Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Solihin Jusuf Kalla bisa juga menjadi “sopir tembak”. Dia bergegas menuju area parkir Hotel Sahid Makassar. Dan, dalam hitungan menit, dia sudah membawa Kijang kapsul berwarna gelap itu pergi. “Kita ke Takalar,” katanya.

Takalar adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Letaknya sekitar 40 kilometer ke arah selatan dari Kota Makassar. Di sana terdapat perkebunan tebu, yang sejak 2002 dipakai sebagai arena reli nasional dan sudah lima kali menggelar reli Asia-Pasifik. Takalar diproyeksikan menjadi tuan rumah reli dunia pada 2011, yang digagas Bloedus Management Indonesia, promotor reli yang dipimpin Solihin.

Saya yang duduk di sebelahnya bisa melihat Solihin yang sesungguhnya dari cara dia menyetir mobil. Tidak banyak omong, mau mendengar, dan bekerja dalam waktu yang sudah diperhitungkan. Ihin, begitu dia biasa dipanggil, tidak merasa risi ketika saya – bersama rekan Lili Permana – menjelaskan fungsi dan peran media center yang tidak bisa diabaikan dalam setiap penyelenggaraan reli. Selebihnya–saya mengenal dia pada 2002 sebelum bapaknya menjadi wakil presiden–adalah Solihin yang lebih banyak diam tanpa mengurangi keseriusan yang melekat pada dirinya.

Keseriusan Solihin tak hanya terlihat ketika dia mendirikan Bloedus Management Indonesia pada 2003 bersama teman dan saudara-saudaranya, di antaranya Sadikin Aksa dan Jeffrey J.P., mantan navigator nasional. Tapi juga ketika Takalar diwacanakan menggelar reli tingkat dunia seperti yang pernah digelar di Sumatera Utara pada 1996 dan 1997.

Sementara Solihin lebih banyak diam, tidak demikian dengan Sadikin Aksa. Ikin, begitu saya memanggilnya, membeberkan kelanjutan rencana menggelar reli dunia di Takalar sebelum menghentikan sarapan paginya di Novotel Palembang Hotel, pertengahan Desember lalu. “Jalan terus,” kata Sadikin. Kemudian Ikin bergegas menuju Desa Mainan di Banyuasin, untuk menyelesaikan lomba dalam Rally Sriwijaya sebagai putaran terakhir seri nasional musim 2009.

“Jalan terus” yang dikatakan Sadikin menjadi satu-satunya pilihan ketika rencana itu sudah bergulir menjadi polemik yang berkepanjangan. Bahkan, ketika Ricardo Gelael, tokoh otomotif nasional, mengutarakan rencana serupa, yakni menggelar reli dunia di Sumatera Utara, dan dukungan kepada anak-anak Makassar itu mulai mengendur. Padahal Jeffrey J.P., ujung tombak Bloedus, sudah melangkah jauh. Mantan navigator Tommy Suharto itu sudah berurusan dengan Federation Internationale de I’Automobile (FIA), yang bermarkas di Place de la Concorde di Paris, Prancis. Fred Gallagher (observer FIA) dan Piero Sodano (delegasi FIA) dia datangkan ke Makassar. Jeffrey juga sudah menyerahkan rancangan bisnis kepada Simon Long, CEO International Sportsworld Communicators, global promotor yang ditunjuk FIA.

Takalar pun menjadi sasaran tembak. Ladang tebu dengan luas 5.333,45 hektare, yang suhu udaranya bisa mencapai 33,9 derajat Celsius ketika musim kemarau, itu dikatakan tidak bisa dijadikan arena adu cepat pereli-pereli dunia. Takalar membosankan, berdebu, dan tidak memiliki daya tarik. Karakter Takalar berbeda jauh dengan tanah perkebunan yang ada di Sumatera Utara.

Ini merupakan tantangan dan juga dilema. Solihin, Sadikin, Jeffrey, juga anak-anak Makassar yang tergabung dalam Bloedus Management Indonesia, tak cukup hanya mengatakan “jalan terus”. Mereka harus menjawab semua ini dengan menarik lebih banyak lagi dukungan dari luar Makassar dan membuat nyaman siapa pun, seperti saya menikmati perjalanan menuju Takalar bersama “sopir tembak” bernama Solihin Jusuf Kalla.

(Koran Tempo, Minggu, 3 Januari 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)