Tag

,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Hujan yang mengguyur Jakarta pada akhir-akhir ini tidak akan pernah menghapus jejak sepatu Frans Sinatra Huwae. Dia adalah kapten tim nasional pelajar yang meraih gelar juara Asia 1984 di New Delhi, India, dan 1985 di Jakarta. “Sepak bola telah membawa saya ke mana-mana,” kata Frans.

Frans adalah anak lelaki keluarga Huwae–lahir di Amuntai, kota kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, 30 Maret 1965–yang dibesarkan klub lokal Persinus Banjarmasin. Dia membela Kalimantan Selatan pada Popsi, yang membawanya masuk pendidikan dan pelatihan Indonesia bagian timur di Makassar, dan kemudian mengantarnya ke Sekolah Atlet Ragunan pada 1982.

Nama Frans kembali saya munculkan ketika Senin lalu bertemu dengan M.F. Siregar, salah satu pendiri Sekolah Atlet Ragunan. Bersama Ali Sadikin–waktu itu menjabat Gubernur DKI Jakarta–Siregar merancang sekolah khusus atlet andalan, yang diresmikan pada 15 Januari 1977. Frans, kata Siregar, adalah produk Ragunan yang tidak bisa dilupakan. Saya sudah lama tidak bertemu dengan Frans. Kabarnya, dia kini sudah menjadi pengusaha, setelah sebelumnya mencoba peruntungan di dunia usaha tambang nikel di Mandiangin, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Frans kembali saya ingat ketika muncul wacana naturalisasi dalam rangka membentuk tim nasional. Langkah ini, tentu saja, memunculkan berbagai komentar yang lebih banyak berisi caci maki. Pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing ini dinilai konyol. Betapa seorang Nurdin Halid sebagai orang nomor satu di organisasi sepak bola nasional sudah seperti kehilangan akal ketika prestasi tim nasional semakin meredup.

Saya tak akan bersikeras untuk mengatakan tidak setuju dengan langkah ini. Siapa pun tidak akan mampu menahan dan menghalang-halangi ketika proyek ini sudah digarap pada 2006 dan menguap begitu saja. Enam pemain asal Brasil–dititipkan di Makassar–yang akan dinaturalisasi itu dipulangkan lantaran saya menduga “mainan” pengurus teras PSSI dengan agen pemain – yang mendatangkan pemain-pemain belia dari negeri sepak bola itu – tidak mencapai kesepakatan.

Soal yang satu ini terpaksa saya berteriak. Naturalisasi adalah pewarganegaraan yang diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yang ditetapkan dalam perundangan-undangan. Jadi tidak bisa dikerjakan oleh calo. Apalagi sebuah tim – entah bentukan siapa – yang bekerja berdasarkan azas manfaat, yang pada akhirnya terbuang percuma.

Naturalisasi bisa dikatakan sebagai jalan pintas ketika tidak ada lagi cara yang bisa ditempuh. Jika Nurdin akan melakukan ini, silakan saja. Toh, proyek-proyek yang pernah ada, seperti Garuda (1984), Primavera (1994), Heerenveen, Belanda (2006), serta Uruguay (2007), tetap berjalan dan tidak akan bermasalah jika semua proyek ini tak menghasilkan apa-apa.

Siregar tidak tertarik ketika saya mencoba melempar isu pemberian kewarganegaraan ini. Dia lebih suka saya mengenang kehebatan anak-anak Ragunan ketimbang membicarakan mimpi-mimpi yang tidak pasti itu.

Frans Sinatra adalah salah satu produk naturalisasi Ragunan. Bersama Bonggo Pribadi (Surabaya), Noah Marien (Manokwari), I Made Pasek Wijaya (Karangasem, Bali), Theodorus Rudolf Bitbit (Papua), Yudi Guntara (Bandung), Sudana Sukri (Lampung), Budiman Yunus (Aceh), Erwin Yoyo (Makassar), dan sepuluh pemain lain yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air, bersatu menjadi satu kekuatan.

Mereka adalah pemain-pemain terbaik–tanpa harus melewati proses “naturalisasi”–yang didatangkan dari 10 pendidikan dan latihan sepak bola pelajar yang tersebar di seluruh Indonesia. Bukhard Pape (pelatih asal Jerman), Omo Suratmo, dan Maryoto meramu anak-anak negeri ini menjadi sebuah tim yang kelak pantas dikenang. Dua kali gelar juara Asia mereka raih, setelah sebelumnya tim nasional pelajar tampil di empat kali kejuaraan sejak 1980 di Bangkok. Perjalanan mereka tidak berakhir di sini. Frans dan kawan-kawan bertebaran di sejumlah klub dan memperkuat tim nasional senior.

Ini merupakan cerita manis yang ditorehkan anak-anak Indonesia dalam sejarah sepak bola Indonesia. Prestasi yang mereka raih tentu saja tidak diyakini sebagai proyek jalan pintas. Semua berawal dari proyek pencarian pemain-pemain berbakat yang digarap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia bersama dengan Departemen P dan K (kini bernama Kementerian Pendidikan Nasional) pada 16 Februari 1979. Satu fondasi pembinaan sepak bola sudah dibangun di Ragunan.

Proyek ini sangat sederhana, tidak memunculkan kecurigaan, dan bisa diterima siapa pun. Bukhard Pape, yang didatangkan Siregar dari Jerman, tidak melihat ada pertentangan ketika kerja sama ini sudah berjalan. “PSSI dan Depdikbud (kini bernama Kementerian Pendidikan Nasional) satu kapal,” katanya.

Nurdin Halid, saya yakin, tidak akan tergoda dengan proyek ini. Dia lebih asyik merajut mimpi-mimpinya. Dia tidak akan pernah melihat jejak sepatu Frans Sinatra Huwae dan kawan-kawan, yang tidak akan pernah terhapuskan ketika Jumat lalu hujan mengguyur tanah di kawasan Ragunan.

(tulisan ini adalah bagian dari laporan khusus “Sekolah Atlet Ragunan” di Koran Tempo, Minggu, 17 Januari 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)