Yon Moeis
Wartawan Tempo

Malam sudah jatuh di Manila. Lampu-lampu mulai dipadamkan ketika tim nasional meninggalkan Stadion Rizal Memorial. Anak-anak Indonesia baru saja mencatat sejarah meraih medali emas cabang sepak bola SEA Games 1991 setelah di final menghentikan Thailand lewat drama adu penalti. “Kami telah mengalahkan Thailand,” kata Eddy Harto, kiper tim nasional, sebelum meninggalkan stadion.

Eddy adalah kunci kemenangan tim nasional sekaligus yang membuat remuk hati para pemain Thailand, yang sudah menjadi raja di Asia Tenggara. Eddy pula yang membuat hati para pemain Indonesia, di antaranya Maman Suryaman, Widodo C. Putro, Ferril Raymond Hattu, Robby Darwis, Aji Santoso, dan Bambang Nurdiansyah, berbunga-bunga. Anatoly F. Polosin terlihat berdiri di sudut ruang ganti stadion, yang malam itu sangat hiruk-pikuk. Pelatih berdarah Rusia itu menyempatkan diri mengucapkan terima kasih kepada setiap pemain yang dia salami. Setelah itu Polosin dan Vladimir Urin, asistennya, lebih banyak diam.

Ini merupakan medali emas kedua tim nasional di SEA Games setelah SEA Games Jakarta pada 1987. Dan, ini menjadi malam terakhir pencapaian tertinggi sepak bola kita di arena pesta olahraga Asia Tenggara. Selebihnya, di sembilan kali SEA Games berikutnya, tim nasional tak mampu tampil di final. Bahkan, lebih parah lagi, Laos dan Burma sudah bisa mengalahkan Indonesia di SEA Games Laos, yang kini sedang berlangsung di Vientiane.

Malam di Stadion Rizal Memorial, terletak di Pablo Ocampo Street (sebelumnya dikenal sebagai Vito Cruz Street), Malate, Manila, begitu indah. Di stadion yang pernah menggelar konser The Beatles pada Juli 1966 itu semua terasa mudah. Polosin, Urin, dan Danurwindo telah berhasil meracik Eddy Harto dan kawan-kawan menjadi sebuah tim yang punya daya tahan lebih. Pada awal-awal kerjanya, Polosin lebih mengutamakan peningkatan stamina ketimbang taktik dan strategi. Sudah menjadi pemandangan biasa jika ada pemain yang menepi ke pinggir lapangan sambil menahan muntah.

Sepak bola, waktu itu, dikerjakan dengan penuh perhitungan, jelas, dan tidak diselimuti banyak proyek. Sebelum pergi ke Manila, tim nasional diterjunkan ke Piala Presiden di Korea Selatan dan Merdeka Games di Kuala Lumpur. Di Korea, tim nasional digebuk Malta 0-3, Korea Selatan 0-3, dan Mesir 0-6. Di Kuala Lumpur, Indonesia dibungkam klub asal Austria, Admira Wecker, 0-2; tim nasional U-23 Cina, 1-3; dan menang atas Malaysia 2-1.

Di Manila semua terasa mudah. Sebelum meraih medali emas, Eddy Harto dan kawan-kawan melibas Malaysia 2-0, menyikat Vietnam 1-0, menang atas Filipina 2-1, menyingkirkan Singapura 4-2 di semifinal (diperkuat David Lee dan Fandy Ahmad), dan mempermalukan Thailand 4-3 di final (diperkuat Natee Thongsookkaew dan Worawoot Srimaka). “Medali emas ini karena pemain sudah mau berlatih keras,” kata Polosin dengan bahasa Indonesia yang terputus-putus. Saya pun teringat teriakan lelaki berwajah kaku ini ketika dia mendampingi tim nasional berlatih di Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno). Kata Polosin, “Cipat… cipat… cipat…” (maksudnya cepat).

Kini, setelah 18 tahun berlalu, tim nasional sudah menjadi pecundang. Kekalahan oleh Laos dan Burma jangan dianggap sebagai peristiwa biasa. Sepak bola kita sudah berada di titik paling rendah.

Saya ikut menyaksikan ketika tim nasional dibantai Thailand 0-7 di semifinal SEA Games Bangkok 1985. Di kolong Stadion Nasional Bangkok, saya bertemu dengan Kardono (waktu itu Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) sedang marah ketika menyikapi pertanyaan wartawan yang setengah memintanya mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kekalahan tim nasional.

Kini pertanyaan itu sangat pantas saya ajukan kepada Nurdin Halid. “Apakah Anda berniat mundur dari Ketua Umum PSSI?” l YON MOEIS, Wartawan Tempo

(Koran Tempo, Minggu, 13 Desember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)