Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Benny Dolo ternyata tidak pernah bisa membuat senang banyak orang. Dia gagal dan tidak mampu menyatukan hati jutaan masyarakat sepak bola, yang berkeping-keping, ketika harapan sudah diletakkan di pundaknya. Alih-alih bertanggung jawab, Bendol–begitu dia biasa dipanggil–membuka persoalan lain. “Jika Anda bicara kegagalan, kekalahan Indonesia dari Laos (di SEA Games Laos 2009 di Vientiane) itu juga sebuah kegagalan besar,” katanya.

Seharusnya Benny tidak menyandarkan kegagalannya pada kegagalan orang lain. Langkah tim nasional terhenti. Oman telah membuyarkan mimpi kita untuk tampil di putaran final Piala Asia 2011 di Qatar. Markus Haris Maulana (sebelumnya Markus Horison Ririhina) seperti menyiram tinta merah dalam catatan karier Benny Dolo ketika kiper Arema Malang itu kebobolan dua gol. Dan satu gol yang dipersembahkan Boaz Salossa tidak cukup menyelamatkan sang arsitek.

Lewat seorang teman, saya mengenal Benny yang sesungguhnya. Arogan, emosional, meledak-ledak, dan dalam beberapa hal sulit diajak kompromi. Sambil menyeruput cappuccino coffee di D’Cafe di kawasan Senayan, teman yang sudah bertahun-tahun mengamati sepak bola Indonesia itu menyebut Benny sebagai manusia lemah ketika berada dalam tekanan. “Dia suka mengumbar emosi dan ini tentu saja bisa merugikan tim,” katanya.

Buat saya, itu semua tidak penting. Sejak awal, ketika dia menerima jabatan pelatih tim nasional pada Februari 2008, saya sudah menaruh harapan kepadanya. Saya berharap Benny mampu meracik pemain-pemain terbaik kita menjadi sebuah tim yang tidak hanya enak ditonton, tapi juga menjadi tim berkualitas. Tidak membawa kemarahan seperti yang dirasakan Hendri Mulyadi, yang nekat menerobos ke lapangan ketika partai Oman versus Indonesia masih berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Rabu malam lalu.

Benny “meraih” jabatan pelatih tim nasional dengan mudah ketika nama Rahmad Darmawan, pelatih Sriwijaya FC, disingkirkan. Namun kemudahan-kemudahan yang dia peroleh itu dengan mudah pula menjerumuskan dirinya. Dia berlindung dalam ungkapan “bola itu bundar” ketika banyak orang cemas akan nasib tim nasional. Kemudahan itu pulalah yang membuat Benny selalu menjadi orang yang kalah. Jadwal kompetisi yang padat, kurang uji coba ke luar negeri, dan gaji yang terlambat dibayar perlahan-lahan menggerus sosok Benny Dolo yang perkasa menjadi manusia tak berdaya.

Benny tidak bisa menjadi dirigen seperti yang dilakukan Sinyo Aliandoe saat mengarahkan anak-anak asuhnya memainkan musik berirama bak sebuah orkestra. Sinyo–bersama Bertje Matulapelwa dan Salmon Nasution–pandai benar meramu pasukannya menjadi serdadu yang menakutkan. Hermansyah, Ristomoyo, Didik Darmadi, Warta Kusuma, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, Marzuki Nyakmad, Noah Meriem, Zulkarnain Lubis, Herry Kiswanto, Ferrel Raymond Hattu, dan Dede Sulaiman ia jadikan kumpulan pemusik. Sinyo memang gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Tapi gelar juara Subgrup III Asia yang diraih tim nasional begitu fenomenal dan tidak bisa kita lupakan begitu saja.

Menyebut nama Sinyo, saya merasa berdosa jika tidak mengingat Bertje Matulapelwa (meninggal pada 9 Juli 2002 di Kendari, Sulawesi Tenggara, dalam usia 59 tahun). Dia adalah pelatih bertangan dingin yang membawa tim nasional menembus empat besar Asia di Asian Games Seoul 1986. Meski di semifinal kita dihancurkan Korea Selatan 0-5, sukses ini merupakan lanjutan sukses yang diraih Sinyo.

Sang Pendeta–Bertje menerima julukan ini karena berpenampilan tenang dan tidak pernah marah–melanjutkan prestasi tim nasional dengan perolehan medali emas SEA Games Jakarta 1987 sebagai emas pertama di pesta olahraga Asia Tenggara. Prestasi ini kemudian dilanjutkan Anatoly Polosin, pelatih berdarah Rusia, yang mengantar tim nasional meraih emas SEA Games Manila 1991.

Benny Dolo–lahir dengan nama Benny Selvianus Dolo di Manado, Sulawesi Utara, 22 September 1950–mengawali karier kepelatihan di UMS 80 pada 1984 sebelum menukangi UMS Amatir. Setelah itu, lelaki bertubuh gempal ini diboyong Rahim Soekasah ke Pelita Jaya. Dari sini nama Benny mulai moncer. Dia kemudian melatih Persita Tangerang, Persma Manado, balik lagi ke Tangerang, kemudian ke Malang (dua kali membawa Arema juara Copa musim 2005/2006 dan 2006/2007). Sebelum kembali menukangi tim nasional, Benny sempat singgah ke Persita, “rumah” lamanya di Tangerang dengan gelar juara Piala Jusuf di Makassar pada 2007. Benny pernah menjadi asisten pelatih Ivan Toplak ke SEA Games Singapura 1993 dan pelatih kepala SEA Games 2001 serta Pra-Piala Dunia 2002.

Sungguh catatan perjalanan yang membanggakan. Tapi mengapa Benny tidak pernah bisa membuat senang banyak orang? Mengapa dia tak mampu menyatukan hati jutaan masyarakat sepak bola, yang berkeping-keping itu? Ben, bukankah Anda sudah gagal?

(Koran Tempo, Minggu, 10 Januari 2009, Ilustrasi Imam Yunni)