Yon Moeis
Wartawan Tempo

Suryo Agung Wibowo dan Sandow Weldemar Nasution membawa pulang suasana hati yang berbeda dari Vientiane. Berbunga-bunga dan remuk berkeping-keping. Namun, lepas dari apa yang mereka bawa pulang dari SEA Games Laos, yang berakhir Jumat lalu, keduanya sudah memberikan sesuatu untuk negeri ini. Di kaki Suryo, di tangan Sandow, dan juga di hati keduanya, harapan sudah digantungkan ketika olahraga Indonesia bangkit dari puing-puing reruntuhan.

Suryo adalah peraih emas lari 100 meter putra. Dia kembali menjadi manusia tercepat Asia Tenggara setelah menyelesaikan lomba, yang berlangsung 10,17 detik. Stadion Utama National Sport Complex seolah bergetar ketika dia memastikan diri sebagai raja di nomor paling bergengsi di lintasan atletik itu. Suryo terlihat mencibir dengan mengeluarkan setengah lidahnya. “Saya seperti baru saja mendapatkan emas berlian,” katanya.

Masih ada senyum di wajah Suryo ketika dia meninggalkan Vientiane. Namun senyum itu tidak terlihat di wajah Sandow. Anak lelaki Sori Enda Nasution–mantan lifter nasional–itu seperti tidak bisa berbuat apa-apa ketika gagal mempertahankan medali emas angkat besi yang ia raih di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima. Dia Laos, di hall Pornsawan Gymnasium, Sandow gagal melakukan angkatan snatch 140 kilogram, yang sebenarnya beban seberat itu sudah menjadi makanannya sehari-hari ketika berlatih di Senayan. “Saya minta maaf,” katanya.

Suryo dan Sandow membawa suasana hati yang berbeda dari Vientiane. Saya pun harus memahami ini semua karena keduanya sudah berjuang, dan perjuangan itu tidak boleh padam. Sungai Mekong boleh berhenti mengalir, Suryo boleh bersenang-senang, dan Sandow boleh kecewa, tapi semua itu tidak lantas membuat kita berhenti. Indonesia harus bangkit. Dan hasil di Laos, setelah duta-duta olahraga kita berjuang selama 10 hari, tidak lantas membuat kita menjadi kecil. Jika ada kekecewaan, itu harus menjadi titik awal untuk meraih yang lebih besar lagi.

Kekecewaan yang dirasakan Sandow saya rasakan pula ketika menjadi tamu dalam acara diskusi interaktif yang digelar radio Elshinta pada Jumat malam lalu. Saya pun tidak bisa membendung komentar-komentar pendengar, juga dari pesan singkat yang masuk, yang rata-rata mengungkapkan rasa kecewa atas hasil yang kita raih di Laos. Peringkat ketiga dengan perolehan 43 emas, 53 perak, dan 74 perunggu tak membuat banyak orang bahagia.

Dari acara yang berlangsung hampir satu jam tersebut, pendengar radio yang mengudara 24 jam itu rata-rata mempersoalkan pembinaan yang dilakukan. Peringkat ketiga boleh saja dikatakan sebagai sebuah keberhasilan karena target yang dicanangkan sudah tercapai. Tapi bukan itu persoalannya. Jika ngomong target, menurut saya, tentu saja target tersebut adalah nomor satu.

Saya tak ingin mempersoalkan Program Atlet Andalan (PAL) bikinan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault–Sandow Weldemar Nasution ada di dalamnya–sebagai bentuk pembinaan yang paling pas dan tepat guna. Ini harus kita lupakan. Andi Alifian Mallarangeng sebagai pengganti Adhyaksa harus pandai menerjemahkan keberlangsungan pembinaan yang terpadu jika masih ada yang berani ngomong bahwa keberhasilan mencapai target di Laos berkat PAL. Pembinaan harus diserahkan kepada tangan yang lebih tepat dan tidak dibungkus dalam satu proyek.

Oke, mari kita lupakan Laos. Namun bukan berarti kita pulang, lalu tidur. Di hadapan kita, pada November 2010, ada Asian Games Guangzhou. Berkaca pada keberhasilan dan kegagalan cabang-cabang yang bertanding di Laos, kita tidak bisa memaksakan diri memberangkatkan banyak cabang ke pesta olahraga Asia itu. Angkat besi, atletik, panahan, bola voli pantai, dan bulu tangkis, yang sudah memberikan angin segar di Laos, pantas dipertahankan. Setelah itu, harus diingat, pada 2011, kita sudah pasti menjadi tuan rumah SEA Games.

Saya agak terkejut ketika pendengar Elshinta membelokkan topik diskusi. Dari seputar kegagalan dan keberhasilan di Laos menjadi kegagalan tim nasional sepak bola. Saya mencoba memahami kekecewaan yang muncul ketika ada peserta mengatakan kegagalan ini lantaran Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia masih dipimpin seorang (mantan) koruptor. Dan Nurdin Halid disarankan mundur.

Sungai Mekong boleh berhenti mengalir, Suryo Agung boleh berbangga hati, dan Sandow boleh kecewa, tapi semua itu tidak lantas membuat kita berhenti.

(Koran Tempo, Minggu, 20 Desember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)