Yon Moeis
Wartawan Tempo

Satu menit bisa jadi berarti bagi Ricardo Gelael, setidaknya ketika dia sedang berlomba di lintasan reli. Juara nasional 2006 itu harus lebih lama menginjak pedal gas dalam-dalam dan tidak boleh kehilangan waktu, sekalipun hanya satu detik. Dia harus cepat, dan kecepatan itu pula tergambar ketika ada keinginan mengembalikan reli dunia seperti cerita lama yang terjadi 13 tahun silam. “Menggelar kembali kejuaraan dunia di Indonesia,” katanya.

Ricardo Gelael–lahir di Jakarta, 13 Januari 1959–sudah terbilang “habis” jika dia masih harus ngomong olahraga otomotif. Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang dan rekan-rekan seangkatannya sudah lama menghilang. Namun, semangat Kadok–begitu dia dipanggil–masih menyala. Dia ingin Indonesia kembali mendapat giliran menjadi tuan rumah reli dunia pada 2013, seperti yang terjadi pada 1996 dan 1997 di tanah perkebunan kelapa sawit dan karet Sumatera Utara. Dan, hari ini, di lintasan balapan Mandala Pratama Permai, Dawuan, Cikampek, dia mengawali semangat itu dengan menggelar reli junior, yang kelak bakal melahirkan pereli-pereli tangguh ketika generasi Rifat Sungkar sudah harus menepi.

Selasa dua pekan lalu, di kantornya, kami kembali ngobrol seputar reli. Sambil mengisap cerutu, Kadok menggambarkan keindahan-keindahan yang bakal kita raih. Dia tidak seperti sedang bermimpi dan semangat itu saya lihat ketika ada penilaian Ikatan Motor Indonesia (IMI) sudah mulai meredup. Pemegang otoritas olahraga otomotif itu sibuk sendiri, terkesan tidak punya cita-cita, apalagi obsesi, yang harus diwujudkan. Semangat ini pula yang saya lihat ketika Bloedus Management Indonesia, sebagai pemegang hak menggelar reli nasional, memperlihatkan tanda-tanda sudah kehabisan bensin. Selanjutnya Ricardo tidak memberikan jawaban pasti ketika saya katakan dia sedang dilanda kecemasan akan masa depan olahraga otomotif, khususnya reli.

Menggelar reli dunia di negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Approval dari Federation Internationale de I’Automobile (FIA), yang bermarkas di 8 Place de la Concorde, Paris, tidak bisa diperoleh seperti semudah mengurus kartu tanda penduduk di kelurahan. Ini semua dibutuhkan kerja keras dan kebersamaan. Jika Jeffrey J.P. , Direktur Bloedus, sudah memulai dan melangkah jauh, sejatinya dia mendapat dukungan. Jika Ricardo sudah bersemangat ingin terlibat, jangan biarkan semangat itu meleleh. IMI jangan diam saja.

Saya juga sangat merindukan reli dunia kembali ke Indonesia, seperti yang saya saksikan di daerah perkebunan di Sumatera Utara 13 tahun lalu. Waktu itu, pereli-pereli dunia, sebut saja Carlos Sainz (juara di Medan dan meninggalkan arena reli pada 2004 sebelum ikut reli Paris-Dakar), Colin McRae, Tommi Makinen (juara dunia 1996 dan 1999), Juha Kankkunen (juara dunia 1986, 1987, 1991, dan 1993), Richard Burns (orang Inggris pertama yang menjadi juara dunia pada 2001. Ia meninggal pada 25 November 2005 setelah beberapa hari koma akibat tumor otak), serta Possum Bourne (satu-satunya pereli profesional Selandia Baru. Dia meninggal pada 29 April 2003 setelah mengalami kecelakaan di arena Hill Climb di Cardrona Valley), berpacu dengan waktu. Di barisan pembalap nasional, tak ketinggalan Hutomo Mandala Putra, Ricardo Gelael, Okky Herwanto, Arief Indiarto, Tony Hardianto, dan Irvan Gading. Kehadiran mereka telah membuat Kota Medan, Parapat, dan kawasan Danau Toba menjadi berwarna.

Reli dunia yang digelar dua kali berturut-turut itu merupakan bagian dari cerita indah masa lalu ketika IMI berada di bawah komando Bob Rusli Efendi Nasution (menjadi ketua dua periode sejak 1995 hingga 2003). Saya merasakan suasana kebersamaan serta kecintaan terhadap olahraga otomotif, reli khususnya, yang telah membuka pintu lebar-lebar bagi FIA mengizinkan reli dunia digelar untuk pertama kalinya di tanah Sumatera 13 tahun lalu (Sumatera Utara sudah menggelar seri kejuaraan nasional sejak 1989). Sebuah kerja besar yang membuahkan prospek besar di kemudian hari.

Di daerah perkebunan Huta Tonga dan Aek Nauli di Parapat, sekitar 173 kilometer dari Kota Medan, dahulu saya menyaksikan sebuah lomba dengan kemasan dunia. Lomba berpacu dengan waktu itu juga mendapat sentuhan pakaian adat Sumatera Utara dan becak motor, yang sering kita lihat di Kota Pematangsiantar, kota yang berjarak 128 kilometer dari Medan dan menjadi kota perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Danau Toba.

Keindahan-keindahan itu harus kembali kita raih dan Ricardo Gelael tidak dalam membawa kita ke alam mimpi. Dia telah membuat langkah awal dengan menggelar arena reli bagi para junior di Cikampek, yang kelak melahirkan pereli-pereli tangguh dan bisa tampil ketika reli dunia kembali digelar di perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara seperti pada 1996 dan 1997.

(Koran Tempo, Minggu, 22 Nopember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)