Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Andi Alifian Mallarangeng dan Nurdin Halid ternyata tidak akan pernah bisa bersama dalam satu kapal, setidaknya ketika keduanya berbeda pandangan dalam menyikapi pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sementara Nurdin keukeuh menuntaskan mimpinya, Andi memilih bertahan, seperti yang pernah dia katakan, “Piala Dunia itu bukan agenda main-main.”

Tidak bisa berada dalam satu kapal terlihat dalam seratus hari kinerja Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, yang bisa jadi merupakan hari-hari yang tidak pasti bagi Nurdin. Andi sebagai wakil pemerintah belum juga memberikan dukungan kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, yang naga-naganya dukungan ini tak akan pernah diberikan.

Kondisi ini pulalah yang membuat saya semakin percaya bahwa tidak boleh ada dua matahari yang terbit di Makassar (Andi lahir di Makassar, Nurdin di Watampone). Tapi bukan karena itu pula Andi tak juga memberikan kepastian. Piala Dunia bukan agenda main-main dan tidak bisa dikerjakan oleh calo. Selembar kertas dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (waktu itu dijabat Aburizal Bakrie) tidak akan pernah bisa menjadi jaminan. Jika sejak awal pemerintah tidak mendukung, menurut saya, Nurdin lebih baik tidur dan mencari mimpi-mimpinya yang lain yang lebih indah selain bidding Piala Dunia 2022.

Semula saya cemas akan Andi. Dia tak akan pernah bisa memperbaiki keolahragaan nasional, yang sedang terpuruk, dan tidak akan pernah tahan menghadapi jalan pikiran pengurus PSSI. Ternyata saya salah menduga. M.F. Siregar pun bisa saya buat terkekeh-kekeh ketika saya katakan menteri yang sekarang jauh lebih jago dibanding dirinya. “Dia (Andi) mau mendengar. Dia sangat responsif,” kata Siregar.

Kecemasan itu pernah saya tuangkan dalam Surat untuk Andi Alifian Mallarangeng, “Pak Menteri, Jadilah Petinju Bertipe Slugger” (Koran Tempo, 25 Oktober 2009 dan http://www.yonmoeis.wordpress.com). Saya ibaratkan dia sebagai petinju dalam menyikapi berbagai masalah yang muncul di arena sepak bola nasional, sebut saja baku hantam antarpemain, keributan antarsuporter, wasit yang dinilai tidak becus memimpin pertandingan, pemain asing yang bertingkah, hingga keputusan-keputusan yang kontroversial, termasuk menyikapi mimpi-mimpi indah sebagian kecil pengurus teras PSSI, yang ingin menggelar Piala Dunia 2022 di Indonesia.

Andi ternyata jauh lebih cerdas dengan tipe slugger. Dia bisa bermain jarak dekat sebelum melayangkan pukulan-pukulan berkekuatan tinggi. Saya yakin dia disukai penonton karena pasti mengakhiri pertarungan dengan kemenangan KO. Petinju dengan gaya ini tidak banyak omong. Dia percaya diri dan sangat mengandalkan kekuatan pukulannya.

Senin lalu, di Hotel Mulia Jakarta, Andi bertemu dengan Nurdin dalam acara memperkenalkan trofi Piala Dunia 2010 kepada media, yang digagas Coca-Cola. Andi tampil dengan tipe petinju yang saya harapkan. Dia berulang kali menekankan bahwa Piala Dunia yang bakal digelar di Afrika Selatan, Juni mendatang, hendaknya memberi inspirasi bagi PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola nasional, untuk berfokus pada pencapaian prestasi tim nasional.

Nurdin–saya menduga dia tampil dengan gaya fighter, yang sesekali mencoba menekan lawan–menguraikan program bidding sekaligus menegaskan bahwa PSSI tidak akan mundur dari pencalonan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Ketika ada wartawan yang menanyakan soal perbedaan pandangan antara Menegpora dan Ketua Umum PSSI, Andi tidak menanggapi penilaian itu secara langsung. Dia pun, seketika, terlihat seperti sedang melayangkan hook ke arah muka Nurdin.

Ketika masih menjadi juru bicara presiden, Andi sudah mengisyaratkan bahwa Istana tak akan memberikan dukungan terhadap megaproyek itu. Dalam pertemuan di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada akhir Desember tahun lalu, Andi mengatakan pemerintah sangat menghargai upaya PSSI. Namun pemerintah melihat, proses bidding Piala Dunia itu sangat berat dilakukan saat ini, terlebih lagi prestasi tim sepak bola Indonesia tengah terpuruk.

Andi dan Nurdin memang tak akan pernah bisa berada dalam satu kapal. Namun, jika Nurdin tetap ngotot ingin berlayar, biarlah dia pergi dan pasti tidak akan pernah kembali.

(Koran Tempo, Minggu, 31 Januari 2010, Ilustrasi Yuyun Nurachman)