Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bambang Pamungkas tidak sedang hendak mencetak gol. Juga tidak ada setetes keringat pun yang jatuh dari tubuhnya. Dia telah mengambil sebagian waktunya untuk menulis pengalaman pribadi sekaligus unek-unek seputar tim nasional. “Saya menulis malam hari kalau ada ide yang menggugah pikiran,” katanya.

Menulis adalah kegemaran Bepe–demikian Bambang biasa disapa–yang lain. Dia mem-post tulisan-tulisannya di http://www.bambangpamungkas20.com. Tulisan terakhirnya berjudul “Bola Itu Berada di Tangan Kita” tertanggal 19 Januari 2010, yang saya sebut sebagai bentuk “perlawanan” striker tim nasional tersebut terhadap Nurdin Halid, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Indonesia, yang mengomentari kegagalan dan keterpurukan tim nasional.

“Kegagalan tim nasional Indonesia untuk lolos ke Piala Asia Qatar tahun depan jelas menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat sepak bola Indonesia,” kata Bambang membuka tulisannya. Kemudian dia mencatat pernyataan Nurdin, yang, menurut saya, merupakan pencarian kambing hitam. “Siapa pun pelatihnya, siapa pun Ketua BTN-nya, dan siapa pun direktur tekniknya, jika pemainnya masih seperti sekarang, maka Tim Nasional tidak akan pernah sukses.”

Saya menduga inilah yang membuat Bambang menulis sebagai ide yang menggugah pikirannya. Saya juga menduga dia pasti cemas. “Sebagai salah satu anggota tim, jujur, saya katakan saya cukup marah dan tersinggung,” tulis Bambang. Kemudian dalam akun Twitter-nya, dia menulis, “Bapak Nurdin Halid yang terhormat, alangkah lebih bijaksananya jika Bapak berbicara kepada pemain terlebih dahulu sebelum Bapak berbicara kepada media.” Selanjutnya, tulis Bambang lagi, “Andaikan kita punya Rooney, Lampard, Defoe, Gerrard, Cole, Beckham, Terry, & James, pasti namanya bukan lagi Timnas Indonesia, tetapi Timnas Inggris.”

Bambang Pamungkas adalah ikon tim nasional Indonesia, setidak-tidaknya bagi para penggemarnya. Dia tidak bisa disakiti. Dia harus dibela, seperti berbagai komentar pembelaan yang bermunculan menanggapi “Bambang Pamungkas yang Tak Henti Bermimpi” (Koran Tempo, 14 September 2008, dan http://www.yonmoeis.wordpress.com). Saya tidak mungkin menyakiti hati Bambang. Saya justru menghargai jika dia memilih tidak berteman dengan wartawan, teman-teman yang ikut membesarkan namanya. Kini Bambang bisa jadi sedang dihinggapi kegelisahan. Jika ini benar adanya, saya harus berada di belakang dia.

Saya tidak mengenal Bepe secara pribadi dan tidak berusaha mengenal dia lebih jauh. Saya mencoba memahami Bambang dari tulisan-tulisannya. Dia cerdik dan jujur dalam mengungkapkan isi hatinya. Dia tak malu mengatakan menumpang bus Raya Indah dari Terminal Salatiga menuju Lebak Bulus ketika mengawali karier sebagai pemain sepak bola profesional sepuluh tahun lalu. Waktu itu, dalam tulisannya, Bambang mengatakan mengenakan jam tangan Guess palsu.

Saya kembali membaca tulisan Bambang, “Serdadu dan Narapidana”, tertanggal 25 November 2009. Menurut Bambang, dia mengambil judul ini dari penggalan isi pidato Emmeline Pankhurst (1958-1928), tokoh suffrage yang lahir dan dibesarkan di Manchester, yang memperjuangkan hak politik setiap perempuan Inggris.

Hingga di sini, saya harus kembali mengakui kecerdasan yang ia miliki. Betapa Bambang, yang hanya seorang pemain sepak bola, pandai mengaitkan perjuangan Emmeline dengan perjuangannya membela negara di lapangan sepak bola. Dua arena yang berbeda, dari generasi yang sangat jauh dalam hitungan tahun, tapi dengan tujuan yang sama.

Dalam tulisan ini, dia mengungkapkan sisi humanis seorang pemain sepak bola. Dia menulis berbagai perasaan teman-temannya–Fitman Utina dan Ponaryo Astaman–yang telah membagi waktu untuk anak, istri, dan tim nasional. Dia melukiskan suasana hati Ponaryo, teman satu kamarnya, yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar kabar anaknya menderita demam tinggi. Waktu itu, tim nasional berada di Oman.

Saya terharu ketika Syaura Abana, anak bungsunya, tidak ingin ditinggal Bambang, yang harus bergabung dengan tim nasional. Syaura sempat bertanya, “Pipi mau ke mana…?” demikian ditulis Bambang, “Tanpa saya sadari mata saya pun berkaca-kaca, sambil memeluk Syaura saya berkata, ‘Iya, iya, Pipi nggak gol, Sayang’, dan Syaura pun menangis di pelukan saya.”

Saya mencoba mengaitkan sekaligus memahami isi dua judul tulisan Bambang–dia lahir di Getas, Kabupaten Semarang, 10 Juni 1980. Dia, tentu saja, tak ingin dipersalahkan seperti yang dia tulis, “Selama ini kita hanya mencari kambing hitam di setiap kegagalan, tanpa mau duduk bersama untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasinya.”

Bagian lain tulisannya adalah, “Persepakbolaan kita yang tak kunjung membaik adalah kesalahan kita bersama. Kesalahan Bambang Pamungkas (mewakili seluruh pemain di Indonesia), kesalahan Benny Dolo (mewakili seluruh jajaran pelatih di Indonesia), kesalahan Nurdin Halid (mewakili seluruh pengurus di Republik ini), dan juga kesalahan suporter di negeri ini.”

Saya seakan telah menjadi bodoh membaca tulisan-tulisan Bambang. Dan saya harus mengatakan, “Bambang, Anda adalah serdadu. Dia (Nurdin Halid) adalah (mantan) narapidana.”

(Koran Tempo, Minggu, 24 Januari 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)