Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bambang Nurdiansyah tidak akan pernah bisa melupakan Arema Malang. Dia datang dan pergi serta menyimpan kenangan di sana. “Gue seperti pulang ke rumah,” kata Bambang ketika menerima tawaran menjadi pelatih klub kesayangan masyarakat Malang itu.

Mantan striker tim nasional itu–dia lahir di Banjarmasin, 28 Desember 1959, dan menjalani masa kanak-kanak di Malang–memang hanya sebentar di kota orang tuanya tersebut. Dia pergi lantaran tidak tahan menerima tekanan Aremania, suporter Arema, akibat penampilan buruk pasukannya di awal kompetisi Liga Super, yang untuk pertama kalinya digelar pada 2008.

Dia tentu saja tidak akan pernah menyesal. Bambang kembali sekaligus meninggalkan “rumah”-nya seperti ketika dia memperkuat Arema pada kompetisi Galatama 1988/1989. Waktu itu Acub Zaenal, Ketua Galatama, yang juga pemilik Arema, meminjam Bambang dari Pelita Jaya, klub milik Nirwan D. Bakrie. “Gue dipinjam untuk mengangkat Arema,” kata Bambang. Waktu itu Manajer Arema adalah Lucky Acub Zaenal. Sejak itu, Arema Malang tidak hanya diperhitungkan klub-klub lain, tapi juga pertandingannya mulai dibanjiri penonton.

Arema Malang (kini Arema Indonesia) adalah klub dengan sejarah panjang. Arema dilahirkan oleh Acub Zaenal pada 11 Agustus 1987 dengan semangat tidak hanya mengembangkan persepakbolaan di Malang, tapi juga menyatukan orang Malang.

Arema kemudian tumbuh menjadi klub besar. Arema menjadi kuat untuk dicintai dan hingga kini masih saja membetot emosi pendukungnya. Namun
Arema bisa menjadi lemah ketika konflik di lingkup internal menggerogoti. Dan, jika ini sudah terjadi, siapa pun bisa masuk dan pergi seperti yang terjadi pada musim kompetisi 2003. Waktu itu, Arema, yang bertanding di Divisi Utama, sedang mengalami kesulitan keuangan yang sangat parah dan berdampak pada prestasi tim. Juara Galatama 1992/1993 itu diyakini bakal terlempar ke jurang degradasi ke Divisi I.

Tiba-tiba saja muncul “dewa”, yang menawarkan upaya penyelamatan agar Singo Edan, julukan Arema, tetap bertahan di Divisi Utama. Ide ini disambut. Pembicaraan pun digelar di sebuah hotel kecil dan dilanjutkan di hotel bintang di Jakarta. Strategi dipasang setelah disepakati angka Rp 700 juta. Penawaran orang pertama ditolak lantaran angka Rp 1,5 miliar dianggap terlalu tinggi.

Selembar kertas dikirim ke Malang berjudul “Strategi Meloloskan Arema dari Zona Degradasi”. Poin yang harus diraih Arema untuk keluar dari zona merah ini adalah 50 ke atas. Hingga pertandingan ke-30, Arema baru mengemas 29 poin dan masih membutuhkan 21 poin lagi, yang dipetik dari delapan partai Arema dengan asumsi 4 kali menang kandang ditambah 3 kemenangan tandang dan sekali kalah.

Sudah cukup amankah Arema dengan hitungan-hitungan ini? Ternyata tidak. “Panitia” kecil juga harus memperhatikan 12 partai di luar pertandingan Arema sebagai acuan untuk mengamankan nilai yang sudah diperoleh Arema sebelumnya. Dua belas partai ini tidak mutlak seperti yang terdaftar, tapi sangat bergantung pada urutan-urutan tim dalam klasemen, dan baru kemudian hasilnya ditentukan, tim mana yang harus kalah (dikalahkan) atau menang (dimenangkan) atau cukup seri. Ini artinya, 20 pertandingan yang sudah terdaftar harus benar-benar digarap. Luar biasa. Sebuah proyek yang dikerjakan dengan sangat sempurna.

Lantas siapa yang menjalani semua ini? Tentu saja sebuah tim yang digerakkan dari Jakarta setelah ada kesepakatan pembagian. Dari angka Rp 700 juta, Rp 500 juta diambil untuk “menyiram” 20 pertandingan dengan asumsi setiap partai nilainya Rp 25 juta. Sedangkan Rp 200 juta, ya, untuk “dewa” penyelamat itu.

Angka-angka ini sangat realistis. Apalagi waktu itu honor wasit hanya berkisar Rp 500 ribu untuk satu kali pertandingan sebelum dinaikkan menjadi Rp 1,5 juta pada musim kompetisi 2004. Pada musim-musim sebelumnya, lebih parah, wasit hanya dibayar Rp 70 ribu (tengah), Rp 50 ribu (asisten wasit), dan Rp 40 ribu (cadangan).

Semua rencana yang sudah tersusun rapi ini menjadi tiba-tiba menjadi berantakan. Manajemen – saya mendengar ada perdebatan panjang di Malang – memutuskan bahwa Arema tidak perlu diselamatkan. Dan, di akhir kompetisi 2003, Arema Malang–klub kesayangan masyarakat Malang, yang juga rumah bagi Bambang Nurdiansyah–akhirnya benar-benar terperosok ke jurang degradasi.

Cerita yang saya simpan selama tujuh tahun ini tentu saja tak akan pernah berakhir. Jika cerita ini harus berakhir, pasti ada cerita yang lain, yang dikemas lebih cantik. Apalagi Nurdin Halid, sebagai orang nomor satu di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, sudah mengisyaratkan bahwa praktek-praktek mafia sudah semakin menjamur di dalam sepak bola kita.

Buat saya, pengakuan Nurdin ini sangat tidak populer. Ini sama saja dia membenarkan bahwa di rumahnya ada banyak tikus, yang sejatinya tidak sulit ia bunuh jika dia mau.

(Koran Tempo, Minggu, 7 Februari 2010)