Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Hanya ada satu cara menghentikan lawan di ring tinju. Pukul roboh dan pertarungan pun selesai. Semangat ini pula yang bertahun-tahun tersimpan di dada Syamsul Anwar Harahap, termasuk ketika dia menghentikan petinju Amerika Serikat, Thomas “Hit Man” Hearns, di Piala Presiden, Jakarta, 1976. “Semua yang saya peroleh itu berkat latihan keras,” kata Syamsul ketika ada yang mengungkap kembali berbagai keberhasilan yang dia raih.

Syamsul adalah ikon tinju amatir Indonesia. Dia sudah naik ring 139 kali, 123 menang, 16 kalah, dan tidak pernah kalah KO. Petinju berjulukan “Bulldozer Ring” itu gantung sarung tinju pada 1983 setelah 14 tahun menjadi petinju. Prestasi yang sudah dia raih segudang. Kini dia menjadi pengamat, penulis, dan komentator tinju. Bak menari-nari di atas ring, begitulah Syamsul mengupas sebuah pertandingan. Analisisnya tajam, cermat, dan menyenangkan. Suara Bang Syamsul, begitu saya memanggilnya, berat dan dalam ketika mengomentari pertarungan tinju. Dia seperti sedang melayangkan berbagai pukulan ke muka lawannya.

Syamsul memang tak pernah jauh dari dunia tinju. Dan, dari dunia ini pula dia melengkapi hidupnya. Namanya pun melambung. Tapi semua yang melekat pada dirinya kini sudah meleleh. Dia bisa menjadi tidak berdaya ketika berada di samping “penumpang gelap” ketika mendampingi petinju-petinju Indonesia yang bertarung di SEA Games Laos, yang berakhir pada Jumat dua pekan lalu. Alih-alih membawa pulang medali emas, petinju kita yang bertarung di Olympasia Gymnasium, National University, di Vientiane, seperti kehilangan pegangan. Syamsul sebagai pelatih pun tidak bisa menjadi kekuatan bagi petinju yang berada di bawah komandonya.

Saya terkejut ketika mendengar yang dimaksud “penumpang gelap” itu adalah seseorang yang bekerja dan pekerjaannya sulit dipahami orang lain. Wajah M.F. Siregar seketika berubah ketika mendengar cerita ini. Teknokrat yang sudah terlalu sering bicara soal pentingnya penerapan teknologi dalam olahraga-kemarin dia mengatakan bahwa di Amerika, atlet bisa dibentuk sejak dalam kandungan ibunya–itu geleng-geleng kepala. Kami pun lebih banyak diam ketimbang terseret-seret ke dunia yang gelap gulita itu.

Di Laos, tinju Indonesia hanya kebagian tiga perak dan enam perunggu. Dari 15 medali emas yang tersedia, Thailand membawa pulang tujuh, Filipina lima, dan Laos satu. Jika tidak membawa pulang medali emas, berarti gagal. Saya tidak akan mengaitkan kegagalan itu dengan sesuatu yang bersifat gaib, yang sudah dibawa-bawa ke ring tinju. Saya lebih memilih bersikap realistis, karena sejarah tinju Indonesia di SEA Games tidak bisa dikatakan buram. Di SEA Games Kuala Lumpur pada 1977, misalnya, lima medali emas dibawa pulang Syamsul Anwar Harahap, Johny Riberu, Wiem Gomes, Benny Maniani, dan Krismanto.

Johny Riberu adalah mantan petinju nasional yang tidak percaya pada sesuatu di luar kemampuan pukulan petinju. Dia sangat percaya bahwa Ellyas Pical memiliki pukulan yang mematikan dan tidak perlu bantuan mbah dukun. Yang dibutuhkan Johny, juga Pical, menjelang pertarungan mempertahankan gelar juara petinju kelahiran Saparua itu melawan Ki Cham-kim, petinju Korea Selatan, 4 September 1988, di Surabaya, itu adalah doa. “Arena para petinju berada jauh di atas tanah,” kata Johny, pelatih Pical. Saya pun cepat-cepat menangkap apa yang dia maksud.

Pino Bahari adalah petinju yang dipersiapkan sejak kecil oleh Daniel Bahari, ayahnya. Buah dari gemblengan Daniel di Bali itu terlihat ketika Pino meraih medali emas Asian Games Beijing 1990 (dia tercatat sebagai petinju Indonesia kedua yang meraih emas setelah Wiem Gomes di Asian Games Bangkok 1970). Di final – saya yang berada tak jauh dari ring, tidak melihat ada yang aneh-aneh – Pino menghentikan petinju Mongolia, Altangeral Bandin. Lantas, adakah yang salah jika “penumpang gelap” yang ikut ke Laos itu dikaitkan dengan kiprah Syamsul Anwar Harahap, ikon tinju amatir itu?

Syamsul lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 1 Agustus 1952. Waktu kecil dia terserang polio, yang membuat tangan kanannya mengecil. Tapi Tuhan berkehendak lain. Syamsul pun menjelma menjadi petinju besar dan ternama. Dia adalah peraih medali emas pesta sukan di Singapura 1971 dan 1975, emas Pakistan Open di Karachi (1976), peringkat ketiga Asia di Yokohama, Jepang (1975), juara Asia 1977, emas SEA Games Kuala Lumpur (1977), peringkat ketiga Prancis Terbuka 1979, 16 besar Olimpiade Montreal 1976, 16 besar Kejuaraan Dunia 1978 di Beograd, Yugoslavia, dan juara nasional (1971-1981).

Tidak ada yang salah jika melihat daftar prestasi yang dia raih. Ini merupakan perjalanan tinju Syamsul yang sangat indah. Tapi, jika dia melakukan sesuatu yang salah, dia harus saya ingatkan kembali bahwa dia pernah berkata, “Semua yang saya peroleh itu berkat latihan keras.”

(tulisan ini dimuat di Koran Tempo, Minggu, 27 Desember 2009, Ilustrasi Imam Yunni)