrie ketika dia berencana mengirim 20 anak-anak Indonesia berlatih ke kota kecil bernama Tavarone di Genoa, Italia, dengan nama Primavera pada awal Juli 1993.

Dia mengatakan proyek ini bukan untuk membentuk tim, melainkan diharapkan memunculkan satu atau dua pemain yang bermain di Eropa. Ini terbukti ketika Kurniawan Dwi Julianto dan Kurnia Sandi dititipkan ke Sampdoria sebelum Ade–panggilan Kurniawan–bermain untuk FC Lucern di Liga Swiss serta Bima Sakti bermain untuk Helsingborg, klub di Swedia.

Nirwan memberikan jawaban yang sama ketika dia berencana mengirim pemain ke Uruguay pada akhir 2007. “Saya ingin ada satu atau dua pemain yang bermain di klub-klub Amerika Latin,” katanya.

Saya menunggu dan berharap apa yang dikatakan Nirwan. Pengiriman pemain ke Uruguay–Uruguay berasal dari bahasa Guarani dari Paraguay yang berarti “sungai burung-burung yang dilukis”–bukan dalam rangka membentuk tim. Namun, jika itu semua dibelokkan–anak-anak itu bergabung dalam satu tim dengan nama tim nasional U-19–pasti ada yang salah karena mereka kelak harus menjadi burung dan terbang ke mana-mana.

Tim nasional Aceh adalah tim nasional kita juga. Jika ada yang salah dalam proyek pengiriman pemain ke Paraguay, dan ke Uruguay, lebih baik dihentikan saja sehingga tak memunculkan kecemasan dan ketakutan. Dalam membentuk tim (nasional) yang tangguh, tidak ada cara selain lewat kompetisi.

(Koran Tempo, Minggu, 15 Nopember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)